Kalteng, SAWIT INDONESIA - Program kemitraan PT Sukses Karya Mandiri (SKM), anak usaha PT Triputra Agro Persada (TAP), terus menunjukkan hasil signifikan bagi peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani plasma. Hal itu terlihat dari capaian Koperasi Jati Sejahtera di Kecamatan Permata Kecubung, Kabupaten Sukamara, Kalteng yang kini mencatat hasil panen stabil dan peningkatan pendapatan anggota.
Sekretaris Koperasi Jati Sejahtera Indra Ayu Riantika mengatakan koperasi yang mulai ditanam pada 2017–2018 di lahan seluas 282 hektare dan melibatkan 29 karyawan tersebut telah memasuki fase produksi optimal. Pada 2022, koperasi mulai panen dengan yield awal 14 ton per hektare per tahun, dan terus meningkat hingga 21,7 ton per hektare pada 2025.
“Yield naik sangat signifikan. Sekarang anggota koperasi rata-rata menerima Rp2 juta sampai Rp3 juta per hektare per bulan dari Sisa Hasil Usaha (SHU),” ujarnya saat ditemui di kantor Koperasi Jati Sejahtera, Kalimantan Tengah (Kalteng), Rabu (10 Desember 2025). Total anggota koperasi mencapai sekitar 130 petani plasma, seluruhnya merupakan warga lokal.
Dengan perolehan tersebut, Indra Ayu menilai pendapatan rutin dari SHU menjadi tumpuan baru bagi ekonomi keluarga petani. “Kalau punya 2 hektare, petani bisa menerima sekitar Rp4 juta per bulan. Apalagi jika harga TBS berada di kisaran Rp3.000 per kg, itu cukup lumayan,” katanya.
Koperasi ‘Satu Atap’
Koperasi Jati Sejahtera mengadopsi skema “satu atap”, di mana seluruh proses — mulai dari pembukaan lahan, penanaman, perawatan, pemupukan, hingga panen — dikelola langsung oleh PT SKM.
“Kalau bukan sistem satu atap, petani harus mengurus semuanya sendiri. Biasanya kalau sedang tidak ada modal, pemupukan kurang optimal, akhirnya produksi turun. Di sini, perusahaan tanggung seluruh perawatan sehingga petani menerima hasil bersih,” jelas Indra Ayu.
Menurutnya, pengelolaan terintegrasi membuat produktivitas jauh lebih tinggi dibandingkan kebun petani mandiri. “Kalau petani mandiri mungkin hanya 40% dari produksi 14 ton per tahun. Kami dibantu R&D perusahaan, ada standar tenaga kerja, pupuk, rotasi panen. Best practice selalu sama dengan kebun inti perusahaan,” tambahnya.
Saat ini terdapat tambahan 7,7 hektare lahan yang akan segera masuk ke dalam skema koperasi.
Sementara itu, Estate Manager PT SKM, Syahrial Purba mengatakan program kemitraan ini membawa perubahan sosial signifikan di wilayah sekitar kebun. Kini banyak anggota koperasi yang mampu membeli kendaraan bermotor, bahkan mobil, serta menyekolahkan anak hingga ke luar daerah.
“Kami juga menyediakan fasilitas penitipan anak di dekat kebun. Jadi ketika orang tua bekerja, anak bisa dititipkan dan dijemput saat pulang,” ujarnya.
Jika dibandingkan data Kementerian Pertanian yang mencatat produktivitas petani sawit nasional hanya 2–3 ton per hektare per tahun, capaian koperasi binaan PT SKM jauh melampaui rata-rata nasional.
“Di sini, sejak usia Tanaman Menghasilkan (TM) 1 saja sudah 14 ton per hektare per tahun. Kalau umur TM 12 bisa mencapai 28 ton per hektare per tahun. Di Jambi, kami punya kebun tahun ke-4 yang produktivitasnya sudah 26 ton per hektare per tahun,” kata Syahrial.
Adapun untuk menjadi anggota plasma, petani harus memenuhi sejumlah ketentuan, memiliki lahan 0,5 hingga 10 hektare, lahan tidak bermasalah atau bersengketa-memiliki dokumen kepemilikan resmi (SHM).














