• Jumat, 2 Oktober 2026
Berita Terbaru

Dr. Tony Liwang Uraikan Pemanfaatan AI dalam Grading TBS dan Pabrik Sawit

Medan, SAWIT INDONESIA – Transformasi digital di sektor perkebunan kelapa sawit terus bergerak maju dengan pemanfaatan teknologi berbasis Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI). Dr. Tony Liwang, Pendiri BRIC (PT Bhuana Raya Inovasi Cemerlang) memaparkan potensi besar penerapan teknologi AI dalam sistem penilaian (grading) Tandan Buah Segar (TBS) dan operasional pabrik kelapa sawit, dalam Socfindo Conference on Practical Applications & Exhibition (SCOPEX 2026) yang berlangsung di Hotel Adi Mulia, Medan, pada Rabu (20 Mei 2026),

Presentasi Dr. Tony Liwang berjudul "AI FFB Grading and Mill Operation Technology: Transformasi Digital untuk Hasil Minyak yang Lebih Baik", menyoroti indeks kesiapan AI (AI Readiness Index) di Asia Tenggara. Berdasarkan data Salesforce Asia AI Readiness Survey, Indonesia saat ini mengantongi skor total 23,5, berada di bawah rata-rata regional sebesar 30,9.

Kendati demikian, adopsi AI dipandang sebagai instrumen krusial untuk mendukung target transformasi digital nasional dalam RPJPN dan RPJMN 2025–2029. Indonesia membidik target pertumbuhan ekonomi hingga 8% dan pengentasan kemiskinan ekstrem menjadi 0%, di mana kontribusi ekonomi digital terhadap PDB ditargetkan mencapai 12% hingga 13%. Penerapan AI di sektor industri kelapa sawit (Digital Palm Oil Mill) menjadi studi kasus nyata akselerasi target tersebut.

Otomatisasi Grading TBS dengan Akurasi 98%

Salah satu inovasi utama yang diperkenalkan adalah teknologi pemindaian 360 derajat berbasis computer vision untuk menilai kualitas buah sawit secara real-time. Sistem AI ini mampu mendeteksi tingkat kematangan buah dengan akurasi mencapai 98%.

Klasifikasi utama yang dideteksi meliputi kategori buah mentah (unripe), setengah matang (semi-ripe), matang (ripe), lewat matang (overripe), dan janjang kosong (empty bunch). Selain itu, AI dapat mengidentifikasi sub-klasifikasi spesifik seperti tangkai panjang (long stalk), janjang kecil di bawah 5 kg, serta buah yang rusak akibat hama.

Teknologi ini memastikan proses penilaian berjalan secara objektif, adil, transparan, dan dapat ditelusuri (Fairness, Accessible, Traceable, Accountable, Bankable / FATAB), sehingga mampu menyudahi perselisihan harga dengan petani.

Dampak Finansial dan Efisiensi Operasional

Meskipun sistem AI tidak menaikkan kandungan minyak dalam buah secara biologis, optimalisasi ini terbukti mendongkrak Nilai Rendemen Minyak (OER) secara signifikan. Keuntungan OER diperoleh dari penyaringan ketat buah berkualitas rendah sebelum masuk ke stasiun pengolahan, serta hilangnya risiko kehilangan minyak (oil losses) akibat penumpukan buah atau benturan alat berat di lantai sortasi.

Dalam contoh kasus finansial yang dipaparkan, penerapan AI grading mampu memulihkan OER sebesar 1,9% (dari 17,5% menjadi 19.4%). Pada pabrik berkapasitas pengolahan 25.000 ton TBS per bulan, peningkatan ini setara dengan pemulihan nilai ekonomi sebesar USD 451.250 (sekitar Rp7,2 miliar) per bulan.

Bagi operasional pabrik, otomatisasi ini mengurangi jam kerja, menghemat konsumsi energi, serta menurunkan biaya pemrosesan per ton minyak sawit mentah (CPO).

Selain pada lini penyortiran buah, teknologi AI juga diterapkan secara menyeluruh melalui Palm Oil Mill Operating System (MillOS) MillOS mengintegrasikan sensor IoT pada titik-titik kritis pabrik, seperti jembatan timbang, stasiun rebusan (sterilizer), stasiun kempa (press station), stasiun klarifikasi, tangki penimbun, hingga boiler dan turbin.

Sistem cerdas ini berfungsi sebagai "sistem saraf pusat" yang mampu mendeteksi anomali dan degradasi mekanis pada mesin pabrik 24 hingga 48 jam sebelum terjadi kerusakan kritis (breakdown). Langkah preventif ini membantu manajemen mengungkap hilangnya efisiensi tersembunyi yang selama konvensional sulit dilacak.

Penerapan ekosistem AI terpadu ini memberikan nilai strategis yang berbeda bagi tiap fungsi kepemimpinan. Direksi mendapatkan visibilitas performa multi-pabrik secara real-time, manajer pabrik memperoleh kendali penuh dalam satu layar, tim teknis dapat menjadwalkan pemeliharaan prediktif, sedangkan tim ESG memperoleh data otomatis terkait jejak emisi serta konsumsi air dan uap.

Artikel Terkait