Bogor, SAWIT INDONESIA – Belum banyak yang tahu, dalam kurun waktu tiga tahun (2023 – 2025), ternyata PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) telah memiliki 29 produk riset unggulan yang siap diterapkan dan dikomersialisasi.
Apa yang telah dilakukan PT RPN menunjukkan perannya dalam mendukung hilirisasi perkebunan yang menjadi program dari pemerintah dalam meningkatkan nilai tambah dari sektor perkebunan. Dan, sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi.
Pada 2023-2025, tercatat 29 produk hasil riset unggulan yang sedang dalam proses inkubasi menuju komersialisasi di antaranya 15 produk pemuliaan dan bioteknologi tanaman seperti klon unggul kelapa sawit Nusaklon 1 dan 2, varietas tebu unggul PS 08 (081-084), klon kakao unggul Monika 01 dan 02, serta klon unggul karet IRR 309 dan IRR 310.
Lalu, ada 2 produk mekanisasi otomatisasi seperti Digiteks dan Digimost di komoditas karet. 3 produk pangan dan energi yakni minyak makan merah, specialty tea gambung dan teh hitam, 2 produk lingkungan, dekarbonisasi dan iklim yakni Vulkasol dan lead rubber bearing. 3 produk teknologi informasi dan IoT yakni e-hara, Nusaklim dan OPA (Oil Palm Assistant), serta 4 produk peningkatan produktivitas tanaman yakni Booster Max, Fertomax, Asam Humat dan Koalgulan Lateks.
"Selain 29 produk hasil riset yang sedang menuju komersialisasi, terdapat juga produk riset yang saat ini sedang dikembangkan oleh PT RPN, seperti Biodiesel B50, Palm Vision untuk mendeteksi dan mengklasifikasikan tandan, Rubber seal, Rubber Flooring, dan yang lainnya," ungkap Direktur PT RPN, Dr. Iman Yani Harahap, dalam konferensi pers di kantornya, di Bogor, pada Selasa (28 Oktober 2025).
Lebih lanjut, Dr. Iman mengatakan selain produk hasil riset, PT RPN dalam kurun waktu 2021-2025 telah menghasilkan 103 Hak Kekayaan Intelektual baik untuk paten, merek, dan PVT.
"Dan, mendukung penyusunan kebijakan dan strategi pengembangan industri perkebunan nasional, sejak tahun 2020-2025, dengan menerbitkan 31 judul naskah akademik di antaranya hilirisasi perkebunan, circular economy perkebunan, pemenuhan swasembada gula konsumsi melalui intensifikasi tahun 2028, pembentukan Badan Pengelola Dana komoditas pangan impor, swasembada pangan melalui tanaman sela padi gogo di lahan sawit, peran PT RPN untuk mendukung kemajuan agroindustri perkebunan Indonesia, dan lain-lain," katanya.
Hingga saat ini, PT RPN mengoperasikan beberapa pusat penelitian yang tersebar di Indonesia, di antaranya Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) – Medan, Sumatera Utara, Pusat Penelitian Karet (PPK) – Sembawa, Banyuasin, Sumatera Selatan, Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) – Gambung, Bandung Selatan, Jawa Barat, Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) – Pasuruan, Jawa Timur, dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI) – Jember, Jawa Timur.
Untuk operasional PT RPN didukung sumber daya manusia (SDM) 4.068 karyawan. Dengan rincian 612 karyawan dengan bidang tugas penelitian dengan jumlah peneliti sebanyak 274 dan penunjang peneliti 340, 2.399 karyawan di bidang produksi serta 1.057 karyawan supporting (data hingga September 2025).






