• Jumat, 9 Oktober 2026
Artikel

Solusi di Tengah Fragmentasi Dunia: IPOC 2026 Akan Ulas Strategi Hulu-Hilir Industri Sawit

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) kembali menggelar forum strategis tahunan yang menjadi barometer arah kebijakan dan prospek industri kelapa sawit nasional maupun global: konferensi sawit yang dihadiri pemerintah, para pakar internasional, maupun pegiat industri sawit. The 22nd Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) and 2027 Price Outlook (IPOC 2026) akan berlangsung pada 11–13 November 2026 di Bali International Convention Center (BICC), The Westin Resort Nusa Dua, Bali, dengan tema “Palm Oil in a Fragmented World: Securing Food, Energy, and Economic Resilience.”

Tema tersebut mencerminkan kondisi global yang kian terfragmentasi, ditandai oleh perang dagang, proteksionisme, persaingan geopolitik, serta standar keberlanjutan yang berbeda-beda antarkawasan. Di tengah situasi tersebut, industri sawit Indonesia dituntut tidak hanya menjaga daya saing, tetapi juga memperkuat perannya sebagai penopang ketahanan pangan, energi, dan ekonomi nasional.

Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan pasokan minyak nabati global. Di dalam negeri, sawit menjadi bahan baku utama minyak goreng dan pangan olahan, sekaligus tulang punggung program biodiesel yang menopang kemandirian energi. Sektor ini juga menjadi salah satu penyumbang devisa ekspor nonmigas terbesar dan menggerakkan perekonomian jutaan masyarakat di wilayah perkebunan, termasuk petani sawit rakyat.

Karena itu, Industri ini harus terus beradaptasi terhadap perubahan kebijakan, tantangan lingkungan, serta transformasi energi hijau yang tengah berkembang pesat di berbagai negara. Ketua Umum GAPKI Eddy Martono menyampaikan bahwa IPOC 2026 hadir pada saat yang tepat, ketika para pelaku industri perlu membaca ulang peta perdagangan global yang terus berubah. Forum ini diharapkan mampu menghasilkan gagasan strategis dan rekomendasi kebijakan yang memperkuat ketahanan industri sawit nasional.

“Dunia saat ini semakin terfragmentasi, baik secara ekonomi maupun geopolitik. Melalui IPOC 2026, kami ingin membahas bagaimana industri sawit Indonesia dapat tetap tangguh, dan justru menjadi bagian dari solusi bagi ketahanan pangan dan energi, baik di dalam negeri maupun global,” ujar Eddy.

Artikel Terkait