• Senin, 12 Oktober 2026
Inovasi

Tankos Sawit Berpeluang Wujudkan Kemandirian Pertahanan Nasional

PT Pindad kembangkan selulosa TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) untuk bahan baku propelan amunisi dan komposit armor yagn berpeluang mengurangi material impor.

Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) yang selama ini identik sebagai produk samping industri sawit mulai naik kelas. PT Pindad mengembangkan selulosa berbasis TKKS menjadi biomaterial untuk mendukung kebutuhan industri pertahanan, mulai dari bahan baku propelan amunisi hingga komposit add-on armor kendaraan tempur.

Pengembangan ini bukan sekadar mencari pemanfaatan baru TKKS. Di baliknya terdapat agenda yang lebih strategis, yakni mencari sumber bahan baku lokal untuk mengurangi ketergantungan industri pertahanan terhadap material impor.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad, Prima Kharisma I.Y., mengatakan riset selulosa TKKS telah dilakukan sejak 2022. Riset tersebut salah satunya diarahkan untuk mencari alternatif cotton linter, material yang selama ini digunakan sebagai sumber selulosa.

“Ketergantungan terhadap bahan baku dari luar negeri menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan industri pertahanan. Karena itu, PT Pindad sejak 2022 mulai melakukan riset dari skala laboratorium untuk mencari sumber selulosa alternatif yang tersedia di dalam negeri,” ujarnya dalam acara Perisai 2026 di Jakarta, Juli lalu.

Menurut Prima, penggunaan teknologi yang sepenuhnya mengandalkan material impor membuat industri pertahanan tetap memiliki ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.

“Kalau kita mengacu teknologi yang sudah eksisting, kita harus tetap tergantung sama luar. Salah satunya cotton linter. Di Indonesia kita juga cukup susah untuk mendapat bagian linter-nya,” imbuhnya.

Pindad sebelumnya juga mengeksplorasi serat rami dan tanaman oyong atau gambas sebagai sumber selulosa. Namun, TKKS memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan karena jumlahnya melimpah sebagai produk samping industri kelapa sawit.

Riset TKKS dilakukan secara bertahap, mulai dari skala laboratorium, pilot plant, hingga menuju produksi. Saat ini, Pindad memperoleh pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) untuk meningkatkan kapasitas produksi menjadi medium scale sebesar 50 ton per tahun.

“Risetnya berjalan from the scratch. Benar-benar kami melakukan riset dari skala lab kemudian dinaikkan lagi menjadi pilot. Dari pilot saat ini kami memperoleh pendanaan dari BPDP untuk ditingkatkan menjadi medium scale yaitu 50 ton per tahun,” jelas Prima.

Setelah mencapai kapasitas 50 ton per tahun, Pindad menargetkan peningkatan kapasitas hingga 1.000 ton per tahun. Tahapan tersebut diperlukan untuk mengoptimalkan parameter proses sebelum teknologi dikembangkan ke skala yang lebih besar.

TKKS untuk kemandirian propelan dan armor

Salah satu aplikasi paling strategis dari selulosa TKKS adalah sebagai bahan baku propelan. Prima memperkirakan kebutuhan propelan untuk memenuhi kebutuhan amunisi nasional mencapai sekitar 2.500–3.000 ton per tahun. Sementara kebutuhan Pindad saat ini berada di kisaran 800–1.000 ton per tahun.

Besarnya kebutuhan tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya ketersediaan bahan baku yang dapat diproduksi di dalam negeri.

Menariknya, kebutuhan TKKS untuk menghasilkan propelan relatif kecil dibandingkan potensi TKKS yang tersedia dari industri sawit nasional. Untuk menghasilkan sekitar 1.000 ton propelan per tahun, Pindad memperkirakan membutuhkan sekitar 2.500–3.000 ton TKKS.

“Keunggulannya karena ini di Indonesia cukup abundant, sangat luar biasa banyak. Kebutuhan kami untuk 1.000 ton propelan per tahun diperkirakan 2.500 sampai 3.000 ton TKKS. Itu jauh lebih sedikit daripada TKKS yang dihasilkan pabrik-pabrik kelapa sawit,” katanya.

Dengan ketersediaan yang melimpah tersebut, TKKS berpotensi tidak hanya menjadi produk samping, tetapi juga sumber bahan baku strategis bagi industri pertahanan.

Prima menilai pemanfaatan bahan lokal semakin penting karena material seperti kapas, cotton linter, hingga pulp kayu relatif sulit diperoleh secara mandiri di dalam negeri.

Pengembangan TKKS Pindad tidak berhenti pada propelan. Selulosa TKKS juga dikembangkan menjadi cellulose fiber dan nanokristal selulosa untuk material komposit.

