Jakarta, SAWIT INDONESIA — Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian sepakat memperkuat pondasi industri kelapa sawit nasional melalui Program Beasiswa SDM Sawit. Fokus utama program ini adalah menyiapkan tenaga kerja terampil di sektor hulu atau perkebunan yang selama ini menjadi tulang punggung industri sawit Indonesia.
Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir - BPDP, Mohammad Alfansyah, menegaskan bahwa beasiswa sawit merupakan program strategis dan akan terus dijalankan selama BPDP masih beroperasi.
"Sepanjang BPDP ada, beasiswa sawit akan terus ada. Ini merupakan salah satu program unggulan dan program wajib BPDP karena menyangkut keberlanjutan sumber daya manusia industri sawit," kata Alfansyah, saat Media Breafing Beasiswa SDM Sawit 2026, pada Selasa (2 Juni 2026) di Jakarta.
Menurutnya, keberhasilan industri sawit tidak hanya ditentukan oleh produktivitas kebun, tetapi juga ketersediaan tenaga kerja yang kompeten. Karena itu, program peremajaan sawit rakyat (PSR) yang saat ini terus didorong pemerintah harus diimbangi dengan regenerasi tenaga kerja di lapangan.
"Jangan sampai kebunnya sudah diremajakan, tetapi tenaga kerjanya tidak siap. Kita harus menyiapkan SDM baru untuk mengelola kebun-kebun yang diremajakan tersebut," ujar Alfansyah.
Lebih lanjut, ia menjelaskan BPDP dan Ditjen Perkebunan sengaja memfokuskan program beasiswa pada jenjang pendidikan vokasi, terutama Diploma 1 dan Diploma 2. Langkah ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan riil industri di tingkat operasional kebun.
"Kami bersepakat dengan Ditjen Perkebunan untuk mengisi pondasinya terlebih dahulu. Percuma punya banyak manajer atau asisten kepala kalau mandor panen, mandor rawat, dan kerani tidak tersedia," katanya.
Karena itu, Beasiswa SDM Sawit menjadi salah satu program yang memberikan dukungan pendidikan hingga jenjang D1 dan D2, sesuatu yang relatif jarang dilakukan oleh program beasiswa lainnya.
"Kalau beasiswa lain banyak berfokus pada S1 atau S2, kami justru memperkuat lapisan dasar piramida SDM perkebunan. Di situlah kebutuhan terbesar industri saat ini," tambahnya.
Dari dari AKPY-STIPER menunjukkan sejak 2017 – 2025 mahasiswa jenjang Diploma 1 untuk calon Mandor dan Kerani setiap tahunnya terus bertambah, 2017 (200 mahasiswa) hingga 2025 (539 mahasiswa).
Meski saat ini fokus masih diarahkan ke sektor hulu, Alfansyah menyebut program tersebut ke depan berpotensi diperluas untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor hilir sawit.
Menurut dia, kebutuhan SDM juga mulai meningkat di pabrik kelapa sawit, industri minyak goreng, biodiesel, hingga oleokimia. Namun, BPDP dan Ditjen Perkebunan menilai kebutuhan paling mendesak saat ini masih berada di tingkat kebun.
"Sebenarnya kebutuhan SDM di hilir juga sudah mulai kami siapkan. Ada kebutuhan di pabrik kelapa sawit, minyak goreng, biodiesel, dan oleokimia. Tetapi saat ini kami masih bersepakat untuk memprioritaskan sektor hulu karena di sanalah kebutuhan terbesar industri sawit nasional," ujarnya.
Melalui pendekatan tersebut, BPDP dan Ditjen Perkebunan berharap Program Beasiswa SDM Sawit tidak hanya membuka akses pendidikan bagi anak pekebun dan pelaku industri sawit, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam menyiapkan regenerasi tenaga kerja dan menjaga keberlanjutan industri sawit Indonesia dari hulu hingga hilir.














