• Selasa, 6 Oktober 2026
Berita Terbaru

RPN-BPDP-Ditjenbun Perkuat Pekebun Simalungun, Produktivitas TBS Jadi Target

Medan, SAWIT INDONESIA — Produktivitas sawit rakyat di Kabupaten Simalungun masih tertinggal dari perkebunan perusahaan. Kebun rakyat rata-rata menghasilkan 12–15 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun, sementara perkebunan perusahaan dapat mencapai sekitar 24 ton TBS per hektare per tahun.

Kesenjangan ini menjadi perhatian Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS)–PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) melalui Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026.

Sebanyak 126 pekebun Simalungun mengikuti Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit pada 13–19 September 2026 di Medan. Selain pembelajaran di kelas, peserta akan mengikuti field trip ke Kebun Adolina PTPN IV Regional 2 untuk melihat langsung penerapan teknik budidaya dan pengelolaan kebun.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Simalungun, Jenri Saragih, mengatakan luas perkebunan sawit rakyat di daerahnya sekitar 38.905,5 hektare, dengan produksi mencapai 317.771 ton TBS.

Menurut Jenri, peningkatan produktivitas menjadi pilihan utama karena peluang perluasan areal semakin terbatas.

“Kita tidak bisa terus mengandalkan perluasan areal. Tantangannya sekarang adalah bagaimana kebun yang sudah ada bisa menghasilkan lebih tinggi. Produktivitas sawit rakyat masih jauh di bawah perkebunan perusahaan, dan kesenjangan inilah yang harus kita kejar melalui perbaikan budidaya dan penerapan teknologi,” katanya saat membuka pelatihan, Minggu (13/9/2026).

Ia mendorong pekebun menerapkan good agricultural practices (GAP), mulai dari penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pengendalian gulma, hama dan penyakit, pemeliharaan tanaman hingga panen yang tepat.

Jenri juga mengingatkan agar pelatihan tidak berhenti pada sertifikat. “Kalau pulang dari sini namun tidak mengubah cara teknis budidaya, yang kita dapat hanya cerita bahwa kita pernah menginap di Hotel Polonia. Tetapi yang harus dibawa pulang adalah perubahan cara mengelola kebun,” tegasnya.

Dr. Agus Eko Prasetyo, Manager Urusan Pelayanan Jasa Konsultasi PPKS–RPN, mengatakan peningkatan produktivitas tidak cukup hanya dengan menambah pengetahuan. Teknologi dan hasil riset harus diterapkan sesuai kondisi kebun.

“Jangan berhenti pada ilmu pengetahuan. Jangan hanya hadir mengikuti pelatihan, mendapatkan materi dan sertifikat. Informasi dan teknologi yang diberikan silakan dipilih mana yang relevan dan cocok digunakan di kebun masing-masing, kemudian diterapkan,” katanya.

Menurut Agus, keberhasilan transfer teknologi terlihat ketika pengetahuan tersebut menghasilkan perubahan nyata di kebun. Ia juga berharap 131 peserta menularkan ilmu yang diperoleh kepada kelompok tani dan pekebun lain di Simalungun.

Bibit Berkualitas dan Pembelajaran Lapang

Sementara itu, M. Yusuf Lubis, SP, SE, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara, menekankan pentingnya pemilihan bahan tanam berkualitas.

Kesalahan memilih bibit dapat berdampak hingga bertahun-tahun ketika tanaman mulai menghasilkan.

“Jangan tanam sekarang, lima tahun kemudian gagal. Sudah capek menunggu, sudah lama menunggu, ternyata hasilnya tidak memuaskan,” tegas Yusuf.

Ia meminta pekebun memastikan asal-usul dan kualitas bibit, terutama untuk penanaman baru maupun peremajaan. Peningkatan kompetensi juga perlu berjalan seiring dengan dukungan pemerintah melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan bantuan sarana produksi.

Kunjungan ke Kebun Adolina PTPN IV Regional 2 diharapkan menjadi kesempatan bagi peserta untuk melihat langsung praktik budidaya di lapangan dan membandingkannya dengan kondisi kebun masing-masing.

Jenri menilai peluang meningkatnya kebutuhan minyak sawit untuk pasar domestik, termasuk sektor energi, harus diimbangi dengan produktivitas kebun yang lebih tinggi.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pekebun perlu memperkuat produktivitas, efisiensi, keberlanjutan dan adopsi teknologi, bukan hanya berorientasi pada harga TBS dan CPO.

“Harapan kami, ketika datang ke sini 131 orang, nanti pulang menjadi 132 orang atau lebih,” katanya.

Sinergi RPN, BPDP, Ditjenbun, pemerintah provinsi dan Kabupaten Simalungun melalui SDMP 2026 diharapkan mempercepat transfer teknologi dan meningkatkan kemampuan pekebun.

Program ini juga diharapkan berlanjut. Simalungun disebut masih mendapatkan alokasi sekitar 330 peserta pelatihan pada 2027. Investasi peningkatan SDM diharapkan menghasilkan perubahan nyata: produktivitas TBS meningkat, kualitas hasil membaik, dan pendapatan pekebun bertambah.

Artikel Terkait