• Rabu, 23 September 2026
Berita Terbaru

Dari Sawit ke Canting, Inovasi Malam Sawit Hidupkan Batik di Malioboro

YOGYAKARTA, SAWIT INDONESIA — Kelapa sawit selama ini lekat dengan produk pangan dan energi. Namun, di kawasan Malioboro, Yogyakarta, komoditas tersebut menunjukkan wajah lain: masuk ke ruang budaya melalui malam batik berbasis produk turunan sawit.

Inovasi itu diperkenalkan dalam kegiatan “Malioboro Membatik” yang digelar di area depan Benteng Vredeburg, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program Setu Sinau Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta yang berkolaborasi dengan BPC HIPMI Kota Jogja dan HIPMI Jogja Womenpreneur.

Mengusung konsep live workshop, kegiatan ini mengajak masyarakat dan wisatawan untuk belajar serta mencoba membatik secara langsung di ruang publik secara gratis. Selama dua jam, lebih dari 50 orang bergantian memegang canting dan mengaplikasikan malam pada kain.

Pesertanya pun beragam. Warga Yogyakarta berbaur dengan wisatawan mancanegara, wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia, hingga anak-anak yang tengah menikmati libur sekolah.

Di balik aktivitas membatik tersebut, terdapat pesan lain yang ingin disampaikan, yakni memperkenalkan pemanfaatan produk turunan kelapa sawit sebagai bahan malam atau lilin untuk membatik.

Penggunaan bahan berbasis sawit ini memberikan perspektif bahwa pemanfaatan kelapa sawit tidak berhenti pada produk pangan maupun energi. Melalui inovasi dan hilirisasi, produk turunannya dapat dikembangkan untuk memasuki sektor lain, termasuk industri kreatif dan budaya.

Bagi peserta, pengalaman tersebut tidak hanya memperkenalkan teknik membatik, tetapi juga membuka pengetahuan mengenai hubungan antara inovasi bahan baku, industri, budaya, dan ekonomi kreatif.

Dua mentor, Fitri Andono Warih dan Putri Ramadhany Amir, mendampingi peserta selama kegiatan. Keduanya merupakan pelaku yang aktif menekuni dunia batik dan memberikan panduan mulai dari pengenalan alat dan bahan, penggunaan canting hingga cara mengaplikasikan malam pada kain.

Putri Ramadhany Amir, mentor sekaligus penyelenggara kegiatan Malioboro Membatik, mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar batik tidak hanya dikenal sebagai sebuah karya, tetapi juga dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Kami ingin membatik tidak hanya dikenal sebagai sebuah karya, tetapi juga bisa dirasakan secara langsung oleh siapa pun. Ketika kegiatan ini dilakukan di ruang publik seperti Malioboro, masyarakat dan wisatawan bisa spontan ikut belajar dan mengenal budaya Yogyakarta,” ujar Putri.

Menurutnya, antusiasme peserta menunjukkan bahwa batik masih memiliki daya tarik kuat ketika dikemas secara terbuka, interaktif, dan mudah diakses berbagai kalangan.

Sawit Masuk Ruang Kreatif

Penggunaan malam berbasis produk turunan sawit menjadi salah satu pembeda utama kegiatan Malioboro Membatik. Inovasi tersebut memperlihatkan bagaimana komoditas perkebunan dapat memiliki keterkaitan dengan sektor budaya yang selama ini identik dengan bahan dan proses tradisional.

Founder Batik Sawit, CV Smart Batik Indonesia, Miftahudin Nur Ihsan, mengatakan pihaknya senang dapat mengambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Kami senang dapat ikut ambil bagian dalam kegiatan Malioboro Membatik kali ini. Kami berkomitmen untuk terus mendukung upaya-upaya untuk mengenalkan inovasi batik kepada masyarakat,” kata Miftahudin.

Menurut dia, kehadiran Batik Sawit dalam kegiatan tersebut memperkuat pesan bahwa inovasi bahan dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian budaya.

Batik tetap menjadi warisan budaya yang dipelajari dan diwariskan, sekaligus terus membuka ruang bagi pengembangan material dan kreativitas baru,” ujarnya.

Miftahudin merupakan pemenang Championship Inovasi Wastra Nusantara (Citra Nusa) Bank Indonesia 2026.

Kehadiran malam berbasis produk turunan sawit dalam kegiatan membatik di jantung kawasan wisata Yogyakarta itu sekaligus memperluas narasi mengenai hilirisasi kelapa sawit. Sawit tidak hanya dipandang dari sisi komoditas perkebunan, tetapi juga dari peluang menciptakan produk bernilai tambah di berbagai sektor.

Pertemuan antara sawit dan batik di Malioboro pun menunjukkan bahwa inovasi bahan baku dapat menemukan ruang baru di tengah upaya menjaga tradisi. Di tangan pelaku kreatif, produk turunan sawit tidak hanya menjadi bagian dari rantai industri, tetapi turut hadir dalam proses menciptakan karya budaya.

Artikel Terkait