• Minggu, 20 September 2026
Berita Terbaru

Borneo Forum 2026: Kementan Dorong Transformasi Industri Sawit Berbasis Produktivitas

Balikpapan, Kaltim, SAWIT INDONESIA — Peningkatan produktivitas menjadi pekerjaan rumah utama industri kelapa sawit nasional di tengah tuntutan menjaga daya saing dan memperkuat kontribusi komoditas tersebut terhadap ekonomi Indonesia.

Kementerian Pertanian (Kementan) menilai salah satu kunci untuk menjawab tantangan tersebut adalah mempercepat penggunaan benih sawit unggul, penerapan teknologi budidaya, serta memperkuat kemitraan antara perusahaan dan pekebun rakyat.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Perkebunan Kementan Heru Tri Widarto mengatakan transformasi industri sawit harus diarahkan pada peningkatan produktivitas, inovasi, dan keterlibatan pekebun dalam rantai nilai industri.

“Industri kelapa sawit Indonesia harus terus bertransformasi menjadi industri yang produktif, inovatif, inklusif, tangguh, dan berdaya saing global,” ujar Heru dalam 9th Borneo Forum di Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (6 Agustus 2026).

Forum tahunan yang diselenggarakan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) tersebut memasuki penyelenggaraan ke-9 dengan tema Resilience, Innovation, and Transformation: Empowering the Palm Oil Industry Beyond Sustainability.

Menurut Heru, penyediaan benih unggul berkualitas menjadi salah satu faktor paling penting untuk meningkatkan produksi sawit nasional. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan peningkatan hasil kebun, tetapi juga kemampuan industri memenuhi kebutuhan dalam negeri dan mendukung pengembangan hilirisasi.

“Salah satu yang harus menjadi perhatian adalah penyediaan benih unggul berkualitas sebagai fondasi peningkatan produksi dan produktivitas sawit nasional guna memenuhi kebutuhan dalam negeri, mendukung industri hilir, sekaligus memperkuat kontribusi sebagai penghasil devisa,” katanya.

Heru menekankan perusahaan perkebunan perlu terus mengadopsi inovasi dan teknologi untuk meningkatkan produktivitas.

“Fokus pembangunan sawit ke depan adalah meningkatkan produktivitas melalui penggunaan benih unggul, penerapan teknologi budidaya, penguatan SDM pekebun, serta kemitraan yang kuat antara perusahaan dan pekebun rakyat,” ujarnya.

Pekebun Rakyat Jadi Kunci

Selain persoalan produktivitas, pemerintah menilai masa depan industri sawit sangat bergantung pada keberhasilan pembangunan perkebunan rakyat.

Heru mengatakan pekebun harus menjadi bagian utama dalam rantai nilai industri sawit, termasuk melalui peningkatan akses terhadap pembiayaan, teknologi, pasar, dan pendampingan usaha.

Dia pun mendorong perusahaan memperkuat pola kemitraan yang memberikan manfaat bagi kedua pihak.

“Perusahaan perlu memperkuat kemitraan yang saling menguntungkan dengan pekebun rakyat agar manfaat pembangunan industri sawit dapat dirasakan secara lebih luas,” katanya.

Menurut Heru, pendekatan tersebut penting karena peningkatan produktivitas sawit tidak cukup hanya dilakukan melalui perkebunan perusahaan. Perbaikan produktivitas kebun rakyat juga menjadi bagian penting untuk memperkuat daya saing industri secara keseluruhan.

Kementan menilai kelapa sawit tetap menjadi komoditas strategis karena berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan penerimaan devisa.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan pemerintah terus mendorong penguatan subsektor perkebunan sebagai salah satu penopang ketahanan pangan, energi, dan perekonomian nasional.

Menurut Amran, sawit merupakan aset strategis bangsa sehingga produktivitasnya harus terus ditingkatkan melalui inovasi, penggunaan benih unggul, hilirisasi, dan penguatan kemitraan dengan pekebun.

“Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, dan petani, industri sawit Indonesia akan semakin tangguh, berdaya saing, dan mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi kesejahteraan masyarakat serta perekonomian nasional,” ujarnya.

Artikel Terkait