Jakarta, SAWIT INDONESIA – Menteri Pertanian RI Amran Sulaiman makin rutin mengunjungi pasar tradisional untuk memantau kebutuhan pangan masyarakat selama Ramadan.
Kunjungan dilakukan ke Pasar Gede Hardjonagoro, Solo, bersama satgas pangan, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), wali kota solo, serta jajaran kepolisian dari polresta dan TNI.Sama seperti sebelumnya, Mentan Amran kembali mendapatkan temuan harga MinyaKita dan takaran Minyakita.
Di pasar ini, Harga Eceran Tertinggi (HET) sesuai kebijakan pemerintah Rp 15.700 per liter. Tetapi, ada permasalahan lain yang mencuat, yakni takaran isi dalam kemasan yang masih belum sesuai.
Dua produl Minyakita ditemukan tidak sesuai volumenya dalam kemasan. Pertama, Minyakita produksi PT Kusuma Mukti Remaja yang seharusnya 1 liter, hanya berisi 900 mililiter, atau berkurang 100 mililiter (10 persen).
Yang mengejutkan, minyakita produksi anak usaha Indofood PT Salim Ivomas Pratama juga di bawah 1 liter yaitu hanya 950 mililiter dari seharusnya. PT Salim Ivomas adalah grup agribisnis yang terdiversifikasi serta terintegrasi secara vertikal di Indonesia. Produk minyak goreng yang dihasilkan antara lain Bimoli dan Happy.
“Kesadaran mulai meningkat, kalau sebelumnya ditemukan ada yang kurang 25 persen, sekarang tinggal 5-10 persen. Tapi ini harus diperbaiki. Satgas Pangan harus telusuri kenapa masih ada pengurangan takaran ini. Kita akan tindaklanjuti agar tidak ada lagi praktik seperti ini,” kata Amran dalam keterangan resminya, Selasa (11/3).
Amran meminta satgas pangan agar menindaklanjuti kasus ini hingga ke produsen. Menurutnya, minyak goreng merupakan kebutuhan dasar masyarakat, terutama di bulan Ramadan, dan tidak boleh ada pihak yang bermain curang untuk keuntungan sendiri.
“Minyak goreng ini kebutuhan pokok. Jangan sampai ada yang mengambil kesempatan dalam situasi ini, apalagi di bulan Ramadan. Pemerintah akan terus melakukan sidak, memastikan takaran sesuai, harga stabil, dan tidak ada yang dirugikan,” ungkapnya.














