• Rabu, 23 September 2026
Berita Terbaru

20 Tahun Berkebun, I Made Ruja Baru Sadar: Sawit Bukan Sekadar Tanaman, Tapi Bisnis

LUWUK, SAWIT INDONESIA — Dua puluh tahun mengelola kelapa sawit tidak membuat I Made Ruja merasa sudah selesai belajar. Justru setelah mengikuti pelatihan teknis budidaya kelapa sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 di Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, ia mengaku mendapatkan cara pandang baru tentang masa depan perkebunan sawit.

Pelatihan yang diikuti 186 peserta yang terdiri atas pekebun dan penyuluh tersebut diselenggarakan oleh Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).

Kegiatan berlangsung selama enam hari, 15–20 September 2026, dengan rangkaian pembelajaran yang dilaksanakan di dua hotel ternama di Luwuk. Selain pembelajaran di kelas, peserta juga mendapatkan kesempatan memperluas wawasan melalui pembelajaran lapangan.

Bagi Ruja, pelatihan tersebut bukan sekadar kegiatan belajar di ruang kelas. Ia menyebut pelatihan itu membuka wawasan bahwa menjadi pekebun sawit membutuhkan pengetahuan, kemampuan mengelola kebun, serta keberanian untuk terus meningkatkan kapasitas diri.

“Kami bangga menjadi petani sawit. Dengan adanya pelatihan, wawasan kami bisa terbuka. Ternyata prospek sawit itu ke depan begini,” kata Ruja saat menyampaikan kesan dan pesan pada penutupan pelatihan di Luwuk, Minggu (20/9/2026).

Ruja mengatakan, pengalaman dua dekade mengelola sawit membuatnya terbiasa dengan praktik di lapangan. Namun, pelatihan tersebut mempertemukannya dengan pengetahuan dan pengalaman dari pekebun lain yang memiliki tingkat kemampuan berbeda.

Menurut dia, peserta pelatihan berasal dari latar belakang yang beragam. Ada pekebun pemula, pekebun yang sudah berpengalaman, hingga pekebun yang dinilai telah profesional.

Kondisi tersebut justru menjadi kekuatan pelatihan

“Di kelas ini kami heterogen. Ada yang petani pemula, ada yang petani sudah maju, sudah pintar, dan ada yang sudah profesional. Sehingga dalam pelatihan ini betul-betul kami bisa sharing, saling tukar ilmu,” ujarnya.

Bukan Sekadar Duduk di Kelas

Ruja menilai pendekatan pelatihan yang mengedepankan diskusi dan pertukaran pengalaman membuat peserta tidak hanya menjadi penerima materi. Mereka juga dapat membagikan persoalan dan praktik yang selama ini dihadapi di kebun.

Ia mengapresiasi para instruktur yang mampu membuat suasana kelas tetap hidup meskipun pembelajaran berlangsung dari pagi hingga sore.

“Kalau biasanya pelatihan itu monoton diberikan materi oleh instruktur, kalau kegiatan ini tidak. Kami lebih banyak sharing,” katanya.

Bagi Ruja, model pembelajaran seperti itu penting karena ilmu yang diperoleh tidak berhenti sebagai pengetahuan baru. Peserta diharapkan dapat membawa hasil pembelajaran tersebut ke kebun masing-masing.

“Teman-teman peserta pulang memang betul-betul sudah ada ilmu yang bisa mereka bawa dan aplikasikan di lokasi kebunnya masing-masing,” ujarnya.

Dengan demikian, keberhasilan pelatihan menurut Ruja tidak cukup dilihat dari berakhirnya kegiatan atau diterimanya sertifikat. Yang lebih penting adalah apakah pengetahuan yang diperoleh benar-benar diterapkan dan menghasilkan perubahan dalam pengelolaan kebun.

Dari Budidaya ke Pascapanen

Ruja juga tidak ingin pelatihan berhenti pada peningkatan kemampuan budidaya. Menurutnya, setelah pekebun mampu menghasilkan tanaman dan produksi yang baik, tahapan berikutnya adalah memastikan hasil tersebut dikelola dengan benar.

“Pelatihan ini baru budidaya. Masih ada beberapa pelatihan yang harus kita lanjutkan, yaitu pelatihan pascapanen,” katanya.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Banggai melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) dapat terus memperjuangkan program peningkatan kapasitas pekebun.

“Kami mohon pelatihan ini berlanjut, dari budidaya mungkin ke pascapanen,” ujarnya.

Menurut dia, kesinambungan pelatihan penting agar peningkatan kompetensi pekebun tidak berhenti pada satu tahapan. Pengetahuan tentang budidaya perlu disambungkan dengan kemampuan mengelola hasil dan aspek lain dalam usaha perkebunan.

Pengalaman 20 Tahun, Belajar Lagi

Menariknya, Ruja mengaku sudah sekitar 20 tahun mengelola sawit. Namun, ia baru kali ini mengikuti pelatihan budidaya yang berlangsung hampir satu minggu dan dilaksanakan di hotel berbintang.

“Ini kegiatan yang sangat luar biasa. Saya pribadi mungkin sudah mengolah sawit kurang lebih 20 tahun, tetapi baru sekarang ada kegiatan pelatihan budidaya tanaman kelapa sawit yang dilaksanakan di hotel berbintang,” katanya.

Menurut Ruja, fasilitas dan suasana pelatihan memberikan pengalaman tersendiri bagi peserta. Namun, ia menegaskan bahwa nilai utama kegiatan bukan semata-mata pada tempat pelaksanaannya, melainkan kesempatan untuk belajar, berdiskusi, dan memperluas wawasan.

Ia mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Banggai, khususnya Dinas TPHP, serta AKPY yang telah memfasilitasi pelatihan tersebut dengan dukungan BPDP dan Ditjenbun.

Apresiasi juga disampaikan kepada PT Kurnia Luwuk Sejati (KLS) yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk belajar langsung melalui kegiatan lapangan.

Bagi Ruja, pengalaman mengikuti pelatihan sekaligus menjadi ruang membangun jejaring antarpeserta. Enam hari bersama tidak hanya digunakan untuk belajar, tetapi juga menjadi kesempatan bertukar pengalaman dan memperkuat silaturahmi.

Ia berharap kegiatan serupa kembali digelar sehingga proses peningkatan kapasitas pekebun dapat berlangsung secara berkelanjutan.

“Harapan kami yang terakhir, pelatihan ini tidak berhenti sampai di sini. Kita akan ketemu di waktu berikutnya dan tentu hubungan silaturahmi ini tetap kita jaga,” pungkasnya.

Artikel Terkait