Jakarta, SAWIT INDONESIA – Dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Asosiasi Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Perkebunan (ALPENBUN) memperkuat perannya sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan industri kelapa sawit melalui strategi penguatan link and match. Langkah ini dinilai menjadi fondasi penting dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) sawit yang kompeten, adaptif, dan siap memenuhi kebutuhan industri, terutama untuk mendukung percepatan hilirisasi kelapa sawit nasional.
Ketua Umum ALPENBUN, Dr. Sri Gunawan, S.P., M.P., menyampaikan bahwa tantangan industri sawit ke depan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga memastikan ketersediaan SDM yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
"Oleh sebab itu, ALPENBUN mengambil peran strategis sebagai wadah kolaborasi lembaga pendidikan dan pelatihan perkebunan untuk menyelaraskan sistem pendidikan dengan perkembangan industri," ujarnya.
Menurut Dr. Sri Gunawan, terdapat tiga strategi utama yang menjadi fokus ALPENBUN dalam mendukung pembangunan SDM perkebunan nasional.
Strategi pertama adalah penyelarasan kurikulum dan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) di seluruh lembaga pendidikan anggota ALPENBUN. Penyelarasan ini dilakukan agar materi pembelajaran mengikuti perkembangan teknologi, standar kompetensi industri, serta kebutuhan nyata sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit.
"Kurikulum tidak boleh berjalan sendiri. Materi pembelajaran harus terus diperbarui agar lulusan memiliki kompetensi yang benar-benar dibutuhkan industri. Karena itu, ALPENBUN mendorong harmonisasi kurikulum dan RPS antarperguruan tinggi serta lembaga pelatihan perkebunan," ujar Dr. Sri Gunawan pada sesi Talk Show Perisai 2026 di Jakarta, Selasa (21 Juli 2026).
Strategi kedua adalah menjembatani terwujudnya link and match antara dunia pendidikan dan industri. Melalui kolaborasi tersebut, ALPENBUN mendorong penguatan program magang, praktik industri, riset bersama, teaching factory, hingga penyerapan lulusan oleh perusahaan perkebunan.
Dalam pemaparannya, ALPENBUN menempatkan kolaborasi dengan industri sebagai salah satu pilar utama pengembangan SDM melalui pelaksanaan magang dan praktik industri, riset dan inovasi bersama, pengembangan teaching factory, peningkatan penyerapan lulusan, serta penyusunan berbagai program kolaboratif antara kampus dan perusahaan.
Selain itu, ALPENBUN juga berperan sebagai wadah kolaborasi antarperguruan tinggi perkebunan untuk memperkuat standar kompetensi, mengembangkan kurikulum dan sertifikasi, membangun kemitraan strategis, serta meningkatkan kapasitas kelembagaan pendidikan.
Strategi ketiga adalah mewujudkan SDM sawit yang tangguh dan siap kerja. Menurut Dr. Sri Gunawan, penguatan kompetensi tidak hanya menyasar aspek teknis, tetapi juga kemampuan manajerial, literasi digital, inovasi, serta pembentukan karakter dan pola pikir profesional.
“Hal tersebut menjadi penting karena industri sawit Indonesia diperkirakan masih membutuhkan SDM dalam jumlah besar,” katanya.
Berdasarkan data yang dipaparkan ALPENBUN, luas perkebunan kelapa sawit Indonesia telah mencapai sekitar 16,38 juta hektare, dengan sekitar 41 persen atau 6,72 juta hektare dikelola oleh perkebunan rakyat. Dari luasan tersebut, sekitar 2,38 juta hektare tanaman telah memasuki usia 27–33 tahun dan memerlukan peremajaan sawit rakyat (PSR), sementara lebih dari 4 juta hektare masih membutuhkan intensifikasi. Kondisi tersebut akan meningkatkan kebutuhan tenaga profesional di sektor perkebunan pada masa mendatang.
Lebih lanjut, Dr. Sri Gunawan menjelaskan bahwa apabila peremajaan sawit rakyat terlambat dilakukan, produktivitas akan terus menurun akibat semakin banyaknya tanaman tua yang tidak produktif. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada produksi nasional, tetapi juga berpotensi menurunkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan persoalan sosial, hingga mengurangi kontribusi sektor sawit terhadap devisa negara.
Sebab itu, menurutnya, pembangunan SDM harus menjadi prioritas yang berjalan seiring dengan pengembangan industri sawit nasional.
"ALPENBUN hadir untuk memastikan pendidikan, pelatihan, dan industri berjalan dalam satu ekosistem. Ketika kurikulum selaras dengan kebutuhan industri dan kolaborasi semakin kuat, maka kita dapat menghasilkan SDM sawit yang unggul, tangguh, dan siap kerja untuk mendukung hilirisasi serta meningkatkan daya saing industri kelapa sawit Indonesia," tegas pria yang juga menjabat sebagai Direktur AKPY-STIPER, Lembaga Pendidikan Vokasi Sawit di Yogyakarta.
Melalui strategi tersebut, ALPENBUN menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, lembaga pelatihan, pemerintah, BPDP, dan pelaku industri dalam membangun SDM unggul yang mampu mendukung industri sawit berkelanjutan, meningkatkan daya saing global, sekaligus mewujudkan cita-cita "SDM Unggul, Sawit Maju, Indonesia Sejahtera."














