JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Sekitar 41 persen tenaga kerja di sektor pertanian pangan global merupakan kaum perempuan. Di Indonesia sendiri, kontribusi tersebut mencapai 38 persen atau sekitar 14,81 juta jiwa yang bertindak sebagai tulang punggung penanaman, pengolahan, hingga penyaluran hasil tani ke pasar.
Meski memegang peran krusial dalam menjaga ketahanan pangan keluarga dan menghidupkan perekonomian desa, perempuan petani sering kali masih menghadapi tantangan ketimpangan akses terhadap kepemilikan lahan, pelatihan teknis agronomi, serta pembiayaan modal usaha.
Memperingati Hari Perempuan Pedesaan Internasional (International Day of Rural Women) pada 15 Oktober, Sinar Mas Agribusiness and Food menegaskan komitmennya untuk meruntuhkan hambatan-hambatan tersebut melalui serangkaian program pemberdayaan berkelanjutan.
Langkah ini diwujudkan melalui inisiatif strategis seperti Bright Future Initiative, Sawit Terampil, serta pendampingan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) guna memberikan kepastian sumber daya, pengetahuan, hingga sertifikasi keberlanjutan bagi kaum perempuan.
Poin-poin utama tantangan petani perempuan, dampak program inklusif, serta kisah inspiratif penggerak di lapangan meliputi:
- Tantangan Iklim dan Finansial: Dalam situasi perubahan iklim yang ekstrem dan kelesuan ekonomi, keterbatasan akses sumber daya makin memperkecil jaminan kesejahteraan perempuan petani. Menciptakan sektor agrikultur yang tangguh membutuhkan pemberian keleluasaan berpendapat dan kewenangan mengambil keputusan bagi perempuan.
- Akses Pengetahuan dan Sertifikasi: Melalui pelatihan Sawit Terampil, para petani perempuan dibekali dengan praktik budidaya terbaik (Good Agricultural Practices), tata kelola lingkungan, serta sertifikasi yang meningkatkan nilai tawar dan hasil panen kebun mereka.
- Kisah Empat Tokoh Penggerak Desa: Mengangkat kisah nyata empat sosok perempuan tani, Sutiyem, Siti, Fasiah, dan Risniati, program ini membuktikan bahwa dengan akses pendidikan dan modal yang setara, perempuan mampu bertransformasi dari sekadar tenaga kerja menjadi mentor, pemimpin kelompok tani, hingga pengusaha lokal yang menginspirasi komunitasnya.
- Dampak Sektor Terhadap Ekonomi Lokal: Penerapan metode bercocok tanam baru tidak hanya mendongkrak produktivitas dan pendapatan keluarga petani, tetapi juga memicu pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar secara inklusif.
“Kaum perempuan telah mulai memberi sentuhan nyata dalam membentuk sektor agrikultur masa depan. Bila kaum perempuan berkembang dan diberikan kesempatan yang luas, seluruh komunitas masyarakat pun akan ikut berkembang bersama-sama.”
Sumber: smart-tbk.com














