• Kamis, 24 September 2026
Berita Terbaru

Eks Mentan Bungaran Saragih: B50 Jadi Jalan Indonesia Menuju Kekuatan Energi Sawit Dunia

Bogor, SAWIT INDONESIA – Mantan Menteri Pertanian periode 2000–2004, Prof. Dr. Bungaran Saragih, M.Ec., menegaskan bahwa industri kelapa sawit Indonesia tengah memasuki babak baru transformasi yang akan menentukan posisinya di masa depan. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan media gathering bertajuk "B50: Strategi Indonesia Menjadi Kekuatan Energi Sawit Dunia" yang digelar di Bogor, Rabu (10 Juni 2026).

Di hadapan para pemangku kepentingan industri sawit nasional, pelaku usaha, akademisi, dan mitra petani, Bungaran menyampaikan bahwa terdapat tiga kebijakan strategis pemerintah yang saat ini sedang membentuk lanskap baru perkelapasawitan nasional, yakni penertiban kawasan hutan (PKH), pengembangan biodiesel menuju B50, serta penguatan tata kelola ekspor sawit.

Menurutnya, ketiga kebijakan tersebut tidak dapat dipandang secara terpisah. Ia melihat adanya benang merah yang kuat, yaitu upaya mentransformasikan sawit dari sekadar komoditas ekspor menjadi aset strategis bangsa.

"Sawit tidak lagi diposisikan semata sebagai penghasil devisa. Sawit harus menjadi bagian dari ketahanan energi, ketahanan pangan, ketahanan ekonomi, dan pembangunan wilayah Indonesia," ujarnya.

Terkait kebijakan penertiban kawasan hutan, Bungaran menyebut langkah tersebut memang tidak mudah, namun penting untuk menciptakan kepastian hukum dan tata kelola yang lebih baik.

Menurutnya, dunia saat ini semakin menuntut transparansi, legalitas, dan keberlanjutan dalam perdagangan komoditas global. Oleh karena itu, legalitas yang kuat akan menjadi modal penting bagi Indonesia dalam menghadapi berbagai hambatan perdagangan maupun kampanye negatif terhadap sawit.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan PKH tidak semata-mata diukur dari luas areal yang berhasil ditertibkan.

"Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika produktivitas tetap terjaga, petani terlindungi, dan ekonomi kawasan yang bergantung pada sawit tetap berkelanjutan," tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya pendampingan petani, legalisasi lahan, peningkatan produktivitas, serta penguatan kelembagaan agar proses penataan kawasan tidak justru meminggirkan petani kecil.

B50 Buka Era Baru Ketahanan Energi Berbasis Sawit

Dalam forum yang mengangkat tema strategi Indonesia menjadi kekuatan energi sawit dunia tersebut, Bungaran menilai program biodiesel B50 sebagai salah satu kebijakan paling strategis dalam sejarah industri sawit Indonesia.

Selama ini, industri sawit nasional sangat bergantung pada pasar ekspor. Ketika harga dunia turun atau terjadi hambatan perdagangan, petani dan pelaku usaha ikut terdampak.

Namun melalui B50, sawit memperoleh peran baru sebagai sumber energi nasional.

"Ketika jutaan kiloliter biodiesel digunakan di dalam negeri, kita menciptakan pasar domestik yang besar dan stabil. Ini dapat menjaga harga tandan buah segar, mengurangi impor energi, memperkuat neraca pembayaran, dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri," jelasnya.

Meski optimistis, Bungaran mengingatkan bahwa peningkatan konsumsi biodiesel harus diimbangi dengan peningkatan produktivitas kebun sawit. Jika tidak, akan muncul persaingan antara kebutuhan energi, pangan, industri hilir, dan ekspor.

Karena itu, program peremajaan sawit rakyat (replanting), penggunaan benih unggul, digitalisasi, mekanisasi, serta penguatan riset harus menjadi agenda prioritas nasional.

Tata Kelola Ekspor Harus Perkuat Posisi Indonesia Tanpa Kehilangan Pasar

Pada aspek tata kelola ekspor, Bungaran mendukung upaya pemerintah untuk memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari sumber daya nasional.

Namun ia mengingatkan bahwa pasar minyak nabati dunia sangat kompetitif dan konsumen memiliki banyak pilihan.

"Strategi ekspor harus dijalankan secara cerdas. Kita harus meningkatkan daya tawar tanpa kehilangan pelanggan dan memperkuat posisi nasional tanpa mengurangi efisiensi rantai pasok global," katanya.

Menurutnya, penguatan kontrol ekspor harus dibarengi peningkatan efisiensi dan daya saing agar Indonesia tetap menjadi pemain utama di pasar global.

Menuju Pemimpin Bioekonomi Tropis Dunia

Lebih jauh, Bungaran melihat ketiga kebijakan tersebut sebagai bagian dari perubahan besar model pembangunan industri sawit Indonesia.

Jika selama ini pola yang berlaku adalah Tanam – Panen – Produksi – Ekspor, maka model masa depan harus berkembang menjadi Tanam – Produksi – Hilirisasi – Energi – Inovasi – Ekspor Bernilai Tambah.

"Inilah transformasi yang sedang berlangsung. Ini bukan hanya transformasi industri, tetapi transformasi pembangunan nasional," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa sawit telah terbukti menjadi salah satu penopang ekonomi Indonesia saat menghadapi berbagai krisis, mulai dari krisis ekonomi 1998, gejolak global 2008, hingga pandemi Covid-19 pada 2020 - 2021.

Karena itu, menurut Bungaran, sawit perlu dilihat secara lebih utuh, tidak hanya dari sisi tantangan lingkungan, tetapi juga dari kontribusinya terhadap devisa, lapangan kerja, pembangunan daerah, dan pemulihan ekonomi nasional.

Menutup paparannya, Bungaran menyatakan keyakinannya bahwa masa depan sawit Indonesia tetap sangat menjanjikan. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, petani yang tangguh, pelaku usaha yang berpengalaman, pasar domestik yang besar, serta posisi dominan di pasar global.

"Jika keseimbangan antara kepastian hukum, keberlanjutan, daya saing, produktivitas, dan kesejahteraan rakyat dapat kita bangun, Indonesia tidak hanya menjadi produsen sawit terbesar dunia. Indonesia akan menjadi pemimpin bioekonomi tropis dunia," pungkasnya.

Artikel Terkait