2. PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk
Dalam surat keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) tertanggal 15 Oktober 2026, perusahaan menyatakan karhutla tidak menimbulkan dampak negatif material terhadap kegiatan operasional.
Wakil Direktur Utama PT SMART Tbk, Jimmy Pramono, menyebutkan areal konsesi perkebunan perusahaan tersebar di Sumatera Utara, Jambi, Bangka Belitung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah.
Kebijakan antisipasi El Niño pada tahun 2026, emiten berkode SMAR ini memperkuat langkah-langkah mitigasi risiko karhutla yang terbagi menjadi strategi jangka pendek dan jangka panjang.
Dari jangka Pendek dilakukan penyiagaan seluruh personel terlatih di unit perkebunan yang didukung oleh peralatan pemadam kebakaran memadai.
Pemanfaatan teknologi canggih seperti CCTV berbasis kecerdasan buatan (AI) di beberapa kebun untuk memberikan peringatan dini terhadap hotspot, serta pemanfaatan drone dan satelit.
Mengoperasikan aplikasi terintegrasi GeoSMART Fire dan mengaktifkan SMART Room Karhutla sebagai pusat koordinasi pemantauan dan verifikasi data kebakaran dari berbagai sumber
Sedangkan dari jangka panjang, secara konsisten perusahaan menerapkan Kebijakan Tanpa Bakar (Zero Burning) sejak tahun 1997 dan Kebijakan Tanpa Gambut (No Peat) sejak tahun 2010, yang juga diwajibkan bagi seluruh entitas anak dan rantai pasok pemasok.
Selanjutnya, menjalin kemitraan dengan 19 desa melalui program Desa Bebas Api serta program pengelolaan gambut berbasis masyarakat yang bekerja sama dengan pemerintah untuk mengedukasi warga dan anak sekolah.














