Mosfly Ang, Direktur Utama PT Sumber Tani Agung Resources Tbk

PT Sumber Tani Agung  Resources Tbk (STAA) menjajaki investasi hilir sawit. Pembangunan refineri berkapasitas 2.000 ton per hari ditujukan memenuhi kebutuhan domestic dan ekspor. Bagaimana peluangnya?

Menjelang 10 Maret 2022, Mosfly Ang cukup sibuk mempersiapkan Initial Public Offering (IPO) PT Sumber Tani Agung Resources Tbk. Perusahaan yang telah berusia 52 tahun lamanya ini serius mengembangkan bisnis hilir.

“Pengalaman kami sebelumnya lebih dulu di bisnis upstream (red-hulu). Perkebunan sawit perusahaan telah dibuka semenjak 1970 di Desa Aek Kota Batu, Sumatera Utara Di generasi pertama memang pertumbuhan lebih konservatif,” ujar Mosfly dalam wawancara melalui virtual.

Memasuki 1996, Perusahaan mendirikan pabrik pengolahan kelapa sawit pertama melalui PT Sumber Tani Agung. Sejak saat itu perusahaan terus berkembang dan melakukan ekspansi di luar Sumatera Utara. Kini luas perkebunan sawit STA Resources mencapai 41.775 hektar terdiri dari perkebunan inti dan plasma. Perkebunan sawitnya tersebar di empat provinsi yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimatan Barat dan Kalimantan Tengah.

Mosfly menjelaskan bahwa bisnis hulu perusahaan mengelola 13  unit perkebunan kelapa sawit, 9 pabrik kelapa sawit, 1 pabrik pengolahan inti sawit dan 1  pabrik ekstraksi ampas inti sawit. Seluruh lahan perusahaan telah tertanam dan 97% lahan telah menghasilkan (mature).

“Selama 50 tahun lamanya, fokus perusahaan memang kepada bisnis upstream di perkebunan kelapa sawit dan pabrik pengolahannya. Dua tahun belakangan telah memasuki segmen midstream yaitu pabrik  pengolahan inti sawit dan pabrik ekstraksi ampas inti sawit,” jelasnya.

Selain CPO (minyak sawit mentah) dan PKO (minyak inti sawit), perusahaan juga menghasilkan Palm Kernel Expeller (PKE) dan Palm Kernel Meal (PKM). Produk ini sebagian besar berorientasi dijual ke pasar ekspor. Kapasitas produksi pabrik pengolahan inti sawit perusahaan mencapai 300 ton per hari dan kapasitas produksi pabrik ekstraksi ampas inti sawit sebesar 500 ton perhari.

“Produk PKM dan PKE digunakan sebagai bahan baku pakan ternak. Australia, Korea, China dan Selandia Baru merupakan negara-negara yang memanfaatkannya,” ujar Mosfly.

Setelah sukses mengelola bisnis di hulu. Mosfly menuturkan perusahaan mulai melebarkan bisnis untuk mendapatkan nilai tambah dari kelapa sawit. Itu sebabnya, perusahaan menjajaki sektor hilir. Di sisi lain, kebijakan pemerintah juga mendorong pengembangan hilir sawit.

Dalam prospektusnya, perusahaan berencana melakukan pembangunan industri hilir melalui PT Sumber Tani Agung Oils & Fats  yang berlokasi di Lubuk Gaung, Provinsi Riau. Refineri ini akan berdiri di atas lahan 42,698 Ha. Tujuan pembangunan dikarenakan Volume CPO milik Grup Perseroan telah mencapai 70% dari kapasitas refineri. Selain itu juga untuk memberikan nilai tambah bagi CPO yang diproduksi Grup Perseroan serta memperluas pangsa pasar dengan melakukan diversifikasi ke produk turunan CPO.

“Pengembangan lanjutan untuk menekankan pengembangan industri turunan dan ingin memperluas pasar dengan melakukan diversifikasi produk turunan CPO dan dengan adanya keberagaman produk pertumbuhan grup usaha akan semakin berkembang,” tutur Mosfly Ang.

Mosfly menjelaskan pembangunan refineri di Lubuk Gaung telah memperhatikan strategisnya lokasi tersebut. Apalagi, di wilayah ini sudah berdiri refineri lain dari kelompok usaha besar kelapa sawit. Dari aspek geografis, wilayah ini sangat strategis karena lokasinya tidak jauh dari pabrik sawit perusahaan.

“Sekitar 65 sampai 70 persen produksi CPO yang dihasilkan STA Resources akan digunakan menjadi bahan baku refineri,” urai Mosfly.

Pembangunan refineri STA Resources diperkirakan membutuhkan dana sebesar Rp783 miliar. Sumber pembiayaan refineri beserta fasilitas pendukungnya bersumber dari dana IPO dan dana internal Group Perseroan.  Perusahaan akan menawarkan 877,072 juta lembar saham atau setara 8,06 persen.

Setiap saham akan ditawarkan dengan harga penawaran Rp470 sampai Rp605 per lembar, menurut prospektus IPO yang telah diterbitkan STAA. Dengan demikian, STAA berpotensi meraup dana segar hingga Rp530,62 miliar dari aksi korporasi ini.  Tanggal efektif pencatatan saham perdana di BEI dijadwalkan pada 10 Maret 2022.

Dana Penawaran Umum saham Perdana akan digunakan untuk belanja modal sebagai berikut: sekitar 56% akan digunakan untuk pembangunan refineri dengan kapasitas 2.000 ton minyak kelapa sawit (crude palm oil atau “CPO”) per hari membutuhkan waktu 22 bulan, yang diperkirakan target penyelesaian pada Oktober 2023.

Selanjutnya, sekitar 22% akan digunakan untuk pembangunan fasilitas dermaga membutuhkan waktu 22 bulan, yang diperkirakan target penyelesaian pada Oktober 2023. Berikutnya 22% dana dipakai membangun tangki timbun dengan kapasitas 35.000 MT tersebut membutuhkan waktu 22 bulan, yang diperkirakan target penyelesaian pada Oktober 2023.

“Refineri akan berada di atas lahan seluas 42 hektare yang terintegrasi dengan fasilitas pendukung. Fasilitas  pendukung meliputi pelabuhan dan tangki timbun untuk mendukung kegiatan operasional bisnis hilir” ujarnya.

Mosfly menyebutkan pengalaman perusahaan yang sukses membangun sektor hulu menjadi modal di sektor hilir. Refineri akan menghasilkan produk olein dan stearin. Sebagian besar fokus penjualan ditujukan kepada pasar ekspor seperti Asia. Dikatakan Mosfly, ada nilai tambah sangat besar yang dapat dihasilkan dari industri turunan.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 124)

Share.

Comments are closed.