Bengkulu, SAWIT INDONESIA — PT Bumi Raflesia Indah menyambut baik kehadiran 156 pekebun kelapa sawit dari Kabupaten Mukomuko dan Bengkulu Utara yang melakukan kunjungan lapangan ke areal perkebunan perusahaan, Senin (31 Agustus 2026).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit serta Teknis Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit yang diselenggarakan pada 27 Agustus–1 September 2026 di Bengkulu. Pelatihan ini merupakan rangkaian Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).
Bagi PT Bumi Raflesia Indah, kunjungan ini bukan sekadar kegiatan melihat praktik perkebunan, melainkan kesempatan untuk menjadikan kebun perusahaan sebagai ruang belajar sekaligus membangun pertukaran pengetahuan dengan para pekebun.
Kepala Kebun PT Bumi Raflesia Indah, Agustinus Hutasoit, mengatakan pihaknya terbuka menerima peserta pelatihan untuk melihat secara langsung bagaimana kegiatan teknis perkebunan dijalankan di lapangan.
“Mari kita belajar bersama di PT Bumi Raflesia Indah ini. Ketika memang ada yang baik dari sini, harapannya bisa menjadi yang diimplementasikan bagi Bapak dan Ibu sekalian,” ujar Agustinus.
Menurutnya, pembelajaran di lapangan penting karena peserta dapat melihat secara langsung penerapan berbagai materi yang sebelumnya diperoleh selama pelatihan. Dalam kunjungan tersebut, peserta diajak mengamati sejumlah kegiatan teknis, terutama pemupukan, panen, serta penanganan hasil panen atau pascapanen.
Dengan demikian, materi yang diberikan selama pelatihan pada 27 Agustus–1 September tidak berhenti pada pembelajaran di ruang kelas. Peserta mendapat kesempatan membandingkan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan dengan praktik pengelolaan perkebunan yang berlangsung secara nyata di lapangan.
PT Bumi Rafflesia Indah sendiri memiliki areal perkebunan sekitar 396,67 hektare. Pengelolaan kebun dilakukan dengan mengacu pada standar operasional prosedur (SOP) dan budaya kerja yang diterapkan perusahaan.
Namun, Agustinus menilai setiap kebun memiliki kondisi dan pendekatan pengelolaan yang berbeda. Oleh karena itu, praktik yang diterapkan perusahaan tidak selalu harus dianggap sebagai satu-satunya acuan.
Justru, menurut dia, kehadiran para pekebun dan instruktur dapat menjadi kesempatan bagi perusahaan untuk memperoleh pengetahuan maupun perspektif baru.
“Belum tentu yang sudah kami aplikasikan sudah sesuai. Ataupun mungkin akan ada ilmu-ilmu baru. Ini akan menjadi kolaborasi yang baik khususnya buat kami,” kata Agustinus.
Ia menegaskan, perusahaan tidak menempatkan kegiatan tersebut sebagai proses satu arah. Peserta memang mendapatkan kesempatan belajar dari praktik di kebun perusahaan, tetapi PT Bumi Raflesia Indah juga terbuka menerima masukan dari pekebun maupun instruktur yang mengikuti program SDMP 2026.
Keterbukaan tersebut dinilai penting untuk mendorong perbaikan berkelanjutan dalam pengelolaan perkebunan. Dengan demikian, kunjungan lapangan tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta, tetapi juga dapat menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran bagi perusahaan.
“Kalau ada yang kurang dan ada yang menjadi masukan, kami sangat terbuka. Harapannya, ke depan ini juga akan menjadikan kebun kami lebih baik,” ujar Kepala Kebun PT Bumi Raflesia Indah.
Dari sisi pengelolaan sumber daya manusia, PT Bumi Raflesia Indah saat ini memiliki sekitar 70 karyawan, termasuk jajaran pengelola kebun. Dengan luas areal kurang dari 400 hektare, pendampingan peserta selama kunjungan dilakukan secara terbatas dan disesuaikan dengan sumber daya yang tersedia.
Agustinus menjelaskan, peserta akan didampingi untuk melihat secara langsung teknis pekerjaan di lapangan. Sementara itu, untuk materi tanaman belum menghasilkan (TBM), perusahaan tidak memiliki areal yang dapat dijadikan contoh karena kondisi kebun saat ini.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi nilai pembelajaran dari kunjungan. Peserta tetap dapat melihat bagaimana prinsip-prinsip teknis yang dipelajari di kelas diterapkan pada tanaman menghasilkan, khususnya dalam kegiatan pemupukan, panen, dan pascapanen.
Kunjungan ke PT Bumi Rafflesia Indah sekaligus memperkuat pendekatan pembelajaran dalam Program SDMP 2026, yakni menghubungkan teori dengan kondisi nyata di perkebunan.
Bagi 156 pekebun dari Mukomuko dan Bengkulu Utara, pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi referensi dalam meningkatkan pengelolaan kebun masing-masing. Sementara bagi perusahaan, interaksi dengan pekebun dan instruktur menjadi ruang untuk berbagi pengalaman serta menerima masukan baru.
Dengan membuka kebun sebagai ruang belajar, PT Bumi Raflesia Indah menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi pekebun membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Perusahaan tidak hanya menjadi pelaku usaha perkebunan, tetapi juga dapat mengambil peran dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan mendorong perbaikan praktik perkebunan kelapa sawit di Bengkulu.














