Bengkulu, SAWIT INDONESIA — Sebanyak 156 pekebun kelapa sawit dari Kabupaten Mukomuko dan Bengkulu Utara menuntaskan Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit serta Panen dan Pascapanen dalam Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 di Bengkulu.
Pada penutupan pelatihan, Selasa (1/9/2026), Indra Kurniawan S.P, M.P dari Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), mewakili Direktur AKPY Dr. Sri Gunawan, mendorong peserta tidak berhenti pada pengetahuan yang diperoleh selama enam hari pelatihan. Ilmu tersebut diharapkan langsung diterapkan di kebun masing-masing dan dibagikan kepada pekebun lainnya.
“Kalau pelatihan ini dianggap memberikan manfaat dan nilai tambah, mohon bisa disampaikan kepada teman-teman di kampung masing-masing,” kata Indra.
Menurutnya, pelatihan yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) tersebut tidak sekadar memenuhi kewajiban penyelenggara, tetapi dirancang untuk meningkatkan kompetensi pekebun agar mampu mengelola kebun secara lebih baik.
Selama enam hari, peserta mendapatkan materi teknis mulai dari budidaya hingga panen dan pascapanen. Pada kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit, peserta mempelajari tahapan sejak pemilihan benih bersertifikat, pembibitan, penanaman, pemupukan, pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM), hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman.
Sementara itu, peserta kelas Panen dan Pascapanen mempelajari organisasi dan sistem panen, kriteria matang panen, taksasi produksi, teknik pemanenan, penanganan hasil panen hingga ketelusuran.
Indra menekankan, pemahaman terhadap setiap tahapan tersebut penting karena praktik budidaya dan panen yang tepat akan berpengaruh langsung terhadap produktivitas dan kualitas hasil kebun.
“Budidaya yang dilakukan dengan baik, panen sesuai standar, dan mutu buah yang dijaga dengan sungguh-sungguh, insyaallah produktivitas meningkat sehingga pendapatan petani akan membaik,” ujarnya.
Belajar dari Praktik di Lapangan
Salah satu bagian penting dalam pelatihan adalah kunjungan lapangan atau field trip ke PT Bumi Rafflesia Indah (BRI). Peserta melihat secara langsung praktik pemupukan dan panen yang diterapkan di perusahaan tersebut.
Menurut Indra, kegiatan lapangan memberikan kesempatan kepada peserta untuk menghubungkan materi yang diperoleh di kelas dengan praktik nyata di perkebunan.
“Bapak Ibu secara tidak langsung sudah memahami dan bisa merasakan sendiri kegiatan seperti apa yang seharusnya dilakukan dengan benar,” katanya.
Ia menilai pengalaman tersebut menjadi bagian penting karena pekebun tidak hanya mendapatkan pengetahuan secara teori, tetapi juga dapat mengamati dan menilai praktik di lapangan.
Pekebun adalah ‘CEO’ Kebunnya Sendiri
Dalam sambutannya, Indra juga membangun motivasi peserta dengan menyebut pekebun sawit sebagai “CEO” di kebunnya masing-masing.
Menurut dia, pekebun memiliki peran penting dalam menentukan keberhasilan usaha perkebunan yang dikelolanya. Karena itu, peningkatan kapasitas dan profesionalisme menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan perkebunan kelapa sawit.
“Bapak Ibu ini bukan petani biasa. Bapak Ibu ini semuanya CEO. Hanya saja saya lihat semuanya low profile,” ujarnya disambut suasana hangat peserta.
Indra juga mengapresiasi antusiasme peserta selama enam hari pelatihan. Meski kegiatan berlangsung cukup padat, suasana dibuat tidak terlalu kaku melalui kegiatan ice breaking, outbound, serta aktivitas bersama lainnya.
Ia mengatakan, kegiatan tersebut sekaligus mempererat hubungan antarpeserta yang pada awal pelatihan belum saling mengenal.
Dorong Pekebun Semakin Kompeten
Indra menjelaskan, Program Pengembangan SDMP 2026 merupakan bagian dari komitmen BPDP dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
Program tersebut diharapkan mampu melahirkan pekebun yang semakin kompeten dan profesional sehingga pada akhirnya berdampak terhadap peningkatan produktivitas serta kesejahteraan keluarga pekebun.
“Kami di sini hanya memfasilitasi dan memberikan gambaran. Apa yang kami dapatkan dari pengalaman di beberapa provinsi lain dan dinilai layak untuk disampaikan, itulah yang kami berikan kepada Bapak Ibu,” katanya.
Ia menambahkan, AKPY sebagai penyelenggara menyadari masih terdapat kekurangan selama pelaksanaan kegiatan. Karena itu, pihaknya menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat pelayanan maupun penyelenggaraan yang belum memenuhi harapan peserta.
Pada kesempatan tersebut, Indra juga menyampaikan apresiasi kepada BPDP sebagai pendukung pendanaan, pemerintah provinsi dan pemerintah daerah, para narasumber, panitia, perusahaan mitra yang menjadi lokasi field trip, serta seluruh peserta.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti setelah acara penutupan, tetapi diterapkan dan ditularkan kepada pekebun lainnya.
Dengan demikian, pelatihan SDMP 2026 tidak hanya menghasilkan peserta yang selesai mengikuti pelatihan, tetapi juga menjadi titik awal bagi penerapan praktik budidaya, panen dan pascapanen yang lebih baik di tingkat kebun.














