• Selasa, 22 September 2026
Berita Terbaru

Sekretaris Jenderal CPOPC, Izzana Salleh Sebut Tiga Strategi untuk Sawit Indonesia di Level Global

Nusa Dua, SAWIT INDONESIA – Aktivitas perdagangan dalam 10 tahun terakhir mengalami fluktuasi di berbagai lini akibat tuntutan tata kelola perdagangan internasional dan dinamika geopolitik. Hal tersebut disampaikan Izzana Salleh, Sekrteris Jenderal, Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), pada sesi konferensi di IPOC 2025, di Nusa Dua – Bali, pada Kamis (13 November 2025).

Lalu, bagaimana dengan perdagangan minyak sawit Indonesia di level global yang memunculkan berbagai perdebatan, meski di sisi lain banyak diperlukan. Sehingga perlu menempatkan minyak sawit pada posisinya dalam konteks komoditas global.

“Di tengah perdebatan yang menyoroti komoditas kelapa sawit, sangat diperlukan sebuah perspektif strategis yang berupaya menjembatani keduanya, perdagangan internasional dan dinamika geopolitik,” kata Izzana.

“Kelapa sawit sebagai komoditas perkebunan perlu dibingkai ulang dalam narasi global menjadi penghubung krusial dalam terwujudnya ketahanan pangan global, transisi energi, dan pembangunan desa,” lanjutnya.

Selanjutnya, Izzana menegaskan untuk merealisasikan reposisi narasi tersebut, terdapat tiga strategi krusial.

“Pertama, produsen maupun industri penunjang lainnya harus memiliki kesatuan narasi dan pernyataan untuk memupuk konsistensi dan kredibilitas kolektif. Hal ini dapat diwujudkan melalui kolaborasi komunikasi dan negosiasi yang terkoordinasi,” jelasnya.

“Kedua, penilaian terhadap sertifikasi keberlanjutan. Seharusnya tidak terhenti pada pemantauan kepatuhan semata, tetapi juga berevolusi menjadi sarana rekognisi terhadap kontribusi dan kemajuan nyata yang telah tercapai. Perubahan persepsi ini juga perlu disokong dengan membangun kepercayaan antara pelaku pasar melalui mekanisme keterbukaan dan inklusi pendanaan demi memastikan seluruh pihak memiliki akses dan informasi yang setara,” imbuh Izzana.

Lalu, tambahnya, yang ketiga, penguatan pasar melalui diversifikasi produk dan eksplorasi peluang pasar baru turut menjadi prioritas.

“Saat ini, volume impor oleh Tiongkok dan Pakistan cenderung tidak stabil, sementara tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) untuk India menurun 0,2%. Pasar Uni Eropa pun merosot hingga 5,3%. Sementara, di sisi lain, kawasan Afrika dan Timur Tengah muncul sebagai pasar potensial dan dinilai berperan penting untuk mengurangi dependensi pada pasar tradisional dan menjamin ketahanan industri sawit di masa depan,” ungkap perempuan yang menjabat Sekretaris Jenderal CPOPC.

Keberhasilan diplomasi komoditas sawit tak dapat dipungkiri untuk kolaborasi antar sektoral, baik dari pemerintah, korporasi, dan investor.

“CPOPC sebagai platform bagi negara produsen menjadi organisasi untuk meningkatkan kolaborasi antar sektor tersebut. Diplomasi sawit bukan semata soal peningkatan neraca, melainkan juga membangun legitimasi dan menciptakan persepsi yang adil di panggung ekonomi global,” pungkas Izzana.

Artikel Terkait