Palangka Raya, SAWIT INDONESIA — Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan KP) Kabupaten Kotawaringin Timur, Yephi Hartady Periyanto, S.T., mengingatkan para petani sawit agar tidak cepat berpuas diri dengan capaian saat ini. Menurutnya, peningkatan kapasitas dan keberanian keluar dari zona nyaman menjadi kunci agar petani sawit rakyat bisa naik kelas dan lebih berdaya saing.
Pesan itu disampaikan Yephi saat menutup pelatihan petani sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang diselenggarakan AKPY dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan di Palangka Raya, Selasa (23/6/2026).
Dalam program tersebut, sebanyak 237 peserta asal Kabupaten Kotawaringin Timur turut ambil bagian, terdiri dari petani sawit, penyuluh, serta aparatur sipil negara (ASN) yang membidangi sektor kelapa sawit. Keterlibatan lintas unsur ini diharapkan mampu memperkuat transfer pengetahuan sekaligus mempercepat penerapan praktik budidaya sawit yang lebih baik di tingkat lapangan.
Dalam sambutannya, Yephi menegaskan bahwa pelatihan selama sepekan bukan sekadar transfer pengetahuan teknis, tetapi juga proses membangun pola pikir dan mentalitas petani profesional.
“Pendidikan yang berkualitas bukan hanya memaksa kita berpikir, tapi juga menyentuh hati dan jiwa. Dari yang saya lihat, teman-teman menikmati proses ini dengan sepenuh hati. Itu tanda ada semangat untuk naik level,” ujarnya.
Menurutnya, perubahan level seorang petani dimulai dari kesadaran untuk terus belajar. Dari tidak tahu menjadi tahu, lalu berkembang menjadi lebih terampil melalui pengalaman, evaluasi, dan perbaikan yang berkelanjutan.
Ia menekankan, sepulang dari pelatihan, para peserta harus mampu membawa perubahan nyata di kebun masing-masing, baik dari sisi produktivitas, kualitas, maupun pengelolaan usaha tani.
“Jangan hanya bangga bisa bersaing dengan yang ada di sekitar kita. Kalau mau maju, ukur diri dengan standar yang lebih tinggi. Sawit kita harus punya daya saing, kualitas, dan nilai tambah,” tegasnya.
Yephi juga mengingatkan bahwa harga Tandan Buah Segar (TBS) yang diterima petani saat ini bukanlah titik akhir. Menurutnya, petani harus mulai berpikir lebih jauh tentang bagaimana meningkatkan kualitas hasil panen agar bisa memperoleh harga yang lebih baik.
“Rp3.500 atau Rp3.900 itu bukan batas akhir pencapaian. Petani harus bertanya, apakah kualitas sawit yang dihasilkan sudah cukup untuk dihargai lebih tinggi?” katanya.
Selain penguatan kapasitas teknis, Yephi menyoroti pentingnya memperkuat kelembagaan petani, mulai dari kelompok tani, gapoktan, hingga koperasi. Ia menilai kekuatan kolektif menjadi kunci agar petani lebih mudah mengakses program pemerintah maupun skema sertifikasi berkelanjutan.
Dalam kesempatan itu, Yephi juga mengungkapkan rencana insentif daerah bagi petani yang berhasil menerbitkan Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB). Salah satu bentuk apresiasi yang tengah didorong adalah bantuan pupuk bagi petani yang tertib administrasi.
“Saya punya mimpi, nanti petani yang berhasil punya STDB bisa mendapat reward, misalnya pupuk. Ini masih rencana, tapi sedang kami dorong agar bisa didukung pemerintah daerah,” ungkapnya.
Menurut Yephi, STDB merupakan pintu masuk strategis bagi petani untuk membuka akses lebih luas terhadap bantuan sarana-prasarana, program peningkatan produktivitas, hingga peluang pengembangan industri hilir skala kecil.
Menutup sambutannya, ia kembali menegaskan bahwa kesejahteraan petani hanya bisa dicapai jika berani melampaui standar minimum dan terus bertumbuh.
“Aturan itu hanya batas minimum. Jangan berhenti di situ. Kalau ingin lebih sejahtera, harus berani melampaui standar dan membuktikan bahwa sawit Kotim punya nilai lebih,” pungkasnya.














