• Senin, 21 September 2026
Berita Terbaru

Bukan Sekadar Teori, 174 Petani OKU Diperkuat Kompetensinya dari Bibit hingga Mekanisasi

Palembang, SAWIT INDONESIA – Mengelola kebun kelapa sawit tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman dan teori. Pekebun perlu memiliki keterampilan teknis yang bisa langsung diterapkan, mulai dari memilih bahan tanam, melakukan pengajiran dan pemupukan, hingga menggunakan alat dan mesin pertanian.

Pendekatan tersebut diterapkan dalam Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit bagi 174 peserta asal Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Angkatan XXIV hingga XXIX di Hotel Beston Palembang, 26–31 Agustus 2026.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training untuk memperkuat kompetensi pekebun kelapa sawit.

Wakil Bupati OKU Marjito Bachari mendorong para pekebun meningkatkan kemampuan dalam mengelola kebun, mulai dari pemilihan bibit hingga pemupukan. Menurutnya, peningkatan kapasitas penting untuk mengoptimalkan produksi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

“Petani bisa berbudidaya secara optimal sehingga menghasilkan produksi yang maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan pekebun,” ujar Marjito.

Dalam pelatihan, peserta tidak hanya menerima materi di ruang kelas, tetapi juga diarahkan memahami penerapannya di lapangan. Pengajiran, misalnya, menjadi salah satu keterampilan penting karena berkaitan dengan penentuan posisi tanaman dan keteraturan kebun.

Pembelajaran juga mencakup penggunaan alat dan mesin pertanian, termasuk traktor. Penguasaan mekanisasi diharapkan membantu pekebun bekerja lebih efektif sekaligus memahami pemanfaatan sarana pendukung dalam kegiatan budidaya.

Prof. Hariyadi dari IPB Training mengatakan, pembelajaran budidaya kelapa sawit perlu memberikan ruang yang cukup bagi peserta untuk melihat dan mempraktikkan langsung materi yang disampaikan.

“Petani tidak cukup hanya mengetahui teorinya, tetapi harus memahami bagaimana pekerjaan tersebut dilakukan di lapangan,” ujar Prof. Hariyadi.

Menurutnya, keterampilan teknis menjadi bagian penting dalam membangun kompetensi pekebun. Setiap tahapan pekerjaan membutuhkan ketepatan agar kegiatan budidaya dapat dilakukan secara efektif dan sesuai prinsip teknis.

Dari pemilihan bibit, pengajiran, pemupukan hingga mekanisasi, rangkaian materi tersebut memperlihatkan bahwa produktivitas kebun tidak hanya ditentukan oleh input produksi. Kemampuan pekebun dalam mengambil keputusan dan menerapkan teknik yang tepat juga menjadi faktor penting.

Tantangan 1,3 Juta Hektare Sawit Sumsel

Penguatan kompetensi pekebun juga menjadi penting karena perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu komoditas strategis di Sumatera Selatan.

Sekretaris Dinas Perkebunan Sumatera Selatan Dian Eka Putra mengatakan, luas perkebunan kelapa sawit di Sumsel mencapai sekitar 1,3 juta hektare dan tersebar hampir di seluruh kabupaten/kota. Bahkan, tanaman sawit juga ditemukan di Kota Palembang, termasuk kawasan Musi 2.

Menurut Dian, sekitar 60 persen perkebunan sawit di Sumsel dikuasai perusahaan, sementara sekitar 35–45 persen merupakan perkebunan masyarakat, baik dalam bentuk plasma, swadaya maupun kepemilikan langsung.

Besarnya perkebunan masyarakat membuat peningkatan kapasitas pekebun menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas sekaligus menghadapi tantangan pengelolaan perkebunan ke depan.

Salah satu tantangan tersebut adalah penerapan regulasi dan standar keberlanjutan, termasuk Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Dian juga menyoroti praktik pembukaan dan peremajaan atau replanting kebun yang masih dilakukan dengan cara membakar.

“Kami menghimbau praktik budidaya dengan cara membakar harus dihilangkan. Lakukan dengan cara yang lebih baik dan tidak melanggar regulasi, karena bisa mencemari kualitas udara dan menimbulkan bahaya lainnya,” tegas Dian.

Karena itu, peningkatan produktivitas perlu berjalan beriringan dengan kepatuhan terhadap regulasi dan perlindungan lingkungan.

Pelatihan bagi 174 pekebun OKU tersebut pada akhirnya tidak hanya diarahkan untuk menambah pengetahuan, tetapi membangun kemampuan praktis yang dapat dibawa pulang dan diterapkan di kebun. Penguatan sumber daya manusia menjadi fondasi agar kebun rakyat dikelola lebih tepat, efisien, produktif, dan berkelanjutan.

Artikel Terkait