Palu, SAWIT INDONESIA - Transformasi digital di sektor perkebunan kelapa sawit mulai menjangkau pekebun rakyat. Sebanyak 26 pekebun asal Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, mengikuti Pelatihan Teknik Pemetaan Lokasi Perkebunan Kelapa Sawit yang diselenggarakan PT Daya Guna Lestari (DGL Learning Institute) bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2026.
Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI, dan DGL Learning Institute dalam upaya memperkuat kapasitas sumber daya manusia perkebunan melalui penguasaan teknologi dan pengelolaan kebun berbasis data.
Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan pekebun dalam memahami data spasial, pemetaan lokasi kebun, penentuan batas lahan, hingga pengelolaan informasi kebun secara lebih akurat dan terukur. Tidak hanya menerima materi di kelas, peserta juga terlibat langsung dalam praktik pemetaan di lapangan.
Direktur Utama PT Daya Guna Lestari, M. Gema Aliza Putra, menegaskan bahwa kemampuan pemetaan menjadi kebutuhan penting dalam pengelolaan perkebunan modern. Menurutnya, pengambilan keputusan di sektor perkebunan ke depan harus didukung oleh data yang valid.
“Ke depan, pengelolaan kebun tidak bisa hanya mengandalkan ingatan atau perkiraan. Kebun harus mulai dikelola dengan data. Dengan pemetaan, pekebun dapat mengetahui lokasi, batas, kondisi lahan, dan informasi kebunnya secara lebih baik,” ujar Gema di Palu.
Selama pelatihan, peserta memperoleh pemahaman mengenai dasar-dasar pemetaan perkebunan, penggunaan teknologi drone, teknik pengambilan data lapangan, pengolahan hasil penerbangan, hingga proses digitasi untuk menghasilkan peta polygon.
Berbeda dengan pelatihan yang umumnya dilakukan melalui kunjungan ke perusahaan perkebunan, kegiatan ini menitikberatkan pada praktik langsung. Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk melakukan simulasi pemetaan secara menyeluruh, mulai dari perencanaan area, penerbangan drone, pengambilan data, pengolahan hasil, hingga penyusunan peta polygon.
Menurut Gema, pendekatan praktik lapangan dipilih agar peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mengalami secara langsung seluruh tahapan teknis pemetaan.
“Belajar pemetaan tidak cukup hanya dari teori. Peserta harus melihat langsung bagaimana drone diterbangkan, bagaimana data diambil, diolah, hingga menjadi peta polygon yang bisa digunakan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemetaan merupakan keterampilan teknis yang membutuhkan pengalaman lapangan. Karena itu, peserta diajak untuk terlibat aktif dalam setiap tahapan proses sehingga memahami bagaimana data kebun dikumpulkan dan diolah secara sistematis.
“Dalam pelatihan ini, peserta tidak hanya mendengar penjelasan. Mereka ikut praktik, melihat prosesnya, berdiskusi, mengolah data, dan menghasilkan output. Ini yang membuat pelatihan menjadi lebih hidup dan aplikatif,” tambahnya.
Salah satu hasil nyata dari pelatihan tersebut adalah setiap kelompok peserta berhasil menghasilkan peta polygon berdasarkan data yang mereka kumpulkan sendiri selama praktik. Hasil tersebut menunjukkan bahwa peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengikuti alur kerja pemetaan secara langsung.
Bagi pekebun, peta polygon memiliki manfaat strategis karena dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai luasan kebun, batas lahan, serta potensi pengelolaan yang lebih terarah.
“Peta polygon ini bukan hanya gambar. Ini adalah data. Dari data inilah pekebun bisa mulai memahami kebunnya dengan lebih baik. Ketika kebun sudah terdata, maka perencanaan, monitoring, dan pengambilan keputusan juga akan menjadi lebih mudah,” ungkap Gema.
