Pekanbaru, SAWIT INDONESIA - Seminar sesi II hari kedua SIEXPO 2025 di Pekanbaru menjadi panggung bagi inovasi pertanian kelapa sawit yang menjanjikan peningkatan produktivitas dan keberlanjutan. Para narasumber dari PT Bio Sarana Indonesia, PT Pelita Susun Bentang Organik, dan Asian Agri memaparkan solusi teknologi dan benih unggul untuk mengatasi tantangan di industri sawit, mulai dari hama, penyakit, hingga produktivitas rendah.
Technical Expert PT Bio Sarana Indonesia (BSI) Ichsan Nurul Bari memperkenalkan Polimesh, feromon agregasi berbasis isoanethole dengan konsentrasi 450 g/liter, yang dirancang untuk menarik kumbang penyerbuk sawit (Elaeidobius kamerunicus). Produk ini terbukti meningkatkan efektivitas penyerbukan bunga sawit hingga 3–4 bulan berkat aroma yang tahan lama.
“Hasil uji coba menunjukkan peningkatan produktivitas yang konsisten di beberapa perusahaan,” ungkap Ichsan dalam seminar bertajuk "Benih Sawit, Pencegahan Hama Penyakit, dan Peranan Elaedobius Kamerunicus dalam Optimalisasi Produktivitas Kelapa Sawit".
Selain Polimesh, BSI juga memamerkan produk unggulan lainnya:
GiRAT: Rodentisida organik berbentuk soft bait hijau yang efektif mengendalikan tikus pohon (Rattus tiomanicus), namun aman bagi predator alami seperti burung hantu dan hewan ternak.
PESTOR 20,02 EC: Insektisida nabati ramah lingkungan yang terdaftar resmi di Indonesia, menjadi alternatif pengganti insektisida sintetis untuk pengendalian hama pertanian.
NAFU: Senyawa humat dengan asam humat minimal 10%, berfungsi sebagai pembenah tanah, nutrisi tanaman, dan anti-stres. Produk ini mampu mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 30%, sekaligus meningkatkan pH dan kapasitas tukar kation (KTK) tanah.
Darmono Taniwiryono, Direktur PT Pelita Susun Bentang Organik dan penemu virgin palm oil, memaparkan strategi pengendalian terpadu terhadap Ganoderma boninense, patogen penyebab busuk pangkal batang yang merugikan industri sawit.
“Kerugian akibat Ganoderma diperkirakan mencapai Rp40 triliun per tahun,” ujar Darmono, merujuk pada perkiraan moderatnya.
Darmono menekankan pendekatan terpadu dengan empat strategi utama yakni Root Feeding Trench: Parit melingkar di tepi piringan tanaman (lebar satu cangkul, kedalaman 30 cm) untuk memutus jalur akar, merangsang pertumbuhan akar baru, dan mengaplikasikan bahan organik serta isolat Trichoderma unggul.
Aplikasi Trichoderma: Isolat Trichoderma yang telah melewati dua tahap seleksi—mematikan Ganoderma (biofungisida) dan memacu pertumbuhan tanaman (biofertilizer)—diterapkan secara selang-seling dengan bahan organik.
Pembersihan Pangkal Batang: Tubuh buah Ganoderma dibersihkan, dikumpulkan, dan dibakar, lalu pangkal batang ditimbun dengan tandan kosong yang ditaburi biofungisida.
Hasil Lapangan: Dalam satu bulan, akar baru tumbuh, dan dalam tiga bulan, tajuk tanaman yang sakit ringan mulai pulih melalui mekanisme Induced Systemic Resistance (ISR). Pendekatan ini telah diuji oleh 24 pengguna, termasuk perusahaan dan kebun rakyat.
Darmono menegaskan bahwa pendekatan ini bukan coba-coba, melainkan berbasis penelitian sejak 2012, termasuk parit isolasi untuk tanaman sehat yang terbukti efektif di Riau.
Benih Asian Agri: Solusi Produktivitas dan Ketahanan
Yopy Dedywiryanto dari Asian Agri (Head of Planting Material) memperkenalkan benih Topaz DxP varietas unggul dengan kandungan minyak dan berat tandan lebih tinggi dibandingkan varietas tradisional. Benih ini tahan terhadap busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Ganoderma, adaptif untuk daerah kering dan memiliki kontaminasi dura di bawah 0,5%
“Benih bersertifikat ini telah melalui pengujian ketat untuk kemurnian genetik, kemampuan berkecambah, dan ketahanan penyakit,” jelas Yopy.
Fakta unggulan benih Topaz DxP, menurut Yopy yakni kapasitas produksi tahunan bisa mencapai 25 juta benih kecambah, panen lebih awal pada usia 30 bulan, hasil rata-rata 38 ton tandan buah segar (TBS) per hektare pada tahun ke 3-6 menghasilkan, dan tingkat ekstraksi minyak 28% dan minyak kernel 5%, dengan total produksi minyak hingga 10 ton per hektare.
Yopy menekankan pentingnya praktik penanaman kembali yang baik untuk mengoptimalkan benih unggul.
“Benih bersertifikat saja tidak cukup. Identifikasi dan penggantian pohon tidak produktif harus dilakukan untuk memaksimalkan hasil dan keberlanjutan,” ujarnya.
Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) telah mendukung 16.300 petani swadaya meremajakan 32.700 hektare lahan dengan benih bersertifikat, meski tantangan seperti keterbatasan anggaran dan pengetahuan masih dihadapi petani.
Meskipun benih bersertifikat menawarkan hasil panen lebih tinggi dan ketahanan terhadap penyakit, petani swadaya sering terkendala oleh biaya premium dan minimnya akses informasi tentang praktik pertanian yang baik (GAP). Kolaborasi melalui program PSR menjadi kunci untuk meningkatkan akses terhadap benih unggul dan bantuan keuangan, sehingga petani dapat menggantikan pohon tua dengan varietas berkualitas tinggi.
Seminar SIEXPO 2025 sesi II menegaskan bahwa inovasi teknologi, benih unggul, dan pendekatan terpadu adalah pilar utama untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan industri kelapa sawit.














