Jakarta, SAWIT INDONESIA – Sulit dipungkiri bahwa industri sawit adalah industri besar, baik dari sisi potensi maupun tantangannya. Tantangan itu bahkan terus membesar dan meluas. Sawit pun tak luput dituduh sebagai biang bencana sumatera selain badai siklon dan pembalakan liar.
Hal tersebut diungkapkan Ketua Bidang Pengembangan SDM, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Sumajono Saragih, Hal ini disampaikan saat berbicara dalam "Talk Show Hasil Penelitian KBS: Kondisi Buruh Sawit, Agrokimia dan K3" di Kementerian Tenaga Kerja RI - Jakarta, Selasa lalu (9 Desember 2025).
Namun, kata Sumarjono dengan segala stigma dan kontroversinya, sawit tidak boleh dibiarkan melemah apalagi “dihukum mati”. “Kehidupan dan perekonomian jutaan rakyat: petani, buruh, serta kontribusi besar bagi negara, sangat bergantung pada sawit. Pilihan paling waras dan rasional adalah menata dan memperbaiki,” katanya.
“Dalam kerangka itulah GAPKI, sebagai organisasi pengusaha sawit, terus mendorong dan mempromosikan berbagai upaya perbaikan berkelanjutan. Salah satu yang paling mendasar adalah peningkatan kualitas keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan pekerja,” imbuh pria yang karib disapa Bang Jon.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan hak dasar pekerja sekaligus prasyarat menuju kesejahteraan pekerja dan keluarganya. Karena itu, K3 tidak boleh sekadar menjadi kewajiban administratif, tetapi harus tumbuh sebagai budaya kerja dan menjadi bagian tak terpisahkan dari proses bisnis.
Penelitian Koalisi Buruh Sawit (KBS) menunjukkan masih adanya sejumlah pekerjaan rumah dalam penerapan K3 di sektor sawit. Salah satu yang paling mendesak adalah kepatuhan terhadap penggunaan bahan kimia secara bertanggung jawab, bukan hanya oleh perusahaan, tetapi juga oleh petani dan buruh tani. Penggunaan bahan kimia yang mengabaikan prosedur baku dapat menimbulkan dampak serius, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Resiko penyakit akibat kerja dapat menjadi beban berat, terutama di hari tua.
Sebab itu, GAPKI menyerukan gerakan K3 yang holistik: total safety, total healthy, dan total prosper. Pekerja harus selamat dan sehat—bukan hanya saat bekerja, tetapi juga di masa depan. Bahkan lebih dari itu, pekerja harus mampu hidup sejahtera dengan jaminan sosial yang memadai.
Sejumlah perusahaan anggota GAPKI telah memiliki praktik baik dalam penerapan K3 penggunaan bahan kimia. Praktik ini tengah dikompilasi untuk disusun menjadi buku panduan praktis K3 bahan kimia, yang akan digunakan sebagai bahan kampanye dan rujukan bersama agar penggunaan bahan kimia dilakukan secara tepat, aman, dan bertanggung jawab.
Panduan K3 bahan kimia ini akan disusun lengkap. Mulai dari proses penerimaan bahan kimia di gudang, tata cara penyimpanan yang benar, penggunaan yang aman di lapangan, hingga prosedur pembilasan alat dan diri pekerja sebelum kembali ke rumah. Seluruh tahapan tersebut harus dijalankan dengan disiplin, agar cita-cita “total safety, total healthy, dan total prosper” benar-benar terwujud.














