Permintaan minyak nabati dunia diperkirakan terus meningkat hingga beberapa dekade ke depan. Di tengah keterbatasan ekspansi lahan, peningkatan produktivitas kebun menjadi kunci agar Indonesia tetap mampu mempertahankan perannya sebagai produsen utama kelapa sawit global. Namun, produktivitas sawit nasional dalam beberapa tahun terakhir justru cenderung stagnan.
Praktisi dan ahli perkebunan kelapa sawit Marlon Sitanggang dari Best Planter Indonesia menjelaskan bahwa kelapa sawit masih menjadi kontributor terbesar dalam produksi minyak nabati dunia. Dari total produksi global, sawit menyumbang sekitar 87 juta ton, disusul kedelai sekitar 63 juta ton. Permintaan minyak nabati diperkirakan akan meningkat tajam hingga 2050.
“Kelapa sawit tetap memegang kontribusi terbesar. Saat ini ekspansi lahan semakin terbatas, tetapi peningkatan produksi masih sangat mungkin dilakukan melalui intensifikasi dan penerapan best management practice,” kata Marlon dalam diskusi bertajuk “Peningkatan Yield (Ton/Ha) Produksi Sawit” yang digelar melalui Zoom, Sabtu (7 Februari 2026).
Diskusi ini diselenggarakan oleh Jejak Sepatu Planter, sebuah platform edukasi dan informasi yang berfokus pada budidaya kelapa sawit. Platform ini aktif di Instagram dengan username @jejakplanter dan bertujuan melayani serta mengedukasi pelaku di industri perkebunan kelapa sawit. Melalui berbagai konten teknis dan diskusi daring, Jejak Sepatu Planter menjadi salah satu rujukan bagi praktisi yang ingin berdiskusi atau berkonsultasi mengenai aspek teknis pengelolaan perkebunan.
Dalam pemaparannya, Marlon menjelaskan kebutuhan minyak nabati global dan domestik akan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang. Ia memperkirakan pada 2050 Indonesia membutuhkan sekitar 4.569 barel minyak, dengan sektor sawit berpotensi menyumbang 350-400 juta barel.
“Kebutuhan ini sangat besar, baik untuk pasar dalam negeri maupun global. Apalagi sekarang ada program biodiesel yang juga memerlukan peningkatan produksi,” ujarnya.
Produktivitas Stagnan
Meski berstatus sebagai produsen sawit terbesar di dunia, Marlon menilai produktivitas Indonesia belum optimal. Data yang ia paparkan menunjukkan produksi crude palm oil (CPO) nasional dalam beberapa tahun terakhir relatif stagnan.
“Dari 2015 sampai 2024 kita stagnan, bahkan 2024 sedikit turun dibanding 2023. Kita berkutat di angka sekitar 3,3 ton CPO per hektare,” jelasnya.
Padahal pada 2010 produktivitas sawit Indonesia pernah mendekati 3,9 ton per hektare. Setelah itu tren produktivitas justru menurun dan pada 2024 tercatat hanya sekitar 3,4 ton per hektare.
Ia menambahkan, Indonesia memang menjadi produsen terbesar, namun bukan yang paling produktif.
“Produktivitas kita bahkan hanya sedikit lebih tinggi dari Thailand, padahal secara geografis mereka kalah jauh dari Indonesia. Ini menunjukkan masih ada ruang besar untuk intensifikasi produksi,” kata Marlon.
Tantangan Lahan dan Lingkungan
Di sisi lain, ketersediaan lahan perkebunan semakin terbatas. Banyak lahan yang tersisa berada pada kondisi marginal seperti tanah gambut, berbukit, berbatu, hingga tanah berpasir.
Meski demikian, Marlon menilai lahan tersebut masih memiliki potensi peningkatan produksi jika dikelola dengan baik.
“Dengan manajemen yang tepat, lahan marginal pun masih bisa meningkatkan produktivitasnya,” ujarnya.
