• Sabtu, 3 Oktober 2026
Berita Terbaru

Tekanan Ganda Petani Sawit: Terancam Ganoderma, Ditekan Harga Rendah, Ini Solusi Penyelesaiannya

Jakarta, SAWIT INDONESIA – Petani kelapa sawit di Kalimantan Timur (Kaltim) saat ini tengah menghadapi tekanan ganda yang mengancam mata pencaharian mereka. Selain terancam serangan Ganoderma yang berpotensi menekan produktivitas tanaman. Para petani juga terpukul oleh merosotnya harga Tandan Buah Segar (TBS) secara drastis hingga menyentuh angka Rp1.200 per kilogram.

Sengkarut masalah ini menjadi sorotan utama dalam Seminar dan Workshop "Pemberdayaan Petani Sawit dalam Pengendalian Ganoderma dan Kumbang Tanduk untuk Keberlanjutan Perkebunan Sawit" yang diinisiasi oleh DPP APKASINDO di Hotel Aqila, Penajam Paser Utara (PPU), pada 29–31 Mei 2026.

Ketua Umum DPP APKASINDO, Dr. Gulat ME Manurung, C.IMA, menjuluki Ganoderma sebagai "pembunuh berdarah dingin" bagi tanaman sawit. Pasalnya, jamur ini mampu mematikan pohon secara perlahan tanpa menunjukkan gejala yang mudah dikenali secara kasat mata oleh petani.

Tak hanya dihantui gagal panen akibat hama, kantong petani kian mengempis akibat anjloknya harga TBS. Menurut Gulat, merosotnya harga ini dipicu oleh tidak optimalnya mekanisme tender CPO di Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN), sehingga petani kehilangan acuan harga yang adil.

Merespons situasi kritis ini, APKASINDO telah melakukan langkah advokasi yang tegas ke pemerintah pusat.

"Kita telah mendesak Kementerian Pertanian, termasuk Wakil Menteri Pertanian, untuk menyepakati poin-poin perlindungan petani, salah satunya mengembalikan harga TBS ke tingkat wajar. Negara harus hadir memperbaiki tata niaga sawit dan melindungi petani," tegas Gulat.

Gulat juga mendukung penuh langkah pemerintah untuk mengawasi Pabrik Kelapa Sawit (PKS) nakal secara ketat. APKASINDO mendorong sanksi tegas hingga pencabutan izin usaha dan pelaporan ke Satgas Pangan Mabes Polri jika ada korporasi yang sengaja mempermainkan harga dengan dalih tangki timbun penuh.

Ketua DPW APKASINDO Kaltim, Ir. Betman Siahaan, membenarkan bahwa wilayahnya menjadi salah satu daerah dengan penurunan harga TBS paling ekstrem di Indonesia. Dari harga normal sebesar Rp3.000 per kilogram, lalu mencapai harga terendah merosot hingga Rp1.200 per kilogram.

"Kondisi ini membuat banyak petani terpaksa menunda panen karena hasil yang diperoleh hampir tidak mampu menutupi biaya operasional," ungkap Betman. Ia juga menambahkan bahwa Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Paser merupakan wilayah yang paling parah terdampak serangan Ganoderma dan kumbang tanduk.

Di tengah workshop, dinamika diskusi sempat memanas ketika para petani sawit swadaya melayangkan protes keras terhadap ulah PKS Inti Plasma (Konvensional) yang dinilai kerap menyudutkan PKS Komersil (PKS Tanpa Kebun).

"PKS Komersil adalah masa depan kami, petani sawit swadaya khususnya. Entah bagaimana nasib kami jika PKS Komersil sampai ditutup. PKS Inti Plasma jangan serakah," ujar Iman, salah satu petani peserta workshop.

Menanggapi hal tersebut, Betman Siahaan meluruskan bahwa dari 8 PKS yang beroperasi di PPU, 2 di antaranya adalah PKS Komersil. Kehadiran PKS Komersil ini dinilai sangat menolong petani swadaya karena selama ini PKS Konvensional enggan membeli TBS dari petani mandiri.

Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara menyambut baik langkah taktis APKASINDO menggelar workshop ini di tengah situasi daerah yang tidak kondusif pasca ambruknya harga sawit.

Dalam sambutan tertulis Bupati PPU yang dibacakan saat pembukaan, ditegaskan bahwa sektor kelapa sawit adalah urat nadi perekonomian daerah yang krusial untuk penyerapan tenaga kerja dan kesejahteraan warga.

"Kegiatan workshop ini memiliki nilai strategis dan tepat waktu dalam mendukung penguatan SDM perkebunan, khususnya bagi petani kelapa sawit guna mewujudkan pengelolaan perkebunan yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan," sebut Bupati.

Melalui sinergi workshop ini, Pemkab PPU dan APKASINDO berharap petani sawit tidak hanya dipersenjatai dengan ilmu agronomi untuk melawan hama Ganoderma, tetapi juga semakin melek terhadap dinamika tata niaga sawit nasional demi menjaga keberlanjutan perkebunan rakyat.

Artikel Terkait