Jakarta, SAWIT INDONESIA – Persoalan kebakaran lahan dan hutan (karhutla) telah menjadi perhatian serius pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam dua bulan terakhir. Perkebunan sawit menjadi salah satu sektor yang paling disoroti berkaitan penyebab karhutla.
Redaksi sawitindonesia.com dan Majalah SAWIT INDONESIA melakukan riset didukung survei kepada 500 pembaca dari 100 ribu data pembaca berkaitan emiten (perusahaan di Bursa Efek Indonesia/BEI) sawit yang paling tanggap dan antisipatif terhadap masalah karhutla. Saat ini, jumlah emiten sawit mencapai 28 perusahaan yang terdaftar di BEI.
Adapun riset yang dilakukan melalui data primer yang bersumber dari informasi kebijakan dan siaran pers berkaitan kebijakan perusahaan dalam pengendalian dan mitigasi karhutla. Selain itu, kami juga melakukan pemantauan data melalui layanan kecerdasan artifial yaitu ChatGPT dan Gemini.
Tahapan berikutnya, kami melakukan survey kepada 500 pembaca sawitindonesia.com dan Majalah SAWIT INDONESIA untuk memberikan penilaian kepada kebijakan emiten sawit berkaitan mitigasi karhutla.
Berikut ini 5 emiten sawit yang tanggap dan memiliki kebijakan karhutla yang komprehensif yaitu:
1. PT Triputra Agro Persada Tbk
PT Triputra Agro Persada Tbk telah mengimplementasikan Kebijakan Kelapa Sawit Berkelanjutan tanpa bakar (Zero Burning Policy) di seluruh aktivitas seperti pembukaan lahan (land clearing) maupun peremajaan kebun (replanting) sejak 2005.
Dalam keterbukaan informasi di BEI, areal konsesi perkebunan sawit perusahan tersebar di Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.
“Perseroan tidak sedang menghadapi atau berpotensi menghadapi proses hukum dan/atau sanksi administratif terkait karhutla,” ujar Joni Tjeng, Sekretaris Perusahaan PT Triputra Agro Persada Tbk dalam keterbukaan informasi, Kamis (15 Oktober 2026).
Memasuki peringatan El Nino sejak awal tahun ini, emiten berkode TAPG ini merancang Fire Danger Rating System (FDRS) sebagai alat prediksi Risiko kebakaran yang dikombinasikan dengan sistem deteksi dini (Early Warning System) berbasis satelit LAPAN.
Dari segi sarana dan prasarana, perusahaan juga mengikuti aturan pemerintah berkaitan mitigasi dan pengendalian karhutla seperti Permentan 6/2025, dan PermenLHK 32/2016. Perseroan memiliki 21 Regu Satgas Karhutla dengan 3.425 personel, 354 unit embung air, 312 menara pantau api, dan 73 unit drone.
Selain itu, perusahaan juga melibatkan masyarakat dengan pembentukan Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) di setiap desa sekitar operasional serta menggandeng Manggala Agni.
Dari aspek komunikasi kepada media dan masyarakat, perusahaan aktif mengajak jurnalis melalui kegiatan kunjungan di perkebunan sawitnya untuk melihat secara langsung kesiapan mitigasi serta pengendalian karhutla.














