• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

Sawit, Hutan, dan Kekeliruan Cara Berpikir Kita tentang Banjir

Banjir bandang di Sumatera kembali memicu perdebatan lama: sawit versus hutan alam. Media sosial ramai oleh perbandingan karakteristik hidrologi kebun sawit dengan hutan alam, seolah jawaban atas bencana dapat ditemukan dengan memilih salah satu secara moral. Sayangnya, perdebatan ini sejak awal dibangun di atas fondasi metodologis yang keliru.

Pertama, hampir tidak ada kebun sawit yang dibangun melalui konversi langsung hutan alam primer. Sebagian besar kebun sawit berdiri di atas lahan yang sebelumnya berupa semak, belukar, atau hutan sekunder yang sudah terdegradasi. Karena itu, membandingkan kinerja hidrologi sawit dengan hutan alam bukan hanya tidak relevan, tetapi menyesatkan. Jika ingin jujur secara ilmiah, pembanding yang tepat adalah kondisi tutupan lahan sebelum sawit dibangun, bukan kondisi ideal yang nyaris tidak pernah ada.

Kedua, banyak parameter hidrologi yang dikutip dalam perdebatan publik—seperti koefisien run-off atau kapasitas infiltrasi—pada dasarnya diperoleh dari pengamatan dalam kondisi hujan normal. Ketika dikatakan koefisien run-off hutan alam sebesar 0,1, itu berarti sekitar 10 persen hujan menjadi aliran permukaan dalam kondisi tertentu. Namun angka ini tidak bersifat absolut. Pada hujan sangat ekstrem yang berlangsung lama, tanah—baik berhutan maupun tidak—akan mencapai kejenuhan. Setelah itu, hampir seluruh hujan akan menjadi run-off. Dalam kondisi seperti ini, keunggulan hidrologis berbagai tutupan lahan runtuh secara bersamaan. Mengabaikan fakta ini berarti memaksakan model normal ke dalam situasi ekstrem.

Ketiga, kebun sawit umumnya dibangun di wilayah dataran rendah, di bawah 400 meter di atas permukaan laut, dengan topografi relatif ringan. Dalam konteks perencanaan wilayah, kawasan ini memang ditujukan sebagai kawasan budidaya. Jika wilayah-wilayah tersebut tidak dimanfaatkan secara produktif, daya dukungnya terhadap kehidupan manusia akan sangat rendah. Sawit, dengan segala keterbatasannya, telah menjadi tulang punggung ekonomi jutaan orang. Tanpa sawit, tekanan sosial dan kemanusiaan dapat muncul jauh sebelum banjir bandang terjadi.

Keempat, perdebatan ini memperlihatkan kecenderungan berpikir yang kurang sehat: melihat sawit secara biner, ya atau tidak. Padahal, kenyamanan hidup banyak orang—baik di kota maupun di desa—ditopang oleh rantai ekonomi yang sebagian besar bersumber dari sawit, langsung maupun tidak langsung. Banjir bandang akibat cuaca ekstrem adalah peristiwa yang jarang, tetapi tidak dapat dielakkan sepenuhnya. Menghadapi peristiwa seperti ini dengan logika “sawit bersalah atau tidak” justru menutup ruang untuk memahami persoalan yang lebih kompleks.

Esai ini bukan pembelaan buta terhadap sawit, apalagi pengingkaran terhadap penderitaan korban banjir. Ini adalah ajakan untuk berpikir lebih jernih. Bencana ekstrem membutuhkan analisis ekstrem yang proporsional, bukan perbandingan dangkal yang memuaskan emosi sesaat. Selama kita terus menyederhanakan persoalan lingkungan menjadi hitam-putih, kita akan terus berputar dalam kemarahan yang tidak menghasilkan perbaikan nyata.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya “siapa yang salah” dan mulai bertanya “di mana cara berpikir kita keliru”.

Artikel Terkait