• Minggu, 4 Oktober 2026
Sosok

Sahat Sinaga Yang Out of The Box

Pada 15 April 2026, Sahat Sinaga meluncurkan buku berjudul Dari Loyang Jadi Emas. Buku setebal 230 halaman ini menguraikan perjalanan lulusan ITB Teknik Kimia ini. Dari masa kecil, keluarga, karir, dan gagasannya yang revolusioner. Ayah tiga anak ini selalu berpikir out of the box dan melampaui zaman, apa sebabnya?

Menteri PPN/Kepala Bappenas RI, Prof. Rachmat Pambudy masih ingat pertemuan pertama dengan Sahat Sinaga. Sekitar awal 1990-an bersama Prof. Bungaran Saragih, dirinya mengunjungi fasilitas produksi minyak goreng sawit berwarna merah. Saat itu, kata Prof. Pambudy dalam pengantar buku, menyebutkan warna minyak goreng yang dijual ke masyarakat cenderung berwarna kuning. Belum ada yang berwarna merah.

Pertemuan awal tersebut membawa kesan bagi Prof. Pambudy.”Sahat Sinaga sosok lugas, berapi-api, dan sangat percaya diri,” ujarnya.

Perjalanan karir Sahat Sinaga sangatlah moncer. Sewaktu bekerja di Grup Bakrie sekitar periode 1986, Sahat menyandang jabatan sebagai General Manager.

Aburizal Bakrie, Pemilik Grup Bakrie, mempercayakan Sahat untuk mengelola bisnis asbes. James Hardy, pengusaha asal Australia, menjualnya kepada Bakrie.

Strateginya sangat sederhana tapi berani. Caranya menerapkan Cash Flow Engineering. Pembayaran kepada supplier dan kontraktor diperlambat. Di sisi lain, penagihan dilakukan lebih cepat.”Tagihan saya perkencang. Sehingga ini numpuk, mutar. Lalu dipakai melunasi (utang),” jelasnya.

Lantaran stigma asbes kala itu negatif dari aspek Kesehatan. Dirinya melakukan kampanye edukasi. Setiap rumah sakit, Perumnas, dan calon pengguna potensial asbes didatangi.”Dampaknya tidak ada lagi protes publik.”

Kombinasi pengelolaan keuangan dan upaya edukasi berdampak positif. Pinjaman Bank senilai Rp 40 miliar dapat dilunasi. Hanya butuh 2,5 tahun.”Padahal direksi Bakrie menargetkan tiga tahun,” kenang Sahat dalam buku tersebut.

Capaian spektakuler ini membuat Aburizal Bakrie takjub.”Setelah itu, saya ditarik ke pusat, jadi Direktur Bakrie and Brothers Holding,” ujar Sahat penuh bangga.

Sahat diangkat menjadi Direktur Infrastruktur yang membawahi Bakrie Pipe Industry, Bakrie Building Industry, Bakrie Construction, dan unit metalurgi pembuatan flywheels dan break drum Mitsubishi.

“Tak hanya jabatan, Pak Ical (red-panggilan akrab Aburizal Bakrie) menghadiahi rumah,” kenangnya sambil tersenyum.

Pesan Sang Mentor

Jauh sebelum Sahat berkarir di Grup Bakrie. Unilever menjadi sekolah terbaik bagi pria kelahiran Samosir ini. Keberanian dan daya inovasinya mulai terasah. Pesan dari Nieuwenhuis, Pimpinan Unilever sekaligus mentornya menjadi pegangan utama.

Sahat ingat betul perkataan mentornya,”Jangan percaya begitu saja pada yang ada sekarang. Coret kata ‘No’. Coret kata ‘Impossible’. Selalu ada jalan untuk bikin lebih baik.”.

Perjalanan Sahat ke berbagai negara juga membentuk prinsip dan kemampuannya.”Kalau engineer yang tidak pernah keluar negeri cenderung sempit cara berpikirnya. Sementara itu, engineer yang pulang dari negara lain membawa perspektif baru, siap menantang status quo.”

Di sisi lain, Sahat belajar dari industri lainnya, bahwa kegagalan bukanlah malapetaka. Justru bila ada kreativitas, produksi yang dihasilkan malahan menjadi peluang baru. Pabrik deterjen, dapat dijadikan contoh, ketika berencana menghasilkan powder form tapi selalu gagal lantaran adanya semprotan cairan dari drying/prill tower.

