Jakarta, SAWIT INDONESIA — Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, menyambut positif keputusan Amerika Serikat (AS) yang secara prinsip menyetujui pembebasan tarif impor 19 persen untuk sejumlah komoditas asal Indonesia, termasuk minyak sawit.
Eddy menilai langkah tersebut akan memperkuat posisi Indonesia di pasar Amerika, mengingat permintaan minyak sawit di negeri itu semakin meningkat, terutama untuk kebutuhan industri makanan. “Bagus sekali, sebab ekspor minyak sawit Indonesia ke AS sempat tumbuh 2,5 juta ton pada 2023, meski sedikit turun menjadi 2,2 juta ton di 2024. Dengan tidak dikenakan tarif 19 persen, kemungkinan besar ekspor bisa naik kembali,” ujar Eddy saat dihubungi, Kamis (28/8/2025).
Ia menambahkan, saat ini pangsa pasar minyak sawit Indonesia di AS mencapai sekitar 89 persen. Dengan demikian, kebijakan tarif nol atau mendekati nol akan memperkuat dominasi Indonesia sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekspor di tahun mendatang.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa AS secara prinsip telah menyetujui penghapusan tarif impor 19 persen untuk minyak sawit, kakao, dan karet asal Indonesia. Kesepakatan itu akan berlaku setelah kedua pihak menandatangani perjanjian akhir.
“Selama pertemuan, pada dasarnya pengecualian sudah disetujui untuk produk yang tidak diproduksi di AS. Tarifnya akan nol atau mendekati nol,” kata Airlangga, dikutip dari Reuters.
Selain isu tarif, pertemuan bilateral juga membahas peluang kerja sama investasi di sektor penyimpanan bahan bakar bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dan PT Pertamina (Persero).
Airlangga optimistis kesepakatan dagang dengan AS, ditambah dengan perundingan tarif bersama Uni Eropa, akan memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen pada 2026.














