Oleh: Kuntoro Boga Andri (Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian)
Nama Soedjai Kartasasmita mungkin tidak sering menghiasi halaman depan surat kabar. Ia bukan politisi panggung, bukan pula tokoh yang gemar membangun citra. Namun bagi dunia perkebunan Indonesia, Soedjai adalah sosok perintis yang tenang, konsisten, dan menerangi jalan panjang transformasi sektor yang sejak awal menjadi tulang punggung ekonomi bangsa Indonesia di sektor Perkebunan. Riwayat hidupnya bukan sekadar kisah seorang teknokrat, melainkan refleksi bagaimana Indonesia membangun kedaulatan perkebunan melalui proses panjang, kesabaran, dan kerja senyap.
Soedjai lahir pada 26 November 1926 di Cipari, Cilacap, Jawa Tengah. Ia tumbuh dalam generasi yang percaya bahwa kemerdekaan harus diikuti dengan kemampuan mengelola sumber daya sendiri. Pendidikan pertaniannya ditempuh di Sekolah Pertanian Menengah Atas Malang dan Middelbare Landbouwschool Bogor, dua lembaga yang pada masa awal republik menjadi dapur kader teknokrat pertanian. Bekal akademik itu membawanya langsung ke lapangan, tempat idealisme diuji oleh realitas.
Dari Kebun Kolonial ke Aset Nasional
Awal karier Soedjai berlangsung di masa transisi yang genting. Pada awal 1950-an, ia bekerja sebagai asisten senior di perkebunan karet milik Belanda di Garut. Dalam struktur kolonial yang hierarkis, ia tercatat sebagai satu-satunya orang Indonesia yang menduduki posisi tersebut. Situasi keamanan akibat pergolakan DI/TII kemudian mendorongnya hijrah ke Sumatra. Di Pematang Siantar, ia bekerja di perkebunan teh Marjandi sebagai wakil administrator, sebuah posisi yang menuntut ketegasan manajerial sekaligus kepekaan sosial.
Momentum penting datang ketika pemerintah Indonesia menasionalisasi perkebunan-perkebunan asing. Aset yang sebelumnya dikelola kolonial beralih menjadi Perusahaan Perkebunan Negara. Soedjai naik jabatan menjadi administratur pada 1957, menandai perannya sebagai bagian dari generasi awal manajer Indonesia yang dipercaya mengelola kekayaan negara. Di fase ini, ia belajar bahwa nasionalisasi bukan sekadar pergantian kepemilikan, tetapi juga ujian kapasitas. Dimana pertanyaannya mampukah bangsa ini mengelola warisannya sendiri secara profesional?
Pengalaman lapangan membentuk cara pandangnya. Ia memahami bahwa perkebunan bukan hanya soal produksi, melainkan soal keberlanjutan sosial. Tanpa tata kelola yang rapi dan keberpihakan pada tenaga kerja, nasionalisasi bisa berubah menjadi beban. Prinsip inilah yang kelak ia bawa ketika menduduki posisi strategis di tingkat nasional.
Membangun Fondasi Perkebunan Modern
Pada dekade 1960-an hingga 1970-an, Soedjai dipercaya memegang sejumlah jabatan penting di perusahaan perkebunan negara. Puncaknya, ia ditunjuk menjadi Direktur Utama Perusahaan Perkebunan Negara VI pada 1968. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan ini berkembang pesat dan menjadi salah satu motor ekspansi perkebunan kelapa sawit nasional. Ekspansi dilakukan ke berbagai wilayah, dari Aceh, Sumatra Utara, Riau, Jambi, hingga Kalimantan Timur, dengan pendekatan yang terencana.
Namun kontribusi Soedjai tidak berhenti pada perluasan areal. Ia adalah salah satu perintis kemitraan inti–plasma, sebuah gagasan yang pada masanya belum populer. Ia melihat bahwa perkebunan besar tidak akan berkelanjutan jika berdiri terpisah dari masyarakat sekitar. Program plasma pertama yang digagasnya melibatkan ratusan keluarga petani dan menjadi cikal bakal pola kemitraan yang kemudian diadopsi secara nasional. Model ini menjadikan petani bukan sekadar buruh, melainkan mitra produksi.
Di periode yang sama, Soedjai juga berperan dalam revitalisasi industri gula nasional. Melalui Dewan Gula Indonesia, ia terlibat dalam rehabilitasi pabrik-pabrik gula tua dan pembangunan pabrik baru. Upaya ini sempat membawa Indonesia mendekati swasembada gula pada pertengahan 1980-an. Ia memandang gula bukan sekadar komoditas, tetapi simbol kemampuan negara mengelola pangan strategis.