Material tersebut diarahkan untuk aplikasi add-on armor pada kendaraan tempur seperti Anoa, Panser, hingga medium tank. Komposit ini bukan untuk menggantikan baja sebagai material utama armor, melainkan menjadi lapisan tambahan yang dapat meningkatkan perlindungan sekaligus mengejar bobot yang lebih ringan.

“Komposit armor ini bisa digunakan untuk Anoa, Panser kemudian medium tank dan lain-lain, tetapi di sini sebagai add-on, bukan full material. Tetap material armor utamanya baja,” kata Prima.

Dengan demikian, satu sumber biomassa sawit berpotensi masuk ke dua rantai teknologi berbeda: sebagai bahan baku propelan dan sebagai bagian dari material komposit untuk perlindungan kendaraan tempur.

Tantangan: Menyamakan Kualitas TKKS

Namun, pemanfaatan TKKS untuk kebutuhan industri strategis memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah standardisasi bahan baku.

TKKS yang berasal dari satu pabrik kelapa sawit dapat memiliki karakteristik berbeda dengan TKKS dari pabrik lainnya. Perbedaan tersebut dipengaruhi perlakuan terhadap TKKS setelah keluar dari proses pengolahan.

“Ada yang langsung dipres, ada yang langsung dikeringkan, ada yang tidak diapakan. Pada saat proses delivery ke kami itu akan membutuhkan proses yang berbeda-beda. Maka dari itu ini membutuhkan suatu standardisasi,” jelas Prima.

Oleh sebab itu, Pindad mulai berkomunikasi dengan sejumlah pabrik kelapa sawit untuk membangun sistem pasokan bahan baku yang lebih terstandar. Konsistensi bahan baku menjadi faktor penting agar selulosa yang dihasilkan memiliki karakteristik yang sesuai dan konsisten ketika memasuki skala industri.

Target Beroperasi 2027

Dari sisi teknologi, pengembangan biomaterial TKKS kini memasuki tahap menuju industrialisasi. Pada skala pilot, material yang dihasilkan telah diuji dan dinyatakan memenuhi standar yang dibutuhkan untuk produk pertahanan.

Menurut Prima, hasil pengujian telah memenuhi standar yang dipersyaratkan, termasuk standar pertahanan yang mengacu pada military standard maupun standar NATO. Produk tersebut juga telah melewati proses sertifikasi dan mulai digunakan dalam produksi skala kecil untuk sejumlah produk amunisi.

“Sudah kami coba, sertifikasinya sudah lulus dan saat ini sedang produksi untuk skala kecil untuk beberapa produk amunisi kami. Jadi benar-benar dari limbah kami manfaatkan untuk produk amunisi,” ujarnya.

Sementara itu, pembangunan fasilitas medium scale berkapasitas 50 ton per tahun masih berlangsung. Pindad menargetkan fasilitas tersebut mulai beroperasi pada pertengahan hingga akhir 2027.

Dalam jangka panjang, Pindad tidak menutup kemungkinan membangun beberapa fasilitas produksi di berbagai wilayah Indonesia. Konsepnya adalah mendekatkan fasilitas pengolahan dengan sentra industri sawit untuk menekan biaya dan kompleksitas logistik.

TKKS memiliki karakteristik sebagai material dengan volume besar, sementara nilai tambahnya meningkat setelah melalui proses pengolahan menjadi selulosa dan biomaterial.

“Harapan kami bukan hanya satu pabrik. Untuk long term nanti akan dibangun di beberapa lokasi di Indonesia, mungkin tiga atau empat lokasi di beberapa pulau. Konsepnya bagaimana kami mendekat ke beberapa pabrik sawit,” ujar Prima.

Pengembangan tersebut membuka perspektif baru terhadap TKKS. Produk samping industri sawit yang selama ini banyak dimanfaatkan untuk pupuk, energi, atau produk berbasis biomassa, kini mulai diarahkan masuk ke rantai pasok teknologi tinggi.

Bagi industri sawit, peluang ini memperluas nilai ekonomi TKKS. Sementara bagi industri pertahanan, pemanfaatan biomassa lokal membuka alternatif sumber bahan baku sekaligus peluang mengurangi ketergantungan terhadap material impor.

Prima menekankan pentingnya menjaga ekosistem kolaborasi antara pemerintah, BPDP, perguruan tinggi, peneliti, dan industri agar inovasi tersebut dapat berlanjut hingga tahap komersialisasi dan industrialisasi.

“Ini salah satu contoh yang luar biasa, di mana benar-benar terjalin komunikasi dan kerja sama mulai dari akademisi, industri, dan pemerintah. Ini benar-benar terimplementasi di industri,” katanya.

Dengan demikian, perjalanan TKKS tidak lagi berhenti sebagai produk samping pabrik kelapa sawit. Dari kebun dan pabrik sawit, material tersebut mulai diarahkan menuju laboratorium, fasilitas produksi, hingga rantai teknologi strategis pertahanan nasional.

Artikel Terkait