Bogor, SAWIT INDONESIA - Rektor IPB University Arif Satria, di hadapan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyampaikan pihaknya bersama Holding Perkebunan Nusantara melakukan kajian potensi intercropping padi gogo di lahan peremajaan kelapa sawit.
"Pagi gogo untuk lahan kering dapat ditanam di lahan peremajaan kelapa sawit. Dari lahan sawit yang mencapai hampir 17 juta ha, dan kira-kira 4% dari lahan tersebut (470 ha) untuk lahan replanting (peremajaan). Apabila lahan replanting tersebut ditanami Padi Gogo berpotensi meningkatkan produksi besar mencapai 1,1 juta ton," kata Arif Satria di acara seminar nasional dengan tema "Potensi Intercropping Padi Gogo di lahan PSR untuk Mendukung Swasembada Beras", yang diadakan di Bogor, pada Selasa (19 November 2024).
"Jadi, angka 1,1 juta ton tersebut hal yang sangat membanggakan, karena bisa meningkatkan sebagai upaya mencapai swasembada pangan," imbuhnya.
Menurut Arif penanaman padi gogo ini bisa dilakukan di lahan sawit yang dikelola perusahaan dan petani (rakyat). "Dalam waktu dekat (pekan depan), kami (IPB University dan Holding Perkebunan Nusantara) akan melakukan ujicoba penanaman padi gogo di lahan 20 ha, lahan peremajaan sawit di daerah Siak, Riau. Kalau upaya ini berhasil, mungkin salah satu opsi kebijakan mewajibkan para pelaku usaha sawit (perusahaan) dan petani, dalam masa peremajaan bisa menanam padi gogo," jelasnya.
"Jadi, kalau aksi ini (penanaman pagi gogo) dilakukan oleh perusahaan, saya kira beban pemerintah akan semakin ringan dalam upaya mencapai swasembada pangan. Sebab, penanaman padi gogo di lahan peremajaan sawit berpotensi produksi mencapai 1,1 juta ton. Namun, tidak bisa dilakukan sendiri, IPB bersama PTPN, IPB bersama seluruh komponen termasuk petani untuk bersama-sama melaksanakan program ini," tambah Arif.
"Ini adalah ide yang perlu diwujudkan, tidak hanya sekedar berwacana harus di-follow up dan harus diwujudkan dengan aksi di lapangan," sambungnya.
Ekstensifikasi lahan untuk penanaman padi gogo menjadi hal yang mendesak karena sebagai kompensasi hilangnya sawah produktif di Jawa, perlu stok beras, mengejar posisi sebagai lumbung pangan dunia, potensi yang ada di lahan sawit dapat dimanfaatkan hingga TBM 3 tahun I.
Untuk memanfaatkan potensi yang ada di lahan sawit, dapat diterapkan intercropping padi gogo di lahan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Hal ini memungkinkan tercapainya swasembada pangan dengan produksi beras mencapai rata-rata >1,8 Juta ton/tahun. Luasan PSR pada tahun 2025 – 2031 adalah 400rb Ha/tahun dan setelahnya berada di angka 300rb Ha/tahun (2032-2034).
Keberhasilan terlaksananya swasembada pangan melalui intercropping di lahan PSR memerlukan dukungan dan komitmen para pihak sebagai ekosistem yang menjamin tersedianya inovasi, sarana dan prasarana produksi (ketersediaan benih, penyediaan pupuk dan alsintan), pendanaan, dan kepastian penyerapan hasil (off-takers) serta dukungan penyesuaian regulasi.






