Balikpapan, SAWIT INDONESIA – Sebanyak 156 pekebun kelapa sawit asal Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, mendapatkan pembekalan teknis panen dan pascapanen melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit 2026. Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan pekebun dalam menerapkan praktik panen yang sesuai standar sehingga mampu menghasilkan tandan buah segar (TBS) berkualitas, menekan kehilangan hasil, dan meningkatkan pendapatan usaha tani.
Selama pelatihan, peserta memperoleh materi yang mencakup seluruh tahapan panen dan pascapanen. Materi diawali dengan pemahaman mengenai falsafah dan regulasi panen serta pascapanen sebagai dasar penerapan praktik yang sesuai standar. Selanjutnya, peserta dibekali pengetahuan mengenai organisasi dan sistem panen agar kegiatan panen dapat dilakukan secara efektif dan efisien.
Tidak hanya itu, pekebun juga mempelajari berbagai persiapan yang harus dilakukan sebelum panen, memahami kriteria matang panen untuk menentukan waktu panen yang tepat, hingga melakukan taksasi produksi sebagai dasar perencanaan kebutuhan tenaga kerja dan pengangkutan hasil panen.
Pada sesi praktik teknis, peserta mendapatkan pembelajaran mengenai teknik memanen yang benar untuk meminimalkan kerusakan tandan maupun pohon. Mereka juga mempelajari penanganan hasil panen, baik tandan buah segar maupun brondolan, serta pengelolaan tajuk tanaman guna mendukung produktivitas kebun secara berkelanjutan.
Materi pelatihan ditutup dengan pembelajaran mengenai sistem pengangkutan hasil panen dan ketelusuran (traceability), sehingga TBS yang dihasilkan dapat dipertahankan kualitasnya hingga tiba di pabrik pengolahan. Penerapan ketelusuran juga menjadi bagian penting dalam mendukung tata kelola perkebunan yang semakin profesional dan berkelanjutan.
Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, mengatakan bahwa peningkatan produktivitas kebun sawit tidak cukup hanya mengandalkan pemeliharaan tanaman. Menurutnya, keberhasilan panen dan penanganan pascapanen memiliki kontribusi besar terhadap kualitas minyak sawit yang dihasilkan serta nilai jual TBS di tingkat pekebun.
"Panen merupakan ujung dari seluruh proses budidaya. Kesalahan dalam menentukan tingkat kematangan buah, cara memanen, maupun penanganan setelah panen dapat menyebabkan kehilangan hasil dan menurunkan kualitas TBS. Karena itu, pekebun perlu memahami seluruh tahapan panen dan pascapanen secara menyeluruh," ujar Dr. Idum Satia Santi.
Ia menjelaskan, pelatihan ini disusun agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya di lapangan sesuai prinsip Good Agricultural Practices (GAP). Dengan demikian, setiap tandan buah yang dipanen memiliki kualitas optimal dan memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi pekebun.
Menurutnya, pengelolaan panen yang baik juga berkontribusi terhadap efisiensi operasional kebun. Melalui perencanaan panen, taksasi produksi yang akurat, serta sistem pengangkutan yang baik, kehilangan hasil dapat ditekan dan proses pengiriman TBS ke pabrik menjadi lebih cepat sehingga kadar asam lemak bebas (ALB) tetap rendah.
"Harapan kami, setelah mengikuti pelatihan ini para peserta dapat menjadi contoh di daerahnya masing-masing dalam menerapkan teknik panen dan pascapanen yang benar. Pengetahuan yang diperoleh juga diharapkan dapat ditularkan kepada pekebun lain sehingga produktivitas dan kualitas sawit rakyat terus meningkat," tambahnya.
Melalui pelatihan ini, para pekebun diharapkan mampu mengelola kegiatan panen secara lebih profesional, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga penanganan hasil panen. Penerapan teknik yang tepat tidak hanya meningkatkan produktivitas dan kualitas TBS, tetapi juga memperkuat daya saing sawit rakyat dalam mendukung pembangunan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.






