KUALA LUMPUR, SAWIT INDONESIA — Harga minyak sawit mentah (CPO) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Penurunan ini tertekan oleh koreksi harga minyak nabati pesaing di bursa Dalian dan Chicago, serta merosotnya harga minyak mentah dunia. Meski demikian, secara mingguan CPO masih mencatatkan kinerja positif.
Kontrak CPO acuan pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives Exchange terkoreksi 0,77 persen menjadi 4.898 ringgit Malaysia per metrik ton pada penutupan Jumat. Namun, sepanjang pekan lalu, kontrak tersebut menguat sebesar 1,74 persen.
Sejumlah faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga CPO meliputi:
Tekanan Minyak Pesaing: Kontrak minyak kedelai di Bursa Dalian melemah 1,57 persen dan minyak sawit turun 2,14 persen. Sementara itu, minyak kedelai di Chicago Board of Trade turun 0,77 persen. Pergerakan harga CPO umumnya mengekor dinamika minyak nabati lain demi mempertahankan daya saing di pasar global.
Dampak Harga Minyak Mentah: Harga minyak mentah dunia merosot 2 persen akibat meredanya kekhawatiran gangguan pasokan dari Arab Saudi. Penurunan harga minyak bumi membuat CPO menjadi kurang ekonomis sebagai bahan baku pembuatan biodiesel.
Sentimen Impor India: Pelaku pasar masih mencermati pengumuman resmi dari pemerintah India terkait potensi penurunan tarif impor yang berpeluang mengubah peta permintaan CPO Malaysia.
Di sisi lain, potensi keterbatasan pasokan membayangi prospek mendatang. Produksi CPO di Kalimantan—salah satu wilayah penghasil utama Indonesia, diproyeksikan bakal turun 12 hingga 15 persen pada kuartal IV-2026 akibat cuaca kering berkepanjangan serta dampak kebakaran lahan.
Sumber: idxchannel.com






