Riau, SAWIT INDONESIA - Pengembangan bibit kelapa sawit tahan Ganoderma dan berproduktivitas tinggi menjadi fokus riset Asian Agri Group melalui Oil Palm Research Station (OPRS) Topaz di PT Tunggal Yunus Estate, Desa Petapahan, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau.
Potensi riset tersebut diperkenalkan kepada 30 petani swadaya peserta Sawit Indonesia Expo and Conference (SIEXPO) 2026 dalam rangkaian fieldtrip ke OPRS Topaz. SIEXPO 2026 berlangsung pada 6–8 Agustus 2026 di SKA Coex, Pekanbaru, Riau.
Head Assistant Breeding OPRS Topaz Rizki Akbar mengatakan pengembangan varietas Topaz dilakukan melalui persilangan dan pemanfaatan sumber daya genetik dari berbagai wilayah.
“DXP yang disilangkan generasi pertama itu kami merilis varietas pada 2004. Pada 2006 kami mengembangkan dura, pisifera, tenera. Itu melalui kultur jaringan atau vegetatif, kemudian kami tanam pada 2010,” ujar Rizki di lokasi acara, Sabtu (8 Agustus 2026).
Asian Agri juga tergabung dalam konsorsium Indonesia untuk memperoleh sumber daya genetik baru.
“Tahun 2010, 2013, sampai 2020 kami berhasil mendapatkan sumber daya genetik dari Afrika,” katanya.
Rizki mengatakan pengembangan varietas dilakukan dengan melihat kebutuhan pasar, termasuk ancaman Ganoderma yang semakin menjadi tantangan perkebunan sawit.
“Dari sini kita lihat pasar. Sekarang ini jamur Ganoderma sangat banyak dampaknya, terutama Sumatera Utara ke atas. Ini sudah masuk sawit generasi ketiga,” ujarnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Asian Agri merilis varietas tahan Ganoderma pada 2019.
“Kami berhasil merilis varietas tahan Ganoderma pada 2019. Harga kecambahnya Rp18.000,” kata Rizki.
Selain ketahanan penyakit, produktivitas menjadi perhatian utama. Berdasarkan grafik yang dipaparkan kepada peserta fieldtrip, produksi tanaman disebut telah mencapai lebih dari 30 ton pada tahun keempat dan stabil di atas 40 ton pada tahun ke-10.
“Bisa dilihat, tahun keempat itu sudah di atas 30 ton. Sampai tahun ke-10 dia sudah stabil di atas 40 ton,” ujarnya.
“Jadi dari segi material genetik, materinya sudah ada. Yang dijual itu generasi kedua,” lanjut Rizki.
Topaz 2 dan Topaz 3
Setiap varietas Topaz memiliki karakter berbeda. Topaz 2, misalnya, dikembangkan dengan karakter pelepah pendek dan berondolan besar.
“Topaz 2 ciri-cirinya pelepah pendek, berondolan besar-besar. Jadi silakan order Topaz 2 kalau mau pendek-pendek pelepahnya,” kata Rizki.
Sementara Topaz 3 memiliki jumlah tandan lebih banyak, pertambahan tinggi yang lambat, serta kandungan minyak tinggi.
“Kalau Topaz 3, jumlah tandannya banyak, pertambahan tingginya lambat, kandungan minyaknya tinggi,” ujarnya.
Rizki menyarankan pekebun mengombinasikan Topaz 1, 2, dan 3 untuk mendukung penyerbukan.
“Kalau bisa Topaz 1, 2, 3 itu dicampur. Itu saran kita untuk mencegah penyerbukan,” katanya.
Adapun Topaz 4 belum dipasarkan karena performa produksinya belum memenuhi standar OPRS Topaz.
“Topaz 4 tidak sesuai standar kita. Jadi belum menjual secara komersial sekarang ini,” ujar Rizki.
OPRS Topaz juga menyiapkan generasi baru melalui teknologi kultur jaringan.
“Tahun depan kami akan merilis varietas klon, hasil kultur jaringan. Tahun depan kita juga akan merilis varietas yang 100% buahnya hijau,” katanya.
Proses Kecambah Tak Bisa Sembarangan
Di balik pengembangan varietas, proses produksi kecambah menjadi tahapan penting untuk menjaga kualitas dan ketertelusuran material genetik.
Manager Seed Bunch OPRS Topaz Sucipto mengingatkan pekebun agar berhati-hati terhadap kecambah yang ditawarkan dengan harga terlalu murah.
“Makanya hati-hati membeli bibit kecambah. Kalau ada yang menjual ketengan, mana ada sekantong isinya 200 cuma Rp150.000. Itu perlu hati-hati, dipertimbangkan,” kata Sucipto.
Menurutnya, produksi kecambah membutuhkan peralatan dan tahapan khusus. Salah satunya adalah wadah penutup tandan buah sawit (TBS) yang digunakan dalam proses produksi.
“Kita buat belinya wadah penutup TBS bahan kecambah itu harganya Rp150 ribuan. Itu diimpor dari Inggris. Pengikatnya itu dari India, kita pesannya ke Surabaya,” ujarnya.
Sucipto kemudian menjelaskan proses produksi kecambah dimulai dari identifikasi setiap material tanaman.
“Setelah dibersihkan, bunganya disemprot insektisida, kita bungkus dan diikat tali,” katanya.
Setiap pelepah yang digunakan untuk menghasilkan kecambah memiliki identitas tersendiri.
“Tiap pelepah sawit untuk dijadikan kecambah ada identitas. Itu kita tulis di pohonnya, di pelepahnya,” ujar Sucipto.
Sekitar 18–20 hari setelah bunga mekar, dilakukan proses penyerbukan atau persilangan.
“Delapan belas sampai 20 hari bunga itu mekar, maka kita lakukan penyerbukan, persilangan,” katanya.
Untuk mendukung proses tersebut, OPRS Topaz menggunakan perangkat khusus yang dirakit sendiri.
“Kita gunakan alat seperti bonk, tabung yang kita rakit sendiri untuk disemprotkan,” ujar Sucipto.
Dia menambahkan, proses isolasi dan pembungkusan juga dilakukan oleh tenaga berbeda untuk menjaga kontrol setiap tahapan.
“Orang yang mengerjakan isolasi atau pembungkusan itu lain orangnya,” katanya.






