Jakarta, SAWIT INDONESIA - Tantangan keterbatasan sumber daya manusia (SDM) di sektor perkebunan sawit mendorong pelaku industri mempercepat adopsi teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Senior Advisor PT Bhuana Raya Inovasi Cemerlang (BRIC) Tony Liwang mengatakan transformasi teknologi menjadi kebutuhan industri sawit di tengah menurunnya minat generasi muda bekerja di sektor pertanian dan perkebunan.
Menurutnya, sektor perkebunan selama ini identik dengan pekerjaan berat yang mengandalkan tenaga fisik sehingga kurang diminati kalangan muda. Padahal, industri sawit masih membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar pada masa mendatang.
“Kegiatan di sektor perkebunan saat ini harus mulai bergeser, tidak lagi terlalu mengandalkan otot tetapi lebih mengandalkan teknologi dan kemampuan berpikir,” kata Tony dalam wawancara terkait pengembangan teknologi sawit nasional, Kamis (7 Mei 2026).
Karena itu, BRIC mengembangkan berbagai teknologi berbasis AI yang ditujukan untuk mendukung operasional perkebunan lebih modern dan efisien. Teknologi tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan tidak hanya oleh perusahaan besar, tetapi juga perusahaan menengah hingga petani kecil.
Salah satu inovasi yang dikembangkan ialah sistem pemetaan kebun berbasis citra satelit dan AI. Teknologi ini mampu menghitung jumlah pohon kelapa sawit sekaligus memantau kondisi tanaman secara lebih akurat.
Selain itu, sistem tersebut dapat mendeteksi tanaman sehat maupun pohon yang mengalami gangguan, termasuk serangan penyakit.
BRIC juga mengembangkan mesin grading tandan buah segar (TBS) berbasis AI untuk mendeteksi tingkat kematangan buah sebelum masuk ke pabrik pengolahan.
Tony menilai persoalan utama di lapangan selama ini ialah proses panen yang kerap dilakukan sebelum buah mencapai tingkat kematangan optimal sehingga memengaruhi rendemen minyak sawit.
“Persoalan utama yang sering terjadi di lapangan adalah buah dipanen dalam kondisi belum optimal sehingga memengaruhi rendemen minyak,” ujarnya.
Melalui sistem grading berbasis AI, petani dan pabrik diharapkan memiliki standar penilaian yang sama terkait kualitas buah sawit. Jika tingkat kematangan buah mencapai lebih dari 95%, rendemen minyak dapat meningkat dan harga jual buah petani berpotensi lebih tinggi.
“Petani diuntungkan karena buahnya bisa dihargai premium, sementara pabrik juga menikmati rendemen minyak yang lebih tinggi,” kata Tony.
Selain pengolahan hasil panen, BRIC turut mengembangkan alat bantu polinasi berbasis AI dengan harga yang lebih terjangkau agar dapat dimanfaatkan petani.
Di bidang energi, perusahaan tersebut juga menghadirkan kendaraan listrik roda dua dan roda tiga untuk mendukung aktivitas operasional perkebunan.
Menurut Tony, penggunaan kendaraan listrik menjadi solusi atas tingginya biaya energi dan keterbatasan pasokan bahan bakar di sejumlah wilayah perkebunan.














