Paser, SAWIT INDONESIA – Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kabupaten Paser mengimbau para pekebun kelapa sawit untuk meningkatkan langkah mitigasi menghadapi dampak El Niño yang mulai dirasakan dalam satu bulan terakhir. Meski tanaman kelapa sawit tergolong lebih tahan terhadap kondisi kering dibandingkan komoditas lain, penurunan produksi tetap berpotensi terjadi apabila kekeringan berlangsung lebih lama.
Kepala Disbunnak Kabupaten Paser, Djoko Bawono, S.P, M.Si, mengatakan dampak El Niño diharapkan tidak terlalu signifikan terhadap perkebunan sawit di daerahnya. Namun, upaya antisipasi tetap perlu dilakukan sejak dini agar produktivitas kebun rakyat tetap terjaga.
"El Niño sebenarnya sudah mulai kita rasakan sekitar satu bulan terakhir. Mudah-mudahan dampaknya tidak terlalu signifikan. Sawit merupakan salah satu komoditas yang cukup tahan terhadap kondisi agak kering, tetapi tentu tetap ada potensi penurunan produksi yang perlu kita antisipasi," ujar Djoko, saat ditemui disela-sela kegiatan pembukaan pelatihan petani sawit ‘Kelas Panen dan Pascapanen’ program pengembangan SDM perkebunan (SDMP) 2026, di Balikpapan, pada Jum’at (17 Juli 2026).
Menurutnya, salah satu strategi penting adalah menjaga kawasan yang memiliki fungsi ekologis agar tetap mampu mempertahankan ketersediaan air di sekitar areal perkebunan. Karena itu, lahan-lahan yang memang tidak layak untuk kegiatan budidaya sebaiknya dipertahankan sebagai kawasan bernilai konservasi tinggi.
"Kita berharap lokasi-lokasi tertentu yang memang tidak boleh dilakukan aktivitas budidaya dijadikan kawasan bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV). Kawasan tersebut berfungsi menjaga ketersediaan air sehingga dapat membantu mendukung keberlanjutan perkebunan di sekitarnya," jelasnya.
Selain menjaga ketersediaan air, Disbunnak Paser juga terus mendorong upaya mempertahankan kesuburan tanah melalui penggunaan pupuk organik. Langkah ini dinilai tidak hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang harganya terus meningkat.
Djoko mengungkapkan harga pupuk anorganik di pasaran saat ini sudah mencapai sekitar Rp900 ribu per karung berukuran 50 kilogram. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pekebun dalam menjaga biaya produksi tetap efisien.
"Karena harga pupuk kimia cukup mahal, kami menganjurkan petani mulai menggunakan pupuk organik. Alhamdulillah sekarang sudah banyak petani sawit yang beralih secara bertahap menggunakan pupuk organik cair yang mereka produksi sendiri," ungkapnya.
Ia menambahkan, peralihan tersebut didukung melalui berbagai pelatihan yang difasilitasi Disbunnak Kabupaten Paser bersama sejumlah organisasi nonpemerintah (NGO). Melalui pendampingan tersebut, petani dibekali keterampilan membuat pupuk organik secara mandiri sehingga biaya pemupukan dapat ditekan tanpa mengurangi kualitas pemeliharaan tanaman.
"Petani kami sekarang sudah mulai pelan-pelan beralih menggunakan pupuk organik cair yang mereka produksi sendiri. Perubahan ini kami dorong melalui berbagai pelatihan yang difasilitasi dinas bersama teman-teman NGO. Harapannya, petani dapat menekan biaya pemupukan, menjaga kesuburan tanah, sekaligus tetap mempertahankan produktivitas kebun di tengah tantangan perubahan iklim," tutup Djoko.






