• Kamis, 29 Oktober 2026
Berita Terbaru

Sikapi Regulasi Hijau dan Program B50 Indonesia, CPOPC Serukan Kolaborasi Negara Produsen-Konsumen Minyak Nabati

SHANGHAI, SAWIT INDONESIA - Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) menyerukan penguatan kolaborasi praktis antara negara produsen dan konsumen guna membangun rantai pasok minyak nabati global yang berkelanjutan, tangguh, serta adaptif. Langkah strategis ini dinilai krusial di tengah gejolak perubahan regulasi hijau, volatilitas harga, dan ketatnya standar keberlanjutan dunia.

Pesan tersebut menjadi diskursus utama dalam Sustainable Vegetable Oils Conference (SVOC) ke-4 bertema “Sustainability Alignment, Resilient Value Chains” yang diselenggarakan CPOPC di Shanghai, China, pada 27 Oktober 2026. Forum tingkat tinggi ini dihadiri lebih dari 200 pemangku kepentingan dari 11 negara, meliputi jajaran pejabat pemerintah, pelaku industri, hingga pakar komoditas global.

Sekretaris Jenderal CPOPC, Izzana Salleh, menekankan krusialnya kepastian regulasi dan diversifikasi hubungan dagang untuk menjaga stabilitas arus investasi serta pasokan pangan dan bioenergi dunia.

“Ketahanan rantai pasok memerlukan informasi pasar yang dapat diandalkan, hubungan dagang yang terdiversifikasi, logistik yang efisien, dan kerangka kebijakan yang dapat diprediksi. Keterlibatan lebih erat antara produsen dan pembeli diperlukan agar komitmen pasokan, standar keberlanjutan, serta insentif komersial dapat berjalan selaras,” tegas Izzana Salleh dalam keterangan resminya, Kamis (29/10/2026).

Poin-poin utama skala pasar global, strategi peningkatan produktivitas petani rakyat, hingga sorotan terhadap kebijakan mandatori B50 Indonesia meliputi:

Skala Pasar Minyak Nabati & Urgensi Posisi Strategis China:

  • Total produksi minyak nabati dunia pada 2026 diperkirakan menembus 234 juta ton, dengan minyak sawit menyumbang 85 juta ton (lebih dari sepertiga total kebutuhan global).

  • China memegang peranan kunci sebagai pasar konsumen raksasa dengan proyeksi konsumsi minyak nabati mencapai 35,8 juta ton, di mana 5,07 juta ton di antaranya diserap oleh komoditas minyak sawit.

Perspektif Para Menteri dan Isu Akses Pasar:

  • Indonesia: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyoroti pentingnya intensifikasi dan peningkatan produktivitas petani kecil (smallholders) tanpa harus melakukan perluasan/ekstensifikasi lahan perkebunan.

  • Malaysia: Menteri Perladangan dan Komoditas Malaysia Noraini Ahmad menggarisbawahi bahwa penerapan standar keberlanjutan harus berfungsi sebagai pendorong akses pasar global, bukan justru menjelma menjadi hambatan perdagangan non-tarif.

  • Honduras: Mengaitkan pentingnya sistem ketertelusuran (traceability) yang transparan dan kredibel demi membuktikan legalitas keberlanjutan produksi.

Aplikasi Agronomi Presisi dan Inovasi Teknologi:

  • Sesi “Driving Sustainability through Productivity and Innovation” membahas adopsi bahan tanam unggul, mekanisasi perkebunan, agronomi presisi, dan skema sertifikasi (seperti MSPO dan RSPO) guna mengerek daya saing industri.

  • Sesi ini menghadirkan perwakilan Kuala Lumpur Kepong Berhad (KLK), AAK China, Sinar Mas Agribusiness and Food, hingga WWF China.

Sorotan Terhadap Program B50 Indonesia dan Kebijakan Hijau:

  • Forum SVOC mengulas secara khusus dampak penerapan kebijakan biodiesel B50 Indonesia dan pengembangan biofuel berbasis sawit di Malaysia terhadap keseimbangan pasokan dan harga di pasar global.

  • Isu pengembangan rantai pasok di Afrika (Republik Demokratik Kongo) dan peremajaan kebun rakyat di Papua Nugini turut dibahas bersama Dewan Energi Nasional (DEN) RI, MPOB, dan World Resources Institute (WRI) China.

Konferensi internasional ini diselenggarakan CPOPC bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Kedutaan Besar Malaysia di Beijing, serta mendapat dukungan penuh dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Melalui SVOC, CPOPC berkomitmen untuk terus memfasilitasi dialog berbasis fakta ilmiah guna memastikan minyak sawit tetap menjadi pilar utama ketahanan pangan dan transisi energi dunia.

Sumber: idxchannel.com

Artikel Terkait