Rabu Pagi (25 Maret 2026), redaksi sawitindonesia.com bersilaturahmi sambil berdiskusi secara virtual dengan Dr. Purwadi Direktur Pusat Sains Kelapa Sawit INSTIPER Yogyakarta untuk membahas update terkini industri sawit. Salah satu topik pembahasan menarik adalah pembaruan jajaran direksi dan komisaris PT Agrinas Palma Nusantara, BUMN perkebunan yang baru berjalan setahun terakhir. Pergantian nakhoda dari Jend TNI (Purn) Agus Sutomo kepada Mohammad Abdul Ghani sebagai Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara terjadi menjelang Lebaran kemarin.
”Saya selalu berpikir optimis. Pergantian tim manajemen baru ini karena Agrinas Palma punya tanggung jawab besar untuk mengelola asset perkebunan sawit di seluruh Indonesia,” ujar Dr. Purwadi.
Dr. Purwadi mengapresiasi kinerja Jend. TNI (Purn) Agus Sutomo di awal dan mengawal pendirian Agrinas Palma Nusantara. Sebab, tidaklah mudah membangun pondasi manajemen dan mengelola perkebunan sawit sebagai tindak lanjut pelaksanaan Perpres 5/2025 mengenai Penertiban Kawasan Hutan.
"Jend Agus Sutomo luar biasa sekali, mau belajar dan bekerja cepat. Kemampuannya memimpin pasukan menjadi kelebihannya dalam menata Agrinas Palma,” jelas Dr. Purwadi.
Ketika estafet kepemimpinan beralih kepada Mohammad Abdul Ghani, semua berjalan mulus. Menurut Dr. Purwadi, pengalaman dan kompentesi mantan Direktur Utama Holding PTPN III tersebut sangat dibutuhkan Agrinas Palma agar daya saing dan kinerja bisnis makin moncer.
“Harapan kita semua bahwa jajaran direksi yang baru bisa melanjutkan capaian direksi lama. Mampu mengelola aset-aset perkebunan kelapa sawit hasil sitaan yang telah diserahkan untuk pengelolaan selanjutnya menuju target-target produksi, efisiensi dan profit,” kata Dr. Purwadi penuh optimism.
Berikut ini petikan wawancara yang dilakukan 30 menit lebih untuk menemani libur Lebaran di tahun ini:
SI : Selamat Pagi Pak Pur, redaksi Sawit Indonesia (SI) mengucapkan Mohon Maaf Lahir Batin dan Selamat Lebaran. Kemana saja selama liburan ini, pak?
P: Sama-sama, mohon maaf lahir batin. Saya asli dari Magetan – Jawa Timur, dan seminggu sebelum lebaran telah mudik untuk kirim doa dan “nyekar” ke makam bapak-ibu. Sengaja mudik lebih awal. Lalu kembali Yogya untuk menghindari kemacetan. Lha ternyata setelah jalan tol, perjalanan cukup hanya 2 jam yang biasanya kalau lewat jalan biasa perlu 3,5 jam.
SI: Pak Pur, sebagaimana kita tahu bahwa di penghujung bulan puasa terjadi pergantian Direksi dan Komisaris PT Agrinas Palma Nusantara (APN). Kami ingin tahu, seperti apa pendapat dan pandangan Bapak?
P: Bagus, saya selalu berfikir optimis bahwa pergantian pimpinan dalam tim manajemen tentu bermaksud untuk meningkatkan performa di waktu selanjutnya. Bukan berarti tim manajemen kurang “perform” barangkali karena kebutuhan tahapan manajemen selanjutnya di PT APN sudah membutuhkan tim manajemen lanjutannya.
SI: Artinya direksi lama sudah bekerja sangat bagus. Lalu pemerintah ingin membuat Agrinas lebih bagus lagi dan sesuai target pemerintah untuk mendukung hilirisasi. Bagaimana Bapak melihat tantangan Agrinas Palma Nusantara di tahun ini?
