• Kamis, 8 Oktober 2026
Inovasi

Teknologi Coating Buah Dari Sawit

“Harapan kami penemuan coating sawit ini bisa digunakan. Dari sisi sawit itu menambah diversifikasi produk. Karena menyeimbangkan supply dan demand. Kita harus kendalikan supply supaya bisa kendalikan harga [minyak sawit],” ujarIr Indra Budi Susetyo MSc yang merupakan seorang periset di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat ditemui Sawit Indonesia di Kantor BRIN, Jakarta, Rabu (12/6/2024).

Indra Budi mengungkapkan, coating atau larutan pelapis buah dari produk turunan sawit yang dapat memperpanjang umur simpan buah ini merupakan komitmen BRIN dalam mendukung ketahanan pangan bangsa.

Dia mengingatkan, diversifikasi produk sawit ini mendesak lantaran Indonesia merupakan penghasil sawit terbesar dunia dengan tidak kurang 50 juta ton per tahun. Namun, sebagian besar produksi minyak kelapa sawit masih diekspor dalam bentuk mentah (CPO) dan inti sawit (PKO), sehingga nilai tambahnya masih rendah.

Meskipun saat ini penggunaan sawit untuk biodiesel yang cukup besar (12 juta ton), Indra Budi mengingatkan Indonesia jangan terlena.

“Apakah penggunaan energi dari sawit itu akan suistain? Dalam jangka 20 tahun lanjut gak? Gimana dengan adanya electric vehicle, dengan solar panel. Makanya kita harus melakukan hilirisasi dengan diversifikasi lebih luas. Kita harus siap. Karena harus melakukan riset dan itu lama,” tutur Indra Budi.

“Ada 50 juta ton CPO, lebih dari 10 juta pelaku kerja di sektor ini. kalau dengan keluarganya berapa? Berapa puluh juta orang hidup disini [sektor sawit],” tambahnya.

Mengutip data Dewan Minyak Sawit Indonesia produk hilirisasi sawit Indonesia baru 179 jenis di tahun 2023. Jumlah tersebut masih kalah dengan negara tetangga yang mempunyai sekitar 260 produk turunan sawit. Padahal, Malayasia hanya mempunyai 5 juta hektar lahan, jauh di bawah Indonesia yang mencapai sekitar 16,8 juta hektare.

Indra Budi mengaku mulai melirik sawit sebagai bahan kajian-inovasi sejak 1990-an. Kala itu, peneliti Pusat Riset Agroindustri BRIN itu membangun pengolahan CPO berkapasitas 2-5 ton per jam. Baru, awal tahun 2000-an dirinya melihat potensi besar sawit di hilir.

“Sawit ini kan produksinya besar sangat ekonomis. Yang diperlukan adalah diversifikasi produknya. Tetapi yang tidak konvensional saja. Nah latar belakang saya kenapa masuk ke coating, itu. mencari produk baru yang biasa digunakan yang biasanya tidak pake minyak sawit,” terangnya.

Indra Budi menjelaskan pada awalnya minyak sawit digunakan untuk pangan dan penerangan namun seiring perkembangan zaman penggunaannya merambah untuk personal care, kosmetik hingga bahan penolong industri.

“Kan sekarang sabun, pangan dan energi sudah. Nah, makanya itu kembangkan di sektorlain. Salah satunya membuat lilin untuk bahan membatik. Tadinya itu kan pake paraffin yang diperoleh dari minyak bumi ya. Kita ganti pake sawit,” ungkap Ketua tim riset malam atau lilin batik dari sawit itu.

Kemudian ke coating buah, menurutnya karena buah-buahan mudah busuk. Hal itu membuatnya memiliki masa simpan pendek yang menjadi kendala saat distribusi dan pemasaran. Teknologi coating ini, ujar Budi, dapat digunakan pada produk hortikultura telah terbukti mampu memperpanjang masa simpan buah.

Budi mengatakan, sebenarnya terdapat sejumlah produk untuk mengcoating buah, tapi harganya cukup mahal.

“Sekarang itu di industri buah mereka sudah menambahkan lagi di buah supaya daya simpannya lama. Biasanya dari kanoga dari Amerika Selatan, lalu lilin lebah [bee wax], tapi ada juga produk produk non natural misalnya dari plastik,” tutur Indra Budi.

“Cumakanoga juga bermasalah, misalnya di Eropa sangat dibatasi. Sehingga yang banyak digunakan dari lilin lebah, tapi itu saingan sama kosmetik, mahal. Hampir Rp200 ribu per kg. Dari lilin plastik juga mahal, 10x lipat dari CPO,” ungkapnya.

Dengan biaya sebesar itu, Budi menilai ongkos coating dari sawit jauh lebih murah. Cost perbuah itu hanya Rp200 per kg dan berdampak pada masa kesegarannya yang panjang, bisa sampai 2-4 minggu. Menurutnya, masa umur menjadikan harga buah pun tidak fluktuatif. Apalagi, buah-buah untuk pangsa ekspor.

“Kalau gak dicoating itu mengkerut dan susut beratnya. Tingkat kematangannya cepat. Karena buah itu misalnya mangga, pisang, setelah dipetik itu masih berproses, mereka masih bernafas, menyerap oksigen. Proses ini yang kita lambatkan. Mangga itu bisa seminggu, kalau disimpan di tempat dingin dan dicoatingbisa 30 hari. Karena untuk ekspor itu waktu pengapalan sampai Timur Tengah butuh 20 hari. Lewat pesawat bisa sehari tapi mahal sekali,” ujar Indra Budi.

Indra mengungkapkan, produk coating inovasi dirinya bersama tim di BRIN sendiri saat ini ada dua. Pertama, ada coating yang natural dan kedua ada yang berefek mengkilat terhadap buah. Semuanya sudah mendapat sertifikat keamanan pangan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 152)

Artikel Terkait