Industri minyak sawit global menghadapi tantangan produksi yang berdampak kepada suplai di pasar global pada 2026. Dua analis terkemuka dunia, Dorab Mistry dan Thomas Mielke, memberi sinyal kuat bahwa harga minyak sawit berpotensi bullish dalam 12 bulan ke depan.
Dalam paparannya, Dorab Mistry, Director Godrej International Ltd, menegaskan tren produksi sawit global menunjukkan perlambatan serius. Meski Indonesia dan Malaysia masih menjadi pemasok utama dunia, produktivitas tidak menunjukkan perbaikan berarti.
“Dalam 12–14 bulan terakhir cuaca sangat ideal. Tanpa itu, produksi sawit sebenarnya tidak mungkin lebih tinggi,” kata Mistry saat berbicara di IPOC GAPKI pada awal November 2025.
Ia menambahkan, pertumbuhan produksi global 2025–2026 kemungkinan hanya maksimal 1,5 juta ton, jauh dari tren historis satu dekade sebelumnya.
Malaysia diperkirakan stagnan atau bahkan turun, sementara Indonesia bisa meningkat tipis. Namun penyitaan lahan dan ketidakpastian kepemilikan lahan sawit berpotensi menekan produktivitas.
“Begitu pemilik tahu lahannya disengketakan, investasi perawatan berhenti. Produksi akan turun dalam 2–3 bulan,” ujar Mistry.
Salah satu faktor terkuat yang akan menggerakkan harga sawit adalah kebijakan biodiesel Indonesia.
Mistry menilai program B40 berjalan sangat baik, sementara B50 diperkirakan baru dapat diterapkan secara penuh pada 2027. Jika dipaksakan lebih cepat, Indonesia berpotensi mengalami defisit pasokan sawit domestik.
Ia mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan pencabutan moratorium lahan sawit. Rencana pembukaan hingga 600.000 hektare yang sebagian besar untuk kebun plasma dinilai akan membantu menjaga stabilitas pasokan global.
Dua Skenario yang Bisa Meledakkan Harga
Menurut Mistry, harga minyak sawit berpotensi menguat tajam pada Januari–Februari 2026, terutama jika Indonesia melakukan penyesuaian DMO atau pembatasan ekspor.
“Pemerintah Indonesia selalu ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki kendali penuh terhadap ekspor. Setiap pengetatan DMO akan sangat bullish,” ungkapnya.
Faktornya lainnya Adalah kebijakan biodiesel AS memihak minyak kedelai domestik.
Jika EPA AS mencabut insentif feedstock impor seperti POME, UCO, atau tallow, maka seluruh kebutuhan biodiesel Amerika akan bertumpu pada minyak kedelai domestik — faktor yang akan mengangkat seluruh kompleks minyak nabati.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 170)














