• Minggu, 4 Oktober 2026
Berita Terbaru

Asian Agri dan Apical Yakin Target Keberlanjutan 2030 Tercapai

Jakarta, SAWIT INDONESIA – Dua entitas bisnis dari RGE Group yaitu Asian Agri dan Apical sampaikan perkembangan komitmen berkelanjutan dalam menjalankan bisnisnya di sektor industri kelapa sawit. Kedua perusahaan ini memiliki komitmen dikemas dengan AsianAgri2030 dan Apical2030 yang telah diluncurkan pada 2022 lalu.

Johan Kurniawan, Director of Corporate Affairs RGE Palm Business, menyampaikan komitmen keberlanjutan kedua perusahaan selaras dengan pedoman Pembangunan Berkelanjutan PBB (UNSDGs) yang diimplementasikan dengan berpegang pada filosofi usaha RGE yakni 5Cs - Good for Community, Country, Climate, Customer, dan Company.

"Bahwa nilai strategis komoditas Kelapa Sawit merupakan elemen kunci perekonomian nasional mulai dari kontribusi devisa hingga penyedia lapangan kerja. Keberadaan industri sawit merupakan bagian integral dari upaya peningkatan kesejahteraan petani rakyat khususnya yang tergabung dalam program kemitraan dan intiplasma," ujarnya di acara Buka Puasa Bersama bareng Media, di Jakarta, pada Jum’at (14 Maret 2025).

"Sebagai produsen dan pengolah minyak sawit, Asian Agri dan Apical beroperasi dengan mengedepankan prinsip berkelanjutan yang bertanggung jawab sehingga produk yang dihasilkan mendatangkan kebermanfaatan. Mulai dari kebutuhan domestik rumah tangga seperti minyak goreng hingga bahan bakar, singkatnya #DariDapurSampaiAvtur," tambah Johan.

Sebagai rangkaian menuju industri sawit berkelanjutan, Asian Agri meluncurkan komitmen dan juga strategi jangka panjang yang berfokus pada empat pilar utama, yaitu Kemitraan Dengan Petani, Pertumbuhan Inklusif, Iklim Positif dan Produksi yang Bertanggung Jawab dan Berkelanjutan.

Asian Agri percaya bahwa keberadaan perusahaan memiliki tujuan memberikan nilai positif bagi petani, masyarakat, dan juga lingkungan. Setelah dua tahun berjalan, Asian Agri mencatatkan perkembangan yang relatif positif, terutama pada Pilar Kemitraan dengan Petani dan Pilar Pertumbuhan Inklusif. Beberapa target pada kedua pilar ini telah berkembang dengan sangat baik sesuai dengan yang diharapkan.

Peran petani penting

Pada kesempatan yang sama, Leonardo Yapardi, Sustainability Manager Asian Agri mengatakan petani kelapa sawit memegang peranan yang penting dalam keberlanjutan Asian Agri, untuk itu kami memiliki komitmen untuk mensertifikasi semua petani mitra dengan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) di tahun 2025.

"Hingga 2024, Asian Agri telah membantu 11 KUD memperoleh sertifikasi ISPO atau setara 49 % dari target. Melalui semangat #BermitraLebihBaik, Asian Agri mendorong KUD untuk memulai proses sertifikasi sesuai dengan kebijakan pemerintah tentang kewajiban ISPO di tahun 2025," kata Leo.

Untuk diketahui, pada Pilar Pertumbuhan Inklusif Asian Agri 2030 telah menyentuh 34% target dalam bentuk pelatihan vokasi kepada lebih dari 1.700 orang, mendukung pembentukan UMKM di 54 desa dari total 159 desa di sekitar daerah operasional yang terletak di Sumatra Utara, Riau dan Jambi.

Kemudian, melalui program bag-to-school, Asian Agri 2030 juga telah mendistribusikan lebih dari 1.300 paket pendidikan kepada murid-murid SD, SMP, SMA, dimana target kami adalah sebanyak 5.000 murid.

Leo menambahkan bahwa Asian Agri akan terus melakukan serangkaian program dan inisiatif dengan bekerja sama dengan pihak-pihak terkait agar memastikan pencapaian target di tahun 2030. "Kami optimis dapat mencapai seluruh target tersebut dalam lima tahun kedepan," pungkasnya.

Memasuki tahun ketiga, Apical 2030 mencatatkan beberapa kemajuan positif atas target-targetnya, dalam Pilar Kemajuan inklusif, Apical telah menjangkau 12 desa di Aceh Singkil dan 3 desa di Kutai Timur dari target 30 desa untuk program Sustainable Living Villages (SLV) atau Desa Berkelanjutan. Selain memberdayakan masyarakat, mengurangi kemiskinan, dan mendorong inklusi, SLV juga mendorong petani untuk memiliki pendapatan alternatif, seperti budidaya madu Trigona di Aceh Singkil dan budidaya kakao di Kutai Timur.

Terkait dengan Kemajuan Inklusif yang dilakukan Apical Group, Hendra Hosea, Sustainability Manager Apical mengutarakan melalui program SLV, pihaknya berkomitmen membantu petani swadaya dalam mewujudkan perkebunan sawit berkelanjutan.

"Salah satunya melalui pelatihan cara berkebun yang sesuai dengan prinsip berkelanjutan agar petani mendapatkan Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) dan akses fasilitas pengembangan dari pemerintah yang merupakan dasar menuju ISPO dan RSPO," katanya.

Kemajuan positif juga terlihat dari target dukungan kepada 5.000 petani swadaya untuk mendapatkan sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) pada 2030. Dalam mencapai target tersebut, Apical bersama Asian Agri dan KAO meluncurkan program, SMILE (SMallholder Inclusion for better Livelihood & Empowerment) pada tahun 2020, berfokus pada peningkatan produktivitas, peningkatan pendapatan, dan sertifikasi RSPO. Hingga kini SMILE telah melibatkan 3.489 petani swadaya dan 1.373 petani swadaya telah mencapai sertifikasi RSPO.

"Sejauh ini, implementasi Apical2030 masih on target. Untuk Pilar Kemitraan Transformatif, di mana target kolaborasi dengan para pemasok untuk mencapai NDPE sebesar 100%, kini kami telah mencapai 93%. Secara garis besar, saat ini sudah 68% terealisasi, sedangkan untuk Pilar Aksi Iklim, yang mana kami memiliki target untuk mengurangi 50% intensitas emisi gas rumah kaca (GRK) pada tahun 2030, kini kami berhasil menurunkan 21% GRK. Untuk Pilar Inovasi Hijau, kami memanfaatkan inovasi untuk operasi yang semakin berkelanjutan. Hingga saat ini, sekitar 87% sudah terealisasi dan 13% masih on progress," tambah Hendra.

Melalui AsianAgri2030 dan Apical2030, kedua perusahaan berkomitmen untuk memberikan kontribusi positif terhadap iklim, lingkungan, dan masyarakat, sekaligus mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Artikel Terkait