• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

Sinergi IPB Training, BPDP, dan Ditjenbun: 84 Petani Sawit Aceh Dilatih Teknis Budidaya untuk Tingkatkan Produktivitas

Banda Aceh, SAWIT INDONESIA - Sebanyak 84 petani sawit dari Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur mengikuti Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit. Tujuan dari pelatihan ini yaitu untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan petani dalam mengelola budidaya secara produktif, berkelanjutan, dan sesuai dengan standar mutu nasional.

Pelatihan ini bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDM PKS) 2025, hasil kolaborasi antara Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), dan IPB Training sebagai pelaksana pelatihan.

Secara teknis, pelatihan terbagi menjadi dua kelas (tiga angkatan, V, VI, dan XV, diikuti 57 petani dari Aceh Tamiang, sedangkan sisanya 27 petani dari Aceh Timur. Diadakan selama lima hari (21 – 25 Juli 2025), di salah satu hotel ternama di Banda Aceh – Provinsi Aceh.

Dr. Ir. Hariyadi, M.S, dari IPB Training menyampaoikan pentingnya pemahaman menyeluruh dalam tahapan budidaya sawit. Mulai dari persiapan lahan, pemilihan dan pembibitan, penanaman, pemeliharaan tanaman, hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman.

"Keberhasilan dalam membangun kebun sawit sangat ditentukan oleh tiga faktor utama yakni pemilihan lokasi yang tepat, penggunaan bahan tanam unggul, dan pengelolaan serta pemeliharaan yang baik," ujarnya saat menyampaikan sambutan di acara pembukaan pelatihan, pada Senin (21 Juli 2025).

"Jika ketiganya dilakukan dengan benar, hasil optimal bisa dicapai. Untuk itu, melalui pelatihan ini para peserta dapat langsung menerapkan ilmu setelah pelatihan dan kunjungan di lapangan," imbuh Dr. Hariyadi.

Sementara itu, Ketua Tim Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pelatihan BPPSDMP Kementerian Pertanian: Dr. M. Apuk Ismane menambahkan peran lembaga swasta melalui kegiatan pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan sangat strategis dalam menyiapkan SDM pertanian yang kompeten dan mendukung agenda Kementerian Pertanian 2025–2029.

Sedangkan, Ketua Tim Kerja Pemberdayaan dan Peningkatan Kapasitas Direktorat Jenderal Perkebunan, Tulus Tri Margono, S.P., M.P., menegaskan pentingnya pelatihan ini bagi petani rakyat.

"Mengingat, lebih dari 42% kebun sawit di Indonesia merupakan milik petani rakyat, dengan produktivitas yang masih tergolong rendah, hanya sekitar 3 ton/ha per tahun. Padahal, potensi hasil bisa ditingkatkan hingga 5–6 ton/ha per tahun," katanya.

"Adapun kendala utama yang dihadapi antara lain keterbatasan sarana prasarana, benih yang tidak sesuai, dan praktik pemupukan yang belum optimal," sambung Tulus.

Hal senada disampaikan Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh, Dr. Zulfadli, S.P., M.P menyampaikan pentingnya pelatihan sebagai langkah awal sebelum memulai budidaya.

"Jika salah satu aspek budidaya terlewat atau dilakukan tidak tepat, dampaknya bisa sangat besar. Oleh karena itu, pelatihan seperti ini sangat penting agar petani memahami dan mampu menerapkan praktik terbaik di lapangan," ujarnya.

Seperti diketahui, kelapa sawit menjadi komoditas unggulan Aceh, dengan luas lahan mencapai 230.000 hektar yang menjadi sumber devisa utama.

Teori dan kunjungan lapangan

Dalam pelaksanaannya, IPB Training sebagai lembaga pelatihan yang ditunjuk BPDP, menghadirkan para trainer profesional yang menyampaikan materi di setiap sesi mengenai pengelolaan kelapa sawit kepada peserta.

Selama pelatihan, peserta tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga dibekali praktik langsung di lapangan. Materi yang disampaikan mencakup teknik pembibitan, penanaman, pemupukan, hingga pengendalian hama dan penyakit. Semua disampaikan secara terstruktur oleh tim IPB Training.

