• Senin, 5 Oktober 2026
Berita Terbaru

Depok Incar Industri Kreatif Sawit, UMKM Didorong Tembus Pasar Ekspor

Depok, SAWIT INDONESIA - Depok mulai membidik hilirisasi kelapa sawit sebagai sumber pertumbuhan baru industri kreatif. Peluang itu mengemuka dalam Workshop Media Temu UKMK dan Promosi Sawit Baik 2026 bertajuk Inovasi Produk Turunan Sawit untuk Pelaku UKMK di Depok, Kamis (19 Februari 2026).

Kegiatan ini digelar Majalah Hortus Archipelago dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Forum tersebut mempertemukan pemerintah daerah, peneliti, serta pelaku industri untuk membangun rantai nilai sawit berbasis kolaborasi.

Kepala Dinas Perdagangan dan Industri Kota Depok, Widyati Riyandani, menegaskan komitmen pemerintah kota memperkuat ekonomi kreatif periode 2025–2029.

“Saya baru sebulan menjabat. Kami ingin mendorong promosi dan penguatan ekonomi kreatif 2025-2029 bersama Depok Maju. Sawit ini bukan hanya soal makanan, tapi juga kosmetik, es krim, hingga produk fesyen dan kriya,” ujarnya.

Data dinas menunjukkan, struktur industri Depok terdiri atas 20 persen industri kecil, 56 persen menengah, dan 22 persen besar. Sektor pangan olahan mendominasi 63 persen, disusul kimia 9 persen, logam 8 persen, serta fesyen dan kriya 13 persen. Saat ini, industri berbasis sawit di Depok masih terbatas pada pengemasan, sehingga ruang ekspansi masih terbuka lebar.

Dinas juga mencatat sekitar 3.000 UMKM telah terdata dan dibina, dengan potensi mencapai 6.000 unit usaha aktif. Dari sekitar 120.000 yang pernah tercatat, sebagian masih menunggu verifikasi ulang.

Menurut Widyati, tren konsumen global mengarah pada produk berkelanjutan. Generasi muda semakin peduli pada isu lingkungan dan transparansi rantai pasok. Sertifikasi seperti ISPO dan RSPO kini menjadi pertimbangan penting pasar.

“Produk bersertifikat ramah lingkungan punya peluang besar. Kami juga ingin UMKM Depok bisa masuk pasar ekspor,” katanya.

Ia menambahkan, sekitar 10 pelaku industri kosmetik di Depok berpotensi memanfaatkan bahan baku sawit. “Hampir semua makanan kita memakai minyak. Sawit juga bisa menggantikan lemak hewani. Ini peluang besar,” ujarnya.

UMKM dalam Rantai Nilai 224 Produk Turunan

Kepala Subdivisi Riset dan Advokasi Kebijakan IPOSS, Dimas Haryo Pamungkas, melihat UMKM sebagai penggerak utama integrasi sawit dari hulu hingga hilir.

“UMKM menyerap sekitar 97% tenaga kerja nasional. Integrasi ke sektor strategis seperti sawit akan memperkuat daya ungkit ekonomi,” katanya.

Ia memetakan peluang sejak tahap pembibitan—mulai dari penyediaan polybag, alat semai, hingga perlengkapan panen seperti egrek dan sabit—hingga produk hilir seperti minyak inti sawit, pakan ternak, pupuk kompos dari tandan kosong, dan kerajinan lidi sawit yang sudah menembus ekspor.

“Dari hulu ke hilir, kami mencatat sedikitnya 224 jenis produk turunan sawit. Potensinya masih sangat luas,” ujarnya.

Ia juga menyoroti inovasi pemanfaatan nira sawit saat peremajaan tanaman sebagai peluang baru bagi UMKM di sektor pengolahan.

Riset IPB Hadirkan Produk Siap Skala Rumahan

Peneliti dari Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) IPB, Neli Muna, memaparkan hasil riset aplikatif berbasis sawit. SBRC berada di bawah naungan Institut Pertanian Bogor.

“Kami mengembangkan surfaktan untuk es krim, biodiesel, sabun, sampo, hingga hand sanitizer. Banyak produk bisa dibuat skala rumahan dengan bahan sederhana,” katanya.

Ia menjelaskan, sabun berbahan minyak sawit dapat diproduksi dengan campuran basa seperti NaOH, lalu melalui proses aging hingga aman digunakan. Sabun transparan bahkan memiliki ceruk pasar di sektor perhotelan dan suvenir.

Selain itu, SBRC mengembangkan minyak makan merah kaya karoten alami yang berpotensi membantu pemenuhan vitamin A. Untuk meningkatkan penerimaan konsumen, tim peneliti menciptakan berbagai produk turunan seperti minuman emulsi red olein drink, mayones minyak merah, sambal, hingga chili oil.

“Tujuannya agar masyarakat, terutama anak-anak, lebih mudah menerima manfaatnya,” ujar Neli.

Artikel Terkait