Dampak perubahan iklim juga dirasakan oleh pelaku perkebunan sawit karena mempengaruhi laju produksi. Inisiatif riset dan teknologi menjadi kunci untuk mampu beradaptasi dan menghadapi masalah iklim.
Persoalan iklim menjadi topik bahasan menarik di ajang International Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE) 2025 yang dihadiri 500 peserta dari 12-14 Februari 2025 di Sanur, Bali. Ada sekitar 7 pembicara yang secara khusus membahas secara khusus dampak perubahan iklim dan upaya mitigasinya terhadap tanaman sawit.
Dalam Laporan berjudul Potential Impacts of Climate Change on Oil Palm Cultivation (2017) yang disusun Susannah Fleissdari University of York Inggris, disebutkan bahwa perubahan iklim akan menciptakan multiplier effect terhadap produksi sawit walaupun tergantung kondisi iklim spesifik di suatu lokasi serta perubahan serangan hama dan penyakit kelapa sawit. Ada sejumlah aspek yang mempengaruhi tanaman sawit akan terkena dampak perubahan iklimya itu curah hujan, suhu, karbondioksida, permukaan air laut, hama dan penyakit, penyerbukan.
Peneliti Colombian Oil Palm Research Centre (Cenipalma), Ivan Mauricio Ayala Diaz yang menjelaskan dampak dari perubahan iklim terhadap tanaman sawit. Perubahan iklim memang berdampak kepada suhu dan cuaca yang secara langsung berimbas kepada tanaman. “Ini adalah kondisi di mana banyak penyakit dan hama muncul, serta kelangkaan yang akan mengganggu hasil panen," ungkapnya.
Menurut Diaz, dengan meningkatnya suhu dan perubahan kelembapan, tanaman kelapa sawit mengalami penurunan kemampuan ekologis. Hal ini juga berdampak pada ekosistem lainnya.
"Bahkan, dalam kasus tertentu, bibit bisa mati dan kumbang tidak dapat bertahan hidup di suhu yang tinggi," tegasnya.
Pengalaman Kolombia dalam15 tahun terakhir telah mempraktikan sejumlah inovasi untuk menghadapi serangan hama dan penyakit di lahan pertanian. Diaz menyebutkan telah menggunakan prinsip agronomi dasar dan menerapkan irigasi buatan yang terbukti efektif.
"Kami menemukan bahwa penggunaan dripper dan sprinkler dapat meningkatkan efisiensi dari 20% menjadi 89%," jelas dia.
Lalu juga dengan teknik konservasi kelembaban tanah, mereka tidak hanya memasok nitrogen, tetapi juga meningkatkan kelembaban tanah hingga 28% dan menurunkan erosi hingga 50%. Diaz turut menekankan pentingnya menentukan lokasi yang tepat untuk penanaman.
"Dengan teknologi lokasi yang tepat, kita dapat berkonsentrasi pada area yang paling cocok untuk menanam dan menerapkan irigasi," katanya.
Wakil Menteri Pertanian RI Sudaryono juga mengingatkan ancaman perubahan iklim global terjadi sebagai kerusakan lingkungan yang terjadi secara terus menerus dan luas. Karena itulah perlu dilakukan upaya pengurangan emisi dan polusi agar mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dalam jumlah besar terutama pada proses pembukaan lahan.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 160)














