• Kamis, 1 Oktober 2026
Berita Terbaru

Kejar Produktivitas 24 Ton TBS, 151 Pekebun Bengkulu Perbaiki Manajemen Panen

BENGKULU, SAWIT INDONESIA — Sebanyak 151 pekebun sawit dari Bengkulu Utara dan Bengkulu Tengah didorong meningkatkan produktivitas hingga 24 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun melalui perbaikan tata kelola kebun.

Upaya tersebut dilakukan melalui Pelatihan Panen dan Pascapanen Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026 pada 28 September–2 Oktober 2026, di Bengkulu. Kegiatan diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian. Dari 151 peserta, sebanyak 112 pekebun berasal dari Bengkulu Utara dan 39 pekebun dari Bengkulu Tengah.

Praktisi Kebun AKPY, Ir. Tri Haryadi, mengatakan target 24 ton TBS per hektare per tahun merupakan bagian dari upaya membuat pekebun “naik kelas” melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP).

“Dengan tagline naik kelas itu targetnya supaya pekebun bisa mencapai produktivitas minimal 24 ton TBS per hektare per tahun. Dengan rendemen 24–25 persen, CPO-nya bisa sekitar 6 ton per hektare per tahun,” ujar Tri saat mewakili Direktur AKPY, Dr. Sri Gunawan.

Menurut Tri, produktivitas tidak cukup hanya mengandalkan bibit unggul. Pemupukan, teknik budidaya, organisasi panen, rotasi panen dan penanganan TBS turut menentukan hasil.

Sebagian pekebun telah menggunakan bibit unggul dan mengikuti program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Namun, pengelolaan panen masih perlu diperbaiki.

“Bibit unggul sudah digunakan, sebagian juga sudah mengikuti PSR. Tetapi dalam penanganan panen masih masing-masing. Belum ada perencanaan organisasi panen yang sesuai dengan GAP,” katanya.

Tri mengatakan pekebun perlu mengatur organisasi panen, termasuk pembagian seksi, jadwal dan rotasi. Ia menyebut masih ada pekebun yang melakukan panen dua kali sebulan dan didorong meningkat menjadi tiga hingga empat kali.

“Organisasi panen harus disiapkan, termasuk seksi panennya dan rotasinya. Selama ini petani biasanya panen dua kali sebulan. Kita harapkan bisa menuju tiga sampai empat kali dalam sebulan,” jelasnya.

Ketepatan menentukan buah matang juga menjadi perhatian. Buah siap panen harus ditandai indikator kematangan, antara lain adanya brondolan alami.

Selain panen, pemupukan juga harus dilakukan secara tepat. Tri menegaskan potensi bibit unggul tidak akan maksimal tanpa pemenuhan kebutuhan unsur hara.

“Bibit unggul sudah digunakan, tetapi produksinya tidak akan tercapai kalau pupuknya tidak cukup,” ujarnya.

Pengetahuan Harus Berujung pada Praktik

Plh. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Tengah, Hendra Gusti, S.IP, mengatakan pelatihan penting untuk memperbaiki pengetahuan dan praktik pekebun.

“Panen kalau tidak benar, hasilnya juga tidak bagus. Setelah panen pun kalau penanganannya tidak baik, hasilnya juga menjadi kurang bagus,” kata Hendra.

Ia berharap peserta menerapkan ilmu yang diperoleh langsung di kebun dan membagikannya kepada pekebun lainnya. Hendra juga berharap pelatihan serupa dapat diperluas pada tahun-tahun berikutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Bengkulu Utara, Madeslianto, MS, S.Sos, M.A.P, mengatakan peningkatan kapasitas SDM menjadi bagian penting dalam memperbaiki pengelolaan perkebunan sawit.

Ia menyebut Bengkulu Utara memiliki sekitar 94.000 hektare perkebunan kelapa sawit yang dikelola perusahaan, berdasarkan data pemerintah daerah.

“Pada hari ini menjadi kesempatan bagi kita semua untuk bersama-sama mencari ilmu terkait dengan panen dan pascapanen kelapa sawit di Kabupaten Bengkulu Utara,” ujarnya.

Madeslianto mendorong peserta menerapkan pengetahuan yang diperoleh dan membagikannya kepada pekebun lainnya.

Produktivitas Dimulai dari Kebun

Pelatihan panen dan pascapanen diarahkan untuk meningkatkan produktivitas melalui optimalisasi kebun yang sudah ada. Target 24 ton TBS per hektare per tahun diterjemahkan melalui pemupukan yang tepat, organisasi dan rotasi panen, ketepatan menentukan buah matang serta penanganan TBS.

Tri berharap 151 peserta tidak hanya membawa pulang pengetahuan, tetapi juga meneruskannya kepada kelompok tani.

“Naik kelas bukan hanya soal sudah ikut pelatihan, tetapi bagaimana pengetahuan itu diterapkan di kebun dan akhirnya berdampak pada produktivitas,” pungkas Tri.

Dengan pendekatan tersebut, peningkatan produktivitas sawit tidak hanya bergantung pada bibit dan luas lahan, tetapi juga kemampuan pekebun mengelola seluruh proses produksi secara terencana dan sesuai praktik budidaya yang baik.

Artikel Terkait