• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

Sawit Lintas Generasi, Saatnya Berkolaborasi

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Hari Sawit memang telah lewat pada 18 November lalu. Namun gaungnya tetap terasa hingga sekarang. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) berkolaborasi mengadakan talkshow interaktif #Sudah Saatnya Kolaborasi Antar Generasi di Epicentrum Walk, Jakarta Selatan, Jumat (10 Desember 2021). Kegiatan ini bagian dari peringatan Hari Perkebunan ke-64 dan Hari Sawit yang dinobatkan pada 18 November. Yang menarik kegiatan ini memberikan kesempatan kepada narasumber lintas generasi untuk berbicara kelapa sawit dari perspektif masing-masing. Narasumber antara lain Achmad Mangga Barani (Dirjen Perkebunan periode 2006-2010), Soedjai Kartasasmita (Begawan Perkebunan), Daniel Manurung (CFO Perusahaan Kelapa Sawit), Achmad Maulizal Sutawijaya (BPDPKS), Goldameir Mektania (Petani Sawit Milenial), dan Fransisca Simanjuntak (Milenial Palm Oil Enthusiast). Dr. Musdhalifah Machmud, Deputi Bidang Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian RI, membuka kegiatan ini yang dihadiri audiens dari kalangan mahasiswa, generasi milenial, dan masyarakat. “Kelapa sawit ini tumbuh di 26 provinsi se-Indonesia dan tersebar di 190 kabupaten/kota. Wilayah sentra kelapa sawit pertumbuhan ekonominya lebih tinggi dua sampai tiga kali lipat,” ujarnya. Musdhalifah mengingatkan bahwa kelapa sawit harus diperjuangkan dan dijaga keberlanjutannya. Kontribusi kelapa sawit bagi devisa mencapai Rp 300 triliun. Itu sebabnya, semua pihak ingin peranan kelapa sawit bagi ekonomi tetap dijaga. “Aspek keberlanjutan menjadi perhatian utama industri sawit. Tidak saja bicara ekonomi terus menerus. Generasi milenial harus tahu kelapa sawit tulang punggung ekonomi Indonesia,” ujar Musdhalifah. [caption id="attachment_26520" align="alignleft" width="1024"] Musdhalifah Machmud menegaskan banyak informasi menyesatkan seputar kelapa sawit. Isu menyesatkan ini merupakan upaya pembodohan bagi generasi muda. [/caption] Ia me negaskan banyak informasi menyesatkan seputar kelapa sawit. Isu menyesatkan ini merupakan upaya pembodohan bagi generasi muda. Sebagai contoh, tekanan NGO terhadap perusahaan ritel furniture terbesar di dunia supaya tidak lagi menjual lilin dari sawit. “NGO ini menuduh 130 ribu orang utan mati karena kelapa sawit. Faktanya populasi orang utan di Indonesia 55 ribu. Lalu dari mana angka 130 ribu ini,” ujar Musdhalifah. Menurutnya kelapa sawit terus diserang setiap tahun. Peran generasi milenial menjawab isu negatif dan mempertahankan kontribusi kelapa sawit bagi Indonesia. “Sudah saatnya kolaborasi antar generasi untuk diteruskan. Generasi milenial dibutuhkan negara agar kelapa sawit tetap ada,” harap Musdhalifah. Eddy Martono, Sekjen GAPKI menjelaskan bahwa Indonesia termasuk konsumen terbesar minyak nabati dunia nomor lima di dunia. Tanpa kelapa sawit, negara ini harus memenuhi kebutuhannya melalui impor. Kebutuhan masyarakat selama 24 jam menggunakan produk-produk berbahan sawit. Eddy menuturkan penggunaan sawit sehari-hari dimulai dari bangun pagi sampai tidur. Dalam pandangan Eddy, tema kolaborasi antar generasi sangatlah tepat karena dibutuhkan penyerahan tongkat estafet dari generasi baby boomers kepada milenial. Anak-anak milenial diharapkan tidak terkontaminasi kampanye negatif. Derom Bangun, Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia periode 2012-2020 menjelaskan bahwa Hari Sawit nasional dicetuskan oleh DMSI yang berasal dari literatur ilmiah dan kajian dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Komersialisasi sawit dimulai pada 1911 di Sei Liput dan Pulu Raja. Sementara di Malaysia, penanaman sawit baru dimulai pada 1916. “Hari Sawit Nasional perlu kita semua melakukan perenungan. Apa yang terjadi di masa lalu dan dilakukan untuk di masa depan. Seperti dikatakan Ibu Musdhalifah, kampanye negatif sawit terus terjadi seperti tuduhan deforestasi,” urainya. Menurut Derom, kampanye negative perlu dijawab melalui serangkaian riset bersama antara pihak dan dalam dan luar negeri. [caption id="attachment_26521" align="alignleft" width="1024"] Eddy Martono, Sekjen GAPKI menjelaskan bahwa Indonesia termasuk konsumen terbesar minyak nabati dunia nomor lima di dunia. Tanpa kelapa sawit, negara ini harus memenuhi kebutuhannya melalui impor.[/caption] Soedjai Kartasasmita mengatakan generasi milenial punya peranan penting dalam menentukan selera dan tren di masyarakat. Sebagai contoh, tren konsumsi kopi sekarang ini ditentukan keinginan anak-anak muda. Bahkan konsumsi teh sudah tertinggal jauh dibandingkan kopi. “Begitupula dengan sawit, kita harus memahami tren anak muda. Itulah sebabnya, berbagai lembaga penelitian diwajibkan menemukan hal baru bersifat inovatif. Anak muda jangan sampai membuat inovasi sawit lalu dipatenkan orang lain,” pesan Soedjai. Cerita menarik datang dari Goldameir Mektania. Setelah lulus kuliah di Belanda, ia sempat berkarir di Jakarta di salah satu perusahaan agency komunikasi. Keinginanan meningkatkan karirnya tidak berlanjut setelah diminta orangtuanya untuk mengurus kebun sawit. Dalam satu pertemuan, Golda diajak berdiskusi dengan ayahnya, JMT Pandiangan, petani sawit yang juga Ketua DPW APKASINDO Kalimantan Tengah.”Saya diminta ayah untuk membantu di kebun sawit. Setelah saya hitung, hasil bekerja di kebun tidak kalah dengan bekerja di Jakarta. Akhirnya saya putuskan menjadi petani sawit,” cerita Golda. Sementara itu, Daniel Manurung bercerita kelapa sawit merupakan komoditas tangguh di saat krisis ekonomi melanda Indonesia. Kelapa sawit menjadi sumber pendapatan andalan bagi petani sewaktu krisis ekonomi 1998. Achmad Maulizal Sutawijaya menjelaskan bahwa Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit juga berperan untuk mengembangkan inovasi generasi milenial melalui berbagai programnya. “Ada program riset dan pengembangan SDM yang dialokasikan kepada generasi muda. Kami ingin hadir dan bermanfaat bagi masyarakat,” paparnya. Sementara itu, Achmad Mangga Barani menuturkan Indonesia telah mempunyai sertifikat sawit berkelanjutan yaitu Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Sekarang ini, ISPO telah diberlakukan kepada perusahaan dan petani sawit. “Harapan saya, generasi muda dapat menjadi pendamping petani sawit. Karena dalam lima tahun mendatang, perkebunan wajib diwajibkan daftar ISPO. Jadi, anak-anak muda ini harus mempersiapkan untuk membantu ISPO,” harap Mangga Barani.

Artikel Terkait