• Selasa, 6 Oktober 2026
Berita Terbaru

Sawit dan Hari Perempuan Internasional 2025

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Sebagai komoditas global, sektor sawit harus adapatif dengan trend dan dinamika global. Hal tersebut untuk menghadapi dan tantangan berbagai isu yang ada.

Chairman Founder WISPO (Worker Initiatives for Sustainable Palm Oil) sekaligus Ketua Bidang Pengembangan SDM Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Sumarjono Saragih, menyampaikan pada peringatan International Women's Day atau Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 Maret, pihaknya kembali melalukan gerakan "Mempercepat Aksi" perjuangan perempuan di sektor industri sawit.

"Sektor industri sawit harus adaptif dengan trend dan dinamika global. Mulai dari isu lingkungan, sorotan tentang pekerja perempuan menguat dalam dekade terakhir. Kesetaraan, perlindungan hak dan resiko kekerasan serta tanpa diskriminasi terhadap perempuan adalah agenda global dan nasional," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima redaksi sawitindonesia.com.

Seperti diketahui, sejarah mencatat perjuangan perempuan dimulai sejak 1908 untuk mendapatkan hak-haknya. Ditandai oleh perjuangan kaum perempuan melawan penindasan dan ketidaksetaraan serta mendapatkan haknya.

"Maka, pada momentum Hari Perempuan Internasional tahun ini, kami melangsungkan gerakan dengan 'Mempercepat Aksi' dengan tagar global 'AccelarateAction' adalah tema peringatan tahun 2025. Terutama di sektor industri kelapa sawit," ungkap Sumarjono.

Dijelaskan Sumarjono, sawit Indonesia adalah industri besar. Melibatkan lebih dari 16 juta pekerja termasuk jumlah pekerja perempuan yang besar.

“Bekerja di perdesaan terbatas sumberdaya dan akses. Oleh karena itu perlu upaya dan inisiatif khusus untuk memitigasi, mengedukasi dan menghindari resiko bagi pekerja perempuan,” jelasnya.

Salah satunya dengan mendirikan Komite Perempuan. Komite Perempuan adalah salah satu wadah penting di tempat kerja. GAPKI mengambil inisiatif strategis tahun 2021. Secara resmi me-launch "Buku Panduan Praktis Perlindungan Hak Pekerja Perempuan di Perkebunan Sawit". Acara 'launching' dilakukan bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sekaligus peresmian RP3 (Rumah Perlindungan Pekerja Perempuan) di kebun sawit milik PT Hindoli (Cargill) di Sungai Lilin, Sumatera Selatan.

Pembentukan Komite Perempuan adalah salah satu dari delapan prinsip yang ada dalam buku panduan tersebut. "Komite Perempuan atau Jender adalah lembaga kunci perlindungan pekerja perempuan di pekebunan sawit. Komite ini dibentuk untuk meningkatkan kesadaran, mengidentifikasi dan mengangkat isu-isu terkait dan mendorong peningkatan kondisi kerja bagi perempuan" dikutip dari buku panduan Buku Panduan Praktis Perlindungan Hak Pekerja Perempuan di Perkebunan Sawit.

Senada dengan tema peringatan tahun 2025: mempercepat aksi, GAPKI terus bergerak. Memperluas dan mempercepat promosi dan kampanye perlindungan pekerja perempuan. Menjadikan Buku Panduan Praktis tersebut sebagai alat edukasi dan kampanye. Sejumlah lokakarya dan pelatihan dilakukan di berbagai provinsi. Mengundang para pihak. Termasuk serikat buruh. Terbukti dialog dan kolaborasi dengan serikat buruh akan menjadi kunci di tempat kerja. Dengan cara itu akan terwujud sawit berkelanjutan melalui kerja layak (decent work) yang responsif jender. Selamat Hari Perempuan International 2025.

Salam #AccelarateAction.

Artikel Terkait