Selain mengejar produksi, penerapan praktik pengelolaan terbaik juga penting untuk memenuhi standar keberlanjutan di tengah meningkatnya tekanan dari isu lingkungan.
“Ada tuntutan dari lingkungan, masyarakat, dan juga berbagai organisasi nonpemerintah yang sering menyoroti industri sawit. Dengan penerapan best management practice, tuntutan tersebut bisa dijawab,” jelasnya.
Pengalaman Lapangan
Marlon juga membagikan pengalaman pengelolaan perkebunan seluas sekitar 10.000 hektare di Jambi yang sebelumnya tergolong kurang produktif dengan usia tanaman sekitar 10 tahun.
“Setelah kami terapkan best management practice, produksi yang sebelumnya sekitar 10 ton per hektare bisa meningkat menjadi sekitar 20 ton per hektare,” ujarnya.
Dari pengalaman tersebut, pihaknya kemudian merumuskan konsep Best Management Practice (BMP) sebagai penerapan kultur teknis terbaik yang praktis dan sesuai dengan kondisi masing-masing kebun.
“Yang terbaik itu bukan mengikuti kebun perusahaan lain, tetapi yang paling sesuai dengan kondisi lapangan di tempat kita,” katanya.
Tiga Faktor Penentu Yield
Ia menjelaskan bahwa tingkat produksi sawit atau yield merupakan kombinasi dari tiga faktor utama, yaitu genetik, lingkungan, dan manajemen.
Genetik
Berkaitan dengan kualitas sumber bibit dan proses seleksi benih. Bibit yang tidak memenuhi standar harus dimusnahkan agar tidak menjadi beban produksi.
Lingkungan
Meliputi iklim, curah hujan, intensitas cahaya matahari, serta kelembapan yang harus dimitigasi dampaknya melalui teknik budidaya.
Manajemen
Faktor paling menentukan yang mencakup pengetahuan, sarana produksi, serta pengalaman pengelola kebun.
“Pengetahuan di industri sawit bisa berasal dari pendidikan formal, pelatihan, diskusi, konsultan, hingga inovasi internal perusahaan. Semua itu kemudian disatukan menjadi prosedur operasional perusahaan,” ujarnya.
Marlon juga menyinggung konsep yield gap, yakni selisih antara produksi aktual dengan potensi produksi maksimal tanaman.
Kesenjangan ini bisa terjadi akibat berbagai faktor, mulai dari kondisi bibit, lingkungan yang tidak optimal, hingga kesalahan dalam praktik budidaya.
Beberapa faktor utama yang memicu yield gap antara lain cekaman kekeringan, kesalahan dalam pembukaan lahan dan penanaman, serta ketidaktepatan dalam diagnosis dan rekomendasi pemupukan.
Ia juga menyoroti praktik pengelolaan kebun yang terlalu “bersih”.
“Kebun bersih itu justru keliru. Tanah adalah ekosistem hidup dengan berbagai mikroorganisme yang saling berinteraksi,” katanya.
Perlu Dukungan Manajemen Puncak
Dalam penerapan best management practice, Marlon menekankan pentingnya dukungan dari seluruh tingkat organisasi perusahaan, terutama manajemen puncak.
“Training BMP tidak boleh hanya untuk level menengah ke bawah. Harus dimulai dari top management, asisten, sampai pekerja lapangan. Semua harus memahami konsep yang sama,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa peningkatan produksi sawit tidak bisa terjadi secara instan.“Buah yang dipanen hari ini sebenarnya mulai diproses oleh tanaman sekitar 44 bulan lalu. Jadi tidak ada simsalabim di sawit. Semua butuh waktu dan proses,” kata Marlon.
Karena itu, penerapan BMP harus dilakukan secara bertahap dan realistis.“Tidak perlu langsung semua blok dijadikan BMP. Harus berproses. Yang penting penerapannya benar,” ujarnya.