P: Seperti yang kita pahami PT Agrinas Palma Nusantara merupakan BUMN yang ditugaskan mengelola aset-aset Perkebunan sawit dan kehutanan hasil penertiban Perkebunan yang secara telah melanggar regulasi yang telah ditetapkan pemerintah. Tentu semua itu nanti memang perlu keputusan penetapan untuk kepastian hukumnya. Sepertinya Tim manajemen awal memperoleh penugasan tersebut dan barangkali sudah selesai, sehingga dibutuhkan manajemen baru untuk mengelola asset-aset tersebut.
SI : Di manajemen yang baru, dari data kami banyak diisi kalangan professional dari perusahaan perkebunan. Apakah ini bagian dari strategi dan tujuan pendirian BUMN ini?
P: Sepertinya demikian, Tim Manajemen awal pendirian Agrinas Palma Nusantara memang ditopang oleh kalangan purnawiran TNI yang punya pengalaman dan kemampuan baik. Selama ini yang kita dengar bahwa Tim manajamen awal ini ditugaskan dengan target mengelola aset perkebunan sawit dan kehutanan yang telah diserahkan Satgas PKH.
Dr. Purwadi dan Jend (Purn) Agus Sutomo (sebelah kiri) dalam kunjungan PT Agrinas Palma Nusantara ke SEAT INSTIPER di Ungaran, Jawa Tengah.Walaupun pada saatnya, manajemen operasional perlahan mulai diisi professional di bidang perkebunan kelapa sawit. Sekarang, kalau dilihat susunan direksi yang baru telah menunjukkan hal tersebut. Lalu, apakah nanti bisa lebih baik dan maju tentu kita perlu menunggu lebih lanjut, dan kita perlu memberikan kesempatan. Tentunya kita berharap direksi yang baru bisa melanjutkan capaian direksi lama dan mengelola aset-aset perkebunan kelapa sawit hasil sitaan yang telah diserahkan untuk pengelolaan selanjutnya menuju target-target produksi, efisiensi dan profit.
SI: Artinya mulai terjadi transisi di PT Agrinas Palma Nusantara. Apa masukan Bapak supaya direksi baru dapat bekerja baik sesuai Asta Cita Presiden Prabowo?
P: Para direksi baru ini merupakan profesional perkebunan yang telah berpengalaman mengelola berkebunan besar, dan saya lihat sebagian besar merupakan professional yang pernah mengelola BUMN-PTPN.
Pak Mohammad Abdul Ghani, saya kenal baik sekali kemampuan beliau, karena sukses sebagai Dirut PTPN (holding) dan direksi lainya kecuali dari PTPN juga terdiri dari professional perkebunan kelapa sawit yang berpengalaman menjadi direksi di korporasi swasta. Semoga tim manajemen ini merupakan kombinasi yang terbaik dan bisa berkontribusi secara maksimal.
Tentu tantangan sangat besar karena aset-aset dengan lokasi tersebar dengan luasan yang sangat beragam dan merupakan aset titipan sitaan yang tentunya sebagian masih perlu kepastian hukum menjadikan tantangan yang lebih komplek. Kondisi ini bertolak belakang dengan tata kelola pada perkebunan kelapa sawit yang tersentral pada satu lokasi dengan luasan sesuai skala industri sehingga efisiensi sistem industri lebih mudah dicapai, seperti yang selama di kelola oleh PTPN maupun korporasi swasta.
Oleh karena itu, strategi tata kelola tentu barangkali berbeda, dengan kondisi seperti tersebut diatas serta target pasar dan atau industri hilir ikutannya, maka perlu “proses bisnis” baru, dan juga “model bisnis” baru, dan ini menjadi tantangan tatakelola baru yang membutuhkan kajian strategi yang komperhensif. Namun demikian dengan susunan direksi yang profesional gabungan dari dari unsur BUMN (PTPN) dan korporasi swasta tentunya diharapkan akan mampu menjawab dan menyelesaikan tantangan tersebut. Selamat dan sukses. (*)