Pandangan jauh ke depan juga terlihat dalam dorongannya terhadap hilirisasi. Pada akhir 1970-an, ia terlibat dalam inisiatif pendirian pabrik minyak goreng berbahan baku kelapa sawit. Sebuah langkah yang kala itu dianggap berani. Keputusan ini meletakkan dasar bagi berkembangnya industri minyak sawit nasional dan mengurangi ketergantungan pada bahan baku tradisional. Bagi Soedjai, menjual bahan mentah berarti menyerahkan nilai tambah, hilirisasi adalah jalan menuju kedaulatan ekonomi.
Warisan Pemikiran dan Keteladanan
Selepas memimpin langsung BUMN perkebunan, Soedjai tetap aktif melalui berbagai organisasi nasional dan internasional. Ia memimpin asosiasi perkebunan, terlibat di dunia usaha, dan menjadi figur penting dalam forum global industri gula. Pengakuan internasional tidak mengubah wataknya: ia tetap teknokrat yang percaya pada data, riset, dan proses.
Di usia senja, kontribusinya justru mengambil bentuk yang lebih reflektif. Ia menggagas pendirian Museum Perkebunan Indonesia di Medan sebagai ruang ingatan kolektif. Baginya, kemajuan tidak boleh memutus hubungan dengan sejarah. Generasi baru harus memahami bahwa sektor perkebunan dibangun melalui kerja panjang, bukan kebetulan.
Penghargaan demi penghargaan ia terima, termasuk gelar doktor kehormatan pada usia lanjut. Namun yang lebih penting dari gelar adalah warisan nilai yang ia tinggalkan, yaotu integritas, kesabaran, dan keberanian mengambil keputusan jangka panjang. Ia menolak melihat perkebunan secara hitam-putih, antara ekonomi dan lingkungan, antara negara dan rakyat. Kemajuan, baginya, lahir dari keseimbangan.
Soedjai Kartasasmita wafat pada 1 Februari 2026, di usia 99 tahun, meninggalkan jejak yang mungkin tidak selalu terlihat, tetapi terasa kuat dalam fondasi sektor perkebunan Indonesia. Dalam senyap, ia telah menjadi penjaga arah, dan seorang begawan yang mengajarkan bahwa membangun bangsa, seperti menanam pohon, membutuhkan waktu, ketekunan, dan keyakinan bahwa hasilnya kelak akan dinikmati oleh generasi mendatang.
Tentang Penulis:
Kuntoro Boga Andri, SP, M.Agr, Ph.D, lahir di Banjarmasin pada tanggal 1 Desember 1974, merupakan lulusan Institut Pertanian Bogor tahun 1998. Ia adalah alumni S1 Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian IPB. Saat ini aktif sebagai pengurus pusat PERHEPI (Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia), Ketua Bidang Pertanian dan Pangan DPP HA IPB 2025-2029, dan Dewan Pengurus Nasional (DPN), Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) periode 2025-2030.
Sejak tahun 1999 sampai pertengahan tahun 2000, mewakili propinsi Jawa Timur dalam collaborative riset exchange program ke Jepang. Selanjutnya, tahun 2002 sampai dengan tahun 2007, melanjutkan studi pascasarjana di Negeri Sakura tersebut. Gelar Master of Agriculture diperolehnya tahun 2004 di bidang Ekonomi dan Pemasaran Pertanian, Graduate School of Agriculture, Saga University, Jepang. Sementara, gelar PhD diperolehnya tahun 2007 dalam bidang Ekonomi dan Kebijakan Pertanian di The United Graduate School of Agricultural Sciences, Kagoshima University, Jepang.
Kuntoro Boga berhasil meraih jabatan fungsional jenjang Peneliti Madya tahun 2010 dan mencapai jabatan Peneliti Utama pada tahun 2017. Selama menjadi Peneliti, Kuntoro Boga sangat aktif melakukan kerja sama riset dalam dan luar negeri baik sebagai anggota dan ketua tim peneliti, dan terlibat dalam international project sebagai Collaborating Scientist, Technical Consultant dan project coordinator untuk The Indonesian FAO Project, Bioversity International (CGIAR Consortium), ILRI (International Livestock Institue), ACIAR (Australia), dan AVRDC (Taiwan) Project Development.
Sejak bulan Maret 2018, Kuntoro dipercaya menduduki jabatan sebagai Kepala Biro Humas dan Informasi Publik, Kementerian Pertanian sampai dengan Juli 2024. Selanjutnya sebagai Kepala Pusat Standardisasi Instrumen Perkebunan pada 2024-2025. Pada 26 Maret 2025 – 8 Juli 2025 menjadi Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Perkebunan dan pada tanggal 9 Juli 2025, dilantik sebagai Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementerian Pertanian, sampai saat ini.
Beberapa penghargaan dan apresiasi diperolehnya dari lembaga Internasional diantaranya Yoshinogari Goodwill Ambassador of The Saga Prefecture untuk kerjasama dan pertukaran ilmu serta kebudayaan dari Gubernur Saga Prefecture-Jepang (2000 ), dan IVLP (International Visitor Leadership Program) dari Bureau of Educational and Cultural Affairs, the United States Department of State, Amerika Serikat (2016).