Kemampuan pemetaan, lanjutnya, juga berperan penting dalam mendukung berbagai aspek tata kelola perkebunan, mulai dari perencanaan budidaya, identifikasi kondisi lahan, penghitungan luasan, monitoring tanaman, hingga kebutuhan administrasi kebun yang lebih tertib.
Ia menilai pemahaman terhadap teknologi seperti drone dan pemetaan digital merupakan bagian dari transformasi penting yang perlu diikuti oleh pekebun rakyat.
“Teknologi seperti drone dan pemetaan digital harus semakin dekat dengan pekebun. Bukan berarti semua pekebun harus menjadi ahli teknologi, tetapi mereka perlu memahami manfaatnya dan bagaimana teknologi tersebut dapat membantu pengelolaan kebun,” katanya.
Sebagai lembaga pelatihan, DGL Learning Institute menegaskan komitmennya untuk menghadirkan program yang praktis, aplikatif, dan sesuai dengan kebutuhan lapangan. Dalam pelatihan ini, peserta dibimbing mulai dari teori dasar hingga praktik teknis secara menyeluruh.
Menurut Gema, keberhasilan pelatihan tidak hanya diukur dari terselenggaranya kegiatan, tetapi dari sejauh mana peserta mampu menerapkan ilmu yang diperoleh.
“Kami tidak ingin peserta hanya hadir, mendengar, lalu pulang membawa sertifikat. Kami ingin peserta benar-benar mendapatkan ilmu dan pengalaman yang dapat diterapkan di lapangan,” ujarnya.
Untuk memperkuat proses pembelajaran, DGL juga memanfaatkan Learning Management System (LMS) yang memungkinkan peserta mengakses materi, memperoleh penguatan pembelajaran, serta mengikuti proses monitoring pascapelatihan.
Melalui LMS tersebut, DGL akan melakukan pemantauan terhadap implementasi materi yang telah diterima peserta, termasuk melalui kajian kebun dan penguatan materi secara berkelanjutan.
“Monitoring ini bukan hanya administratif, tetapi menjadi bagian dari upaya untuk melihat bagaimana ilmu yang diterima dapat ditindaklanjuti dan diterapkan di lapangan,” jelas Gema.
Ia menambahkan bahwa setiap kebun memiliki karakteristik yang berbeda, mulai dari luas lahan, topografi, akses, hingga kondisi tanaman. Karena itu, pemetaan menjadi instrumen penting untuk membantu pekebun memahami kondisi kebun secara lebih objektif.
“Dengan adanya kajian kebun, peserta dapat lebih memahami kondisi nyata di lapangan. Pemetaan membantu peserta melihat kebunnya secara lebih objektif, bukan hanya berdasarkan perkiraan. Dari situ, solusi pengelolaan kebun bisa lebih tepat,” katanya.
Melalui pelatihan ini, para pekebun Morowali diharapkan semakin siap menghadapi tuntutan tata kelola perkebunan yang modern, tertib, dan berbasis informasi. Keterampilan pemetaan yang diperoleh dapat menjadi bekal penting untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam pengelolaan kebun.
“Sertifikat bisa disimpan di map, tetapi ilmu akan hidup di kebun. Dalam pelatihan ini, peserta bahkan sudah belajar menghasilkan peta polygon. Artinya, mereka pulang bukan hanya membawa teori, tetapi juga pengalaman praktik yang nyata,” tegas Gema.
Melalui sinergi BPDP, Direktorat Jenderal Perkebunan, dan DGL Learning Institute, Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2026 diharapkan menjadi bagian dari upaya nasional untuk memperkuat kapasitas SDM perkebunan Indonesia menuju sektor yang lebih produktif, modern, dan berkelanjutan.
“Teknologi boleh semakin maju, sistem boleh semakin berkembang, tetapi jika SDM-nya tidak disiapkan, maka kemajuan itu tidak akan berjalan maksimal. Karena itu, kami percaya bahwa penguatan SDM adalah fondasi penting bagi masa depan perkebunan Indonesia,” tutup Gema.