Pelatihan ini menunjukkan bahwa pendampingan teknis kepada petani, terutama untuk komoditas strategis seperti kelapa sawit, masih sangat dibutuhkan demi meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan usaha tani rakyat di Aceh. Pelatihan ini menjadi bagian dari komitmen BPDP dan IPB Training dalam pengembangan sumber daya manusia sawit yang profesional dan siap menghadapi tantangan industri ke depan.

Selain mendapatkan materi, teori dan simulasi di kelas, para peserta juga mengikuti kegiatan kunjungan lapang yang dilaksanakan pada Kamis (24 Juli 2025) di PT Agro Sinergi Nusantara.

Saat kunjungan lapangan (kebun), peserta mengamati langsung praktik budidaya kelapa sawit di tiga lokasi: area pembibitan, tanaman belum menghasilkan, dan tanaman menghasilkan. Kegiatan ini memberikan wawasan praktis yang memperkuat pemahaman peserta terhadap teori yang telah diberikan. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan wawasan praktis kepada pekebun sawit mengenai kegiatan budidaya kelapa sawit dan pembenihan kelapa sawit di industri. Selain itu Kegiatan kunjungan lapang ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi para peserta untuk mendapatkan pengetahuan secara lebih luas dan spesifik lagi mengenai dunia industri PKS, dan agar dapat bermanfaat bagi diri, dan kemajuan Sawit Indonesia.

Lokasi pertama, peserta diajak untuk mengunjungi kebun tanaman menghasilkan. Peserta diperlihatkan teknis panen yang baik dan efektif, OPT yang menyerang di kebun TM dan cara penangan pasca buah telah dipanen, interval dan angka kerapatan panen. Peserta juga melakukan identifikasi tanaman yang ada di kebun secara berkelompok.

Di lokasi selanjutnya peserta diajak untuk mengunjungi kebun pembibitan. Disana peserta diajak untuk mengamati beberapa contoh bibit yang tidak bagus dan berdiskusi penyebabnya, seleksi bibit dan cara transplanting Peserta juga antusias bertanya bagaimana cara mengidentifikasi bibit yang bersertifikasi dan belum tersertifikasi.

Secara keseluruhan kegiatan kunjungan lapangan ini disambut antusias peserta, yang tampak aktif bertanya dan berdiskusi dengan tim praktisi. Para peserta mendapatkan wawasan langsung mengenai teknik panen yang efektif, pemilihan bibit unggul, dan pengelolaan kebun berkelanjutan.

Peserta pahami materi

Salah satu peserta, Kamisan, petani asal Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang, mengungkapkan bahwa pelatihan ini menjadi pengalaman pertamanya dalam mengikuti kegiatan yang disusun secara ilmiah dan sistematis.

"Sudah 15 tahun saya berkebun, tapi baru sekarang mendapatkan pelatihan seperti ini. Selama ini kami hanya menanam berdasarkan kebiasaan, tanpa ilmu dan ukuran yang pasti. Bahkan jarak tanam pun tidak beraturan, kadang 8x8 meter. Dari pelatihan ini, saya baru tahu standar tanam ideal menggunakan pola mata lima dengan ukuran 9x9 meter," ujarnya.

Kamisan juga mengakui bahwa hasil panen yang selama ini hanya mencapai 300–500 kilogram per bulan disebabkan oleh pola perawatan dan pemupukan yang tidak terencana. Setelah mengikuti pelatihan, ia mulai memahami pentingnya penggunaan bibit unggul, teknik pemeliharaan tanaman, dan waktu pemupukan yang tepat. "Alhamdulillah, pelatihan ini membuka wawasan kami," tambahnya.

Hal senada disampaikan oleh Sufrio, perwakilan kelompok petani dari Aceh Timur. Ia mengapresiasi penyelenggaraan pelatihan ini dan berharap kegiatan serupa dapat dilanjutkan secara berkelanjutan.

"Program ini sangat bermanfaat. Kami jadi tahu bagaimana menjadi petani sawit yang berkelanjutan. Mudah-mudahan tahun depan bisa ada lagi," ungkapnya.

Artikel Terkait