“Tapi mereka (pabrik deterjen) belajar dari kegagalan, akhirnya jadilah sabun colek yang merebut pasar deterjen lebih luas,” tambahnya.

Berani angkat kepala, berani berpikir beda, dan belajar dari kegagalan. Itulah kuncinya, sebagaimana dituliskan Sahat dalam bukunya.

Prinsip itulah yang membuat Sahat resign dari Unilever. Banyak orang terkejut atas pilihan tersebut. Namun ia memang beda. Baginya martabat di atas segalanya ketimbang jabatan.

Revolusi Industri Sawit

Di halaman 197, Sahat menceritakan pengalamannya bersama Darmono Taniwiryono, Ketua Umum MAKSI. Dalam sebuah diskusi, sepasang tamu dari Afrika mengatakanYour oils is only chemicals. No taste and no texture.

Baik Sahat dan Darmono bertatapan bingung. Sahat pun sadar bahwa persoalan tekstur sawit tidak terlepas dari perjalanan sejarah. Bangsa Eropa ingin membuat minyak sawit lebih bersih berwarna kekuning-kuningan. Permintaannya tegas: minyak sawit boleh bau dan steril dari penyakit. Dibuatlah teknologi menghilangkan kandungan asli minyak sawit. Caranya menerapkan teknologi sterilisasi (wet process) dan physical refining. Warisan satu abad lalu masih dipertahankan dan dipakai pabrik sawit di Indonesia.

Di Eropa, Sahat menjelaskan, fungsi minyak sawit dibuat mirip lemak ikan dan lemak binatang. Tujuannya sebagai bahan baku pangan dan energi penerangan.

“Emasnya habis. Hanya tersisa cairan kimia. Loyang,” lirih Sahat dalam bukunya.

Ucapan tamu dari Afrika tersebut sulit dilupakan. Sahat merasa gelisah. Teknologi usang peninggalan Belanda harusnya dihilangkan. Perlu dicari inovasi baru pengolahan buah sawit. Tujuannya menjaga kandungan gizi di dalam minyak sawit.

Pertemuannya dengan Bambang Brodjonegoro, Menristek periode 2019-2021, mengurangi kegelisahannya.”Masak iya cuma Pak Sahat berpikir seperti itu di dunia ini? Pasti ada orang lain berpikiran sama,” kata Bambang.

Sahat pun mulai mencari. Pencariannya menemukan titik terang sewaktu datang ke Thailand. Ada teknologi pengolahan sawit melalui udara panas. Tanpa uap dan tekanan tinggi. Pelaku industri sawit di Thailand menerapkan dry process untuk mengolah buah sawit menjadi minyak.

Berpijak dari temuan tersebut. Sahat melahirkan gagasan sederhana Bernama PaMER (Pabrik Minyak sawit Emisi karbon Rendah).”Nama ini biar mudah diingat.”

PaMER adalah terobosan baru pengolahan sawit. Tanpa steam sterilizer dan menghilangkan limbah cair. Cocok bagi petani rakyat. Lantaran kapasitas pengolahannya 20 ton TBS per jam.

Bagi Sahat, petani adalah masa depan Indonesia. Sawit akan tumbuh dari kebun dan pabrik kecil.

“Saatnya petani jadi subjek dan sawit menjadi emas,” urai Sahat bersemangat.

Peluncuran Buku Dari Loyang Jadi Emas-Kisah Sahat M.Sinaga dan Perjuangan Membuat Sawit Indonesia Lebih Bernilai bukanlah akhir dari pemikiran. Masih banyak pekerjaan rumah untuk menyelesaikan berbagai keresahannya. Di masa depan, Sahat ingin sawit selayaknya emas. Membawa manfaat dan nilai tambah besar bagi Indonesia khususnya anak muda. Kutipan testimoni Dr. David Jewell, Engineering Director of Formula 1 sangatlah tepat menggambarkan Sahat Sinaga. His remarkable career is a testament to what can be achieved when passion intersects with purpose, and his legacy will undeniably shape the future of the palm oil industry for generations to come.

Artikel Terkait