Bengkulu, SAWIT INDONESIA – Pelatihan petani kelapa sawit tidak selalu dilakukan melalui penyampaian materi di dalam kelas. Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) secara konsisten memadukan materi teknis dengan kegiatan ice breaking dan outbound dalam setiap pelatihan petani yang digelar.
Pendekatan tersebut kembali diterapkan dalam Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 di Bengkulu. Sebanyak 156 peserta dari Kabupaten Mukomuko dan Bengkulu Utara mengikuti pelatihan yang berlangsung pada 27 Agustus hingga 1 September 2026.
Program ini diselenggarakan AKPY dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).
Bagi AKPY, ice breaking dan outbound bukan sekadar kegiatan penyegar suasana. Keduanya menjadi bagian dari pendekatan pembelajaran untuk membangun interaksi, meningkatkan konsentrasi, serta mendorong peserta lebih aktif selama mengikuti pelatihan.
Ice breaking di setiap sesi
Ice breaking diberikan sejak awal pembelajaran dan kembali dilakukan sebelum setiap sesi dimulai.
Kegiatan tersebut dirancang untuk mencairkan suasana, membangun interaksi antarpeserta, sekaligus mengembalikan konsentrasi sebelum peserta menerima materi berikutnya.
CEO Ilalang Indonesia, Sistyoko, mengatakan pendekatan melalui permainan dapat membantu peserta lebih siap mengikuti proses pembelajaran.
Menurut dia, peserta memiliki latar belakang usia, pengalaman, dan karakter yang beragam. Perbedaan tersebut perlu dijembatani agar komunikasi selama pelatihan berlangsung lebih terbuka.
“Ice breaking bukan hanya untuk membuat suasana menjadi menyenangkan. Ada tujuan untuk membangun komunikasi, meningkatkan fokus, dan membuat peserta lebih siap menerima materi,” ujar Sistyoko (tyok) saat ditemui di sela-sela pelatihan di Bengkulu, Minggu (30/8/2026).
Ia menjelaskan, pola tersebut menjadi bagian yang terus digunakan dalam kegiatan pelatihan petani yang diselenggarakan AKPY.
Dengan demikian, peserta tidak hanya memperoleh penyegaran pada awal kegiatan, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk kembali membangun fokus dan interaksi setiap kali memasuki sesi pembelajaran baru.
Belajar melalui pengalaman
Selain ice breaking, outbound juga menjadi bagian dari pendekatan pembelajaran yang diterapkan AKPY dalam pelatihan petani.
Dalam kegiatan tersebut, peserta menghadapi berbagai tantangan kelompok yang membutuhkan komunikasi, kerja sama, pembagian peran, kepercayaan, hingga pengambilan keputusan.
Menurut Sistyoko, aktivitas tersebut dapat menjadi sarana bagi peserta untuk belajar berinteraksi dan menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.
Konsep tersebut dinilai relevan dengan aktivitas perkebunan kelapa sawit yang juga membutuhkan koordinasi, baik dalam pemeliharaan tanaman, panen, pengumpulan brondolan, maupun pengangkutan tandan buah segar (TBS).
Dengan pendekatan tersebut, permainan yang dilakukan peserta tidak berhenti sebagai kegiatan rekreatif. Nilai yang diperoleh dari aktivitas tersebut dapat dikaitkan dengan situasi nyata yang dihadapi petani dalam mengelola kebun.
Membangun suasana belajar
Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, mengatakan ice breaking dan outbound merupakan bagian dari upaya menciptakan proses pelatihan yang lebih partisipatif.
Menurut Dr. Idum, pendekatan tersebut diterapkan AKPY sebagai bagian dari upaya membangun suasana belajar yang memungkinkan peserta lebih aktif berkomunikasi dan berbagi pengalaman.
“Peserta harus merasa nyaman terlebih dahulu dalam proses belajar. Ketika suasana sudah cair, komunikasi lebih mudah dibangun dan peserta lebih berani menyampaikan pengalaman maupun persoalan yang mereka hadapi di kebun,” katanya.
Ia mengatakan pengalaman petani merupakan modal penting dalam proses pembelajaran. Namun, pengalaman tersebut perlu dipadukan dengan teori, pengetahuan teknis, dan praktik.
Sebab itu, pembelajaran tidak seharusnya hanya menempatkan peserta sebagai penerima materi. Peserta perlu diberi ruang untuk berdiskusi, bertukar pengalaman, dan membangun komunikasi dengan pekebun lain yang memiliki persoalan maupun pengalaman berbeda.
“Yang dibangun bukan hanya pengetahuan teknis, tetapi juga komunikasi dan kerja sama. Harapannya, setelah kembali ke daerah masing-masing, peserta dapat membawa pengetahuan sekaligus pengalaman belajar yang diperoleh selama pelatihan,” ujarnya.
Dikatakan Dr. Idum, pendekatan tersebut menjadi pelengkap materi teknis dalam Program Pengembangan SDMP 2026.
Peningkatan kompetensi petani, kata dia, pada akhirnya tidak hanya bergantung pada teknologi dan input produksi. Kemampuan sumber daya manusia dalam memahami dan menerapkan teknik pengelolaan kebun juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil sawit.






