PALU — Di tengah tuntutan peningkatan produktivitas dan penerapan praktik perkebunan berkelanjutan, kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor penentu keberhasilan usaha kelapa sawit. Menyadari pentingnya hal tersebut, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian RI dan DGL Learning Institute menggelar Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2026 bagi 119 pekebun asal Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, yang dilangsungkan pada 15 - 20 Juni 2026, di kota Palu.
Pelatihan yang berlangsung di Kota Palu ini dirancang untuk memperkuat kapasitas petani sawit melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan teknis, dan pemahaman terhadap tata kelola perkebunan modern yang produktif dan berkelanjutan.
Peserta mengikuti sejumlah program strategis, yakni Pelatihan Implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) Angkatan I, Pelatihan Panen dan Pascapanen Angkatan I dan II, serta Pelatihan Teknik Pemetaan Lokasi Perkebunan Kelapa Sawit Angkatan I.
Direktur Utama PT Daya Guna Lestari, M. Gema Aliza Putra, menegaskan bahwa pembangunan sektor perkebunan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, bibit unggul, atau perluasan lahan. Menurutnya, peningkatan kompetensi petani merupakan fondasi utama dalam mendorong kemajuan industri sawit nasional.
“Keberhasilan perkebunan sangat ditentukan oleh kualitas manusia yang mengelolanya. Kebun yang baik lahir dari petani yang paham, produktivitas yang meningkat lahir dari ilmu yang diterapkan, dan perkebunan yang berkelanjutan lahir dari SDM yang terus belajar,” ujarnya saat membuka kegiatan di Palu, pada Senin (15 Juni 2026).
Ia menjelaskan, program pengembangan SDM ini menjadi jawaban atas kebutuhan peningkatan kapasitas pekebun di daerah. Melalui pelatihan yang aplikatif, peserta dibekali kemampuan untuk mengelola kebun secara lebih efektif sesuai dengan kondisi lapangan.
Salah satu materi yang diberikan adalah implementasi ISPO, yang bertujuan meningkatkan pemahaman petani mengenai prinsip-prinsip keberlanjutan, legalitas usaha, tata kelola kebun, aspek lingkungan, hingga penguatan kelembagaan pekebun.
“ISPO bukan sekadar persyaratan administratif. Ini merupakan instrumen penting untuk membangun tata kelola perkebunan yang lebih baik dan meningkatkan daya saing pekebun di masa depan,” kata Gema.
Selain itu, pelatihan panen dan pascapanen menjadi fokus utama karena berkaitan langsung dengan kualitas tandan buah segar (TBS) dan pendapatan petani. Melalui pelatihan ini, peserta diajarkan teknik panen yang tepat, cara mengurangi kehilangan hasil, serta penanganan pascapanen yang mampu menjaga mutu produksi.
“Panen merupakan titik kritis dalam usaha perkebunan. Ketepatan dalam menentukan tingkat kematangan buah dan penanganan pascapanen akan sangat berpengaruh terhadap kualitas hasil dan nilai ekonomi yang diterima petani,” jelasnya.
Di sisi lain, pelatihan teknik pemetaan kebun memberikan wawasan baru kepada peserta mengenai pentingnya pengelolaan perkebunan berbasis data. Dengan kemampuan pemetaan, petani dapat mengetahui kondisi lahan, batas kebun, serta informasi penting lainnya yang mendukung perencanaan dan pengambilan keputusan yang lebih akurat.
Menurut Gema, transformasi perkebunan modern menuntut petani untuk mulai memanfaatkan data sebagai dasar pengelolaan usaha. “Ke depan, kebun tidak bisa lagi dikelola hanya berdasarkan perkiraan. Dengan pemetaan yang baik, perencanaan lebih terarah dan pengelolaan kebun menjadi lebih efisien,” ujarnya.
Untuk memastikan manfaat pelatihan berlanjut setelah kegiatan berakhir, DGL Learning Institute juga mengintegrasikan proses pembelajaran melalui Learning Management System (LMS). Melalui platform tersebut, peserta dapat mengakses materi pelatihan, mengikuti pembelajaran lanjutan, serta terhubung dengan proses monitoring pascapelatihan.
Langkah ini dilakukan agar transfer pengetahuan tidak berhenti pada saat pelatihan selesai, melainkan benar-benar diterapkan dalam praktik pengelolaan kebun sehari-hari.
“Kami tidak ingin peserta hanya pulang membawa sertifikat. Yang lebih penting adalah adanya perubahan cara berpikir, peningkatan kemampuan, dan penerapan ilmu yang berdampak nyata terhadap produktivitas kebun,” tegas Gema.
Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2026 di Palu diharapkan mampu melahirkan petani sawit yang lebih kompeten, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta memahami prinsip-prinsip keberlanjutan. Dengan SDM yang semakin berkualitas, produktivitas kebun rakyat dapat meningkat, tata kelola usaha menjadi lebih baik, dan daya saing perkebunan sawit Indonesia semakin kuat.
“Teknologi akan terus berkembang, tetapi keberhasilannya tetap bergantung pada manusia yang mengoperasikannya. Karena itu, penguatan SDM harus menjadi prioritas dalam pembangunan perkebunan Indonesia,” tutup Gema